Almost 30 Notes

Akhirnya sampai juga pada usia ini, dimana setahun yang akan datang adalah usia yang sama dimana nyokap ngelahirin aku. Lalu jadi apa aku sekarang? Boleh dibilang belum ada pencapaian yang cukup berarti selain gelar master yang aku capai 2 tahun yang lalu dan komentar kagum orang sekitar tentang hobby travellingku di tahun kemarin. Sisanya semua berjalan datar-datar saja, karir masih gonjang-ganjing, pasangan hidup masih belum ketemu.

Namun, satu hal yang aku sadari di hari ini adalah aku begitu bersyukur punya keluarga yang begitu penuh perhatian dan teman-teman yang datang silih berganti. Semakin kesini, semakin banyak teman yang aku temui, aku pun semakin menyadari bahwa ada teman yang memang hadir untuk pergi sejenak dan kembali lagi, ada teman yang cuma melangkah sejenak dan meninggalkan jejak tanpa pernah kembali lagi, dan ada juga yang selalu hadir setiap saat buatku. Aku tidak perlu takut lagi kehilangan mereka, karena aku hanya perlu belajar untuk menerima bahwa tidak semua orang bisa menerima kita apa adanya, dan tidak semua orang bisa kita terima apa adanya. Meskipun untuk menyadari semua itu kita perlu melewati sebuah titik dimana kepercayaan itu menjadi barang mewah buat kita.

Seperti yang pernah aku sebut dulu, keluargaku adalah sebuah ensiklopedia kehidupan yang menunjukkan padaku banyak hal. Setiap topik dan issue hangat di keluarga selalu membuatku belajar satu hal baru entah itu untuk kehidupanku sekarang ataupun untuk masa depanku.

Well, di usia yang buat kebanyakan wanita tabu untuk diucapkan ini aku sudah merasa cukup atas apa yang aku miliki sekarang. Rasa cukup yang melapisi rasa syukur karena mungkin aku punya apa yang orang lain tidak punya. Untuk itulah aku tidak berharap yang macam-macam di usia yang akan datang ini. Aku hanya ingin menjadi manusia yang lebih baik lagi, manusia yang lebih disiplin, dan manusia yang lebih layak untuk diperjuangkan.

Welcome new decade. Hope to doing something big this year.

 

Hello 2016!

Well, ini postingan pertama aku di tahun ini sekaligus menjadi postingan pembuka. Kalau bicara soal tahun baru, pasti yang jadi menu utama adalah refleksi dan resolusi. Untuk refleksi selama 2015 tidak banyak yang bisa dibicarakan karena 2015 terasa begitu cepat berlalu.

Januari

Tahun baru, semangat baru. Namun aku mulai berasa jenuh di kantor dengan beberapa pencetusnya. Well, hal baik yang terjadi di bulan ini adalah aku bisa ketemu dengan teman-teman SMA full team.

Februari

Chinese New Year and Baby Pauline 1st bday celebration. Belajar banyak di bulan ini, terutama mengenai toleransi dalam berkeluarga. Pertama kalinya juga aku ngerasain Chinese New Year di Jawa sama keluarga mama.

Maret

Bulan paling parah dengan berbagai ketegangan di kantor. Sebuah sesi interview di bulan ini membuat aku belajar mengenai perubahan dan segala konsekuensinya. Di sisi lain aku juga belajar mengenai tanggung jawab dan resiko pekerjaan.

April

Family trip to China. Yeay! First trip aboard with my whole nuclear family. Hong Kong, Guang Zhou but unfortunately we can’t go to our ancestor village due to high traffic in holiday season. Hope to fulfill it on another trip next year.

My bday spending with office mate and Vici+Sushi. Di bulan ini juga aku resmi membeli sebuah rumah yang ditandai dengan penandatanganan PPJB. Pembelian rumah yang di akhir tahun begitu aku syukuri karena dengan ini aku belajar untuk menabung. Really thanks to my Koko who encourage me to buy this house.

Sebuah tanggung jawab besar di kantor datang melanjutkan ketegangan di bulan sebelumnya. Alhasil hal ini menyebabkan stress tingkat tinggi berlanjut. Berkat hal ini, bulan April tahun ini terasa begitu berbeda. Ada kekecewaan yang tidak bisa terlukiskan dengan kata-kata yang pada akhirnya menjadi sebuah pelajaran bearti buat aku. Kadang memang niat baik kita tidak selamanya dipandang sama oleh mereka yang menerimanya. Kita hanya perlu ikhlas dengan apapun hasilnya.

Mei

Stres tingkat tinggi karena keadaan kantor masih berlanjut namun sedikit terobati karena business trip ke Bali yang membuat aku semakin mengenal beberapa staf di Bali. 2 bulan terakhir ini terasa lelah yang berkepanjangan, otak dan hati seolah tidak berhenti bekerja.

Juni

Temanya masih fokus ke kantor karena gak banyak yang aku lakukan selain urusan kantor. Sebuah pencarian jati diri kembali menjadi fokus utamaku. Seolah aku menjadi hilang arah sejak masalah bertubi-tubi di kantor.

Juli

Mudik holiday yang berakibat macet di perjalanan pulang. But it was our first time using the new toll road.

Selain itu, berbagai pertanyaan tentang jati diri dan tujuan hidup masih menjadi bahasan utama di bulan ini. Seolah aku diingatkan lagi untuk kembali berpegang pada tujuan hidup ketika menghadapi situasi perubahan.

Agustus

Bulan ini banyak aku habiskan dengan menggunakan mesin pencari di google. Mulai dari hotel sampai handphone. Yup karena bulan ini aku mulai proses visa buat ke korea sambil cari-cari penginapan dan nyusun itinerary-nya.

Di bulan ini juga ada banyak pemikiran terkait masa depan, tentang melangkah lebih jauh atau diam di tempat.

September

Going to Bali for another business trip kelanjutan dari business trip di bulan Mei. Akhirnya yang aku takutin kejadian juga. Tapi untungnya semua masalah di Bali ini sudah selesai.

Oktober

My Travel month. Boracay, Korea, Bali here I come! Petualangan di Boracay dan Korea yang membuatku serasa seperti menemukan diri aku yang dulu. Rasanya seneng banget bisa ngerasain cuaca dibawah 10 derajat celcius. Pake coat, syal, sarung tangan. Really throwback Beijing, meskipun ini di Seoul. Perjalanan ini menjadi berkesan karena autumn di Korea ini menjadi bertolak belakang sekali dengan cuaca di Boracay yang ketika itu panas banget.

Pulang dari jalan-jalan ini aku langsung disibukkan dengan persiapan ke Bali di akhir bulan bersama dengan teman-teman kantor. How I Love the beach. Selain itu juga di akhir bulan ini aku menyusun itinerary planning ke Malang di awal tahun 2016.

November

Something unexpected happened this month. Setelah berbagai euphoria di bulan Oktober, ada dua hal mengganjal menjelang akhir November. Pokoknya bulan ini complicated banget dah, tapi fokusnya lebih ke diri sendiri bukan lagi ke urusan kantor. Sebuah ketakutan dan kekecewaan terjadi hampir berbarengan. Setidaknya bulan ini aku diingatkan bahwa kepercayaan itu penting banget dan harus dijaga baik-baik. Selain itu, dalam hidup kita juga harus open mind dengan segala hal yang kita temui.

Desember

Re-visit Dufan again after years with my office-mate. Dufan yang banyak berubah, namun servicenya malah semakin parah. Jadi inget masa-masa research team Dufan.

Di bulan ini juga ada beberapa panggilan dari masa lalu yang kembali muncul. All about future, dan yang pasti membuat dilema. Lagi-lagi aku kembali harus open-mind terhadap semua ini.

Thank you for this sweet experience and because of whatever happened in 2015 I can have some new resolutions for 2016.

  1. Visit another island in Indonesia beside Java, Sumatra, and Bali. Hopefully it will be Kalimantan on May.
  2. Visit Beijing with my parents. Hopefully it will be on October or November.
  3. Have a settle career and Job and begin to think about investment in hospitality area.
  4. Buy a car that suits my daily life.
  5. Begin to write again.
  6. Learn to focus with health and spiritual life.
  7. To fullfilling my unfullfilled wish a.k.a resolusi berlanjut.

 

Let’s welcome 2016. Let’s make it a remarkable year.

Thank you for my surrounding and all great people spending this year with me.

Thank You October!

Mengawali October dengan travelling dan mengakhirnya juga dengan travelling. Banyak yang bisa dipelajari dari trip aku selama bulan October ini, banyak juga hal baru yang aku alami selama bulan ini. Yang jelas rasa syukur, dan rasa kecewa bercampur aduk selama bulan ini.

Perjalanan ke Filipina dan Korea di awal bulan ini, seolah memunculkan lagi semangat aku. Seolah perjalanan ini membuat aku menemukan kembali diriku yang dulu. Suasana Korea yang tidak berbeda dari Beijing cukup mengobati rasa kangenku terhadap Beijing. Pergi bertiga dengan orang yang baru aku kenal selama kurang lebih setahun, ternyata aku bisa belajar banyak dari mereka. Mencoba untuk melengkapi dan memahami kekurangan kelebihan masing-masing.

Well, aku tidak pernah berharap ataupun berkeinginan untuk pergi ke Filipina dan Korea (tidak dalam waktu dekat). Lalu tiba-tiba aku pun sudah mengantongi tiket untuk pergi ke dua negara tersebut. So, that is it, sebuah perjalanan yang tidak pernah aku bayangkan dan berakhir dengan cukup menyenangkan. Meskipun akhirnya aku harus berkata bahwa kunjungan sekali tidaklah cukup. Whuaaa.. really hope to visit those country next time.

Lalu, aku menutup bulan ini dengan perjalanan ke Bali untuk acara outing kantor. Dan akhirnya aku bisa merefresh otakku dan memasuki bulan baru seolah tanpa beban. Well, segalanya terasa begitu ringan, sepertinya semua beban, racun, dan pikiran negatif ikut hilang bersama dengan keringat yang keluar selama perjalanan di Bali. Boleh dibilang, dari 3 perjalanan ke Bali yang aku lakukan di tahun ini, yang kali ini terasa sangat berbeda. Mulai dari persiapannya sampai dengan selesainya acara ini, aku belajar banyak hal baru. Lagi-lagi aku juga harus menjadi kepala rombongan yang memastikan semua berjalan sesuai rundown. Untungnya ada tim yang ok punya. Tim yang sangat all-out dan berdedikasi pada pekerjaannya masing-masing.

Well sepertinya bulan Oktober ini benar-benar menjadi bulan yang sangat travellous (traveling dan adventurous). Thank you October for bringing me to see the other part of the world and I’m ready for the next trip.

 

Let’s Googling Indonesia!

Di hari Kemerdekaan Indonesia yang ke 70 tahun ini, kita bisa lihat simbol Google dengan merha putih seperti di bawah ini:

Screenshot 2015-08-17 20.56.48Google sepertinya saat ini sudah menjadi sahabat masyarakat Indonesia, setidaknya sebagian besar anak sekolah, kuliah dan para pekerja sudah sangat terbiasa untuk mencari jawaban akan sesuatu melalui google. Kebiasaan ini pun meningkat tidak hanya untuk mencari jawaban saja, tapi juga mencari barang yang ingin di beli.

Akhir-akhir ini pun aku sering melakukan aktivitas ini, mulai dari cari berita-berita yang lagi hangat, cari kalimat atau benda yang aku belum tahu, sampai beli barang dan juga cari hotel. 2 hal yang lagi sering aku lakukan sekarang adalah cari hotel dan compare hotel yang paling match kriteri, satunya lagi adalah cari handphone. Really tired but I got so many things . Sama seperti cara kita menjalani hidup, kita perlu membatasi terlebih dahulu apa yang ingin kita cari sebelum kita tenggelam dalam lautan informasi yang ditawarkan internet. Begitu banyaknya informasi yang tersedia di sana, kadangkala membuat kita jadi lupa dengan tujuan awal kita.

Dalam kehidupan sehari-hari, kadang kala kita terlalu terlena dengan kehidupan yang kita jalani sekarang sampai kita lupa dengan tujuan awal kita. Ada yang bilang kita terlalu terlena dengan zona nyaman yang tidak memberanikan kita untuk melangkah. Sesuai dengan slogan di logo kemerdekaan RI tahun ini “Ayo Kerja”, maka kita pun harus terus mengasah kemampuan untuk berani melangkah dari keterlenaan.

Dirgahayu Indonesia! Let’s Googing!

Farewell Bali’s Team

Bali selalu meninggalkan pelajaran dari setiap kunjunganku ke sana, entah itu untuk liburan ataupun untuk kerja. Sekitar akhir bulan Mei kemarin aku mendadak harus pergi ke Bali untuk sebuah Impossible Mission. Aku sudah mendapat beberapa cerita mengenai tanggapan team Bali tentang misi yang akan kujalankan ini. Boleh dibilang, pada akhirnya misi ini gagal dan aku hanya bisa mengigit jari melihat segala sesuatu yang akhirnya terjadi.

Ketika itu, aku sedang berada di dalam tahap paling hetic sepanjang aku kerja, bahkan aku pun kehilangan semangat untuk menulis ataupun melakukan aktivitas lain yang bisa menenangkan pikiranku. Saat itu aku hanya berpikir bahwa aku butuh liburan, aku butuh hiburan, aku butuh menarik diri sejenak dari semua kegilaan itu. Maka pergilah aku ke Bali dengan mendadak untuk urusan kerjaan. Rencana awal aku akan pergi Jumat dan pulang Sabtu, namun apa daya harga tiket yang gak manusiawi buat seorang pegawai sekelas aku akhirnya aku pun pergi di Kamis malam untuk pulang di Jumat malam. Dengan banyak dorongan dari beberapa orang, akhirnya aku memutuskan untuk pulang di hari Sabtu.

Misi aku kali itu terlaksana, hanya menyampaikan beberapa hal kepada team di sana yang meskipun membuat mereka kecewa dan berteriak. Dulu sekali,sekitar setahun yang lalu, aku ke Bali dan aku memuji team di sana karena mereka itu sangat profesional, mereka itu bekerja dengan penuh semangat. Tapi nyatanya mereka pun berubah, mereka tidak lagi seperti itu, ada banyak tuntutan sana-sini. Ketika perusahaan menutut lebih dari karyawan, maka karyawan pun akan berlaku sama. Ketika perusahaan tidak bisa memberikan sesuai dengan keinginan karyawan, maka karyawanpun akan bereaksi. Hal inilah yang akhirnya terjadi karena misi yang aku jalankan di sana ternyata tidak sesuai dengan harapan mereka.

Dengan bersedih hati, aku pun terpaksa melepas beberapa orang terbaik ku di sana. Orang yang pada akhirnya memilih mundur untuk sebuah misi yang membuatku sempat kehilangan kehidupan normalku.

Terima kasih untuk segala hal yang telah kita lewati, terima kasih untuk segala hal yang meskipun sulit tapi tetap harus kita lewati. Terima kasih untuk pernah menjadi team yang aku banggakan.

pesta ini pun harus bubar meskipun dengan akhir yang seolah menamparku. But Life must go on.

Such a Big Dillema

Orang bilang hidup itu pilihan, kita bebas memilih apa yang ingin kita lakukan dalam hidup.

Hidup itu tidak lama, berjalanlah untuk memaknai setiap langkah yang kita ambil, setiap tindakan yang kita lakukan. Setelah obrolan panjang di malam itu dan malam-malam sebelumnya, akhirnya aku menemukan kembali serpihan-serpihan yang hilang dari kehidupanku. Semangatku yang dulu ketika pertama aku memutuskan ambil kuliah, semangatku ketika aku berjuang menuntaskan skripsi. Boleh dibilang aku seperti menemukan kembali hidupku. 2 bulan kemarin menjadi bulan terberat untukku, dan aku pun tidak tahu kalau ternyata keputusan ini menjadi begitu sulit. Umur yang sudah berada di penghujung kepala dua dan berbagai kesempatan yang aku lihat di luar, beserta segala macam kejanggalan yang aku lihat di tempat kerja sekarang sepertinya membuat aku semakin sulit untuk menentukan. Walk away or try harder. Seperti yang dikatakan seorang temanku, bahwa ketika aku bisa melewati masa ini, artinya aku bisa menaikkan levelku. Membangun sebuah perusahaan menuju ke-profesionalan, mengelola perubahan dalam sebuah perusahaan. Seperti mimpi aku selama ini, seperti yang ada dalam bayanganku ketika aku lulus. Namun, sayangnya ada banyak kondisi yang membuat aku berpikir mungkin di sini bukan tempat yang tepat. Seolah aku perlu mematikan hati nurani untuk dapat bekerja disini. Entah aku yang terlalu naive atau aku yang belum memiliki pengalaman, namun sepertinya aku menjadi manusia kejam disini.

Lantas aku pun teringat dengan kisah algojo yang bertugas untuk mengesekusi hukuman mati para tersangka narkoba beberapa waktu yang lalu. Apakah mereka bisa menolak tugas tersebut, apakah mereka merasa menjadi manusia yang kejam dengan menjalani tugas itu? Well, hidup itu memang pilihan, tapi apa algojo tersebut bisa memilih untuk tidak melakukan hukuman mati itu? Biar bagaimanapun, hukuman mati itu adalah bagian dari tugasnya, profesionalisme nya.

Kadang tuntutan profesionalisme membuat kita lupa banyak hal, lupa dengan kodrat kita sebagai manusia yang harus saling menyayangi dan saling membantu, lupa dengan tujuan hidup kita, bahkan kita bisa menjadi pribadi yang berbeda sepenuhnya. Namun, itulah profesional yang sesunguhnya, ketika kita bisa bersahabat dengan orang-orang yang kita tindak di jam kantor. Ketika kita bisa menjadi teman cerita bagi terpidana hukuman mati di hari-hari terakhirnya.

Well, masih menjadi misteri buat aku apa yang harus aku lakukan berikutnya. Aku masih berharap ada jalan keluar yang terbaik untukku. Atau mungkin ini memang ujian buatku agar bisa naik ke level berikutnya. Sebuah ujian yang akan membuka mataku kembali akan kemampuan yang tidak aku sadari sendiri.

Be Good, Do Good!

23.04.15

Yes! It’s my month, it’s my day. Tapi ternyata bulan April menjelang bday aku jadi terasa kurang menyenangkan karena berbagai gesekan yang terjadi di kantor. Bayangkan saja 2 hari berturut-turut aku nangis di kantor karena permasalahan yang membuat kepala serasa mau pecah. Bukan karena diomelin, bukan karena gak bisa menyelesaikan deadline pekerjaan, tapi lebih karena aku dihadapkan pada pilihan yang sangaaaaaaatttttttttt sulit. Namun, dalam kondisi ini aku dituntut untuk tetap optimis dan yakin kalau semuanya akan baik-baik saja. Yang jelas aku mencoba untuk merasa bersyukur atas kehidupan yang aku jalani sekarang. Seberat apapun permasalahan di kantor, serumit apapun permasalahan yang musti aku hadapi, setidaknya aku jauh lebih baik daripada mereka yang sampai saat ini masih belum bekerja. Aku mencoba untuk tetap optimis sambil tentunya fokus pada masa depanku. Yah tidak dipungkiri lagi akhirnya aku masuk dalam fase dimana masa depan itu menjadi salah satu prioritas hidup. Aku harus mulai memikirkan pekerjaan seperti apa yang mau aku tekuni dalam jangka waktu yang lama. Belum lagi tuntutan sosial terkait pasangan hidup yang semakin lama semakin aneh-aneh saja. Bukannya aku cuek dan tidak mikirin hal ini, tapi ya mungkin waktunya belum datang. Marriage is not a competition, it’s a life process, everyone should be ready to get into it. Ketika kita belum menata hati kita untuk married, tentunya akan lebih susah untuk menerima orang lain dalam hidup kita. I spent this birthday with my office mate in the afternoon and my high school friend after work. It’s a plain birthday but I’m feeling grateful with them. Ada begitu banyak orang yang datang dan pergi selama setahun ini, dan aku pun bersyukur pernah bertemu mereka. Biar bagaimana pun, kehadiran mereka sedikit banyak sudah memberi inspirasi dan warna dalam hidupku. Di umur yang baru ini aku tidak berharap banyak. Hanya harapan untuk wish berulang agar segera terkabul dan juga kegalauan di kerjaan cepat berakhit. Semoga juga untuk setahun ke depan aku bisa punya lebih banyak waktu untuk berbakti kepada kedua orang tua, sebagai wujud syukur karena merekalah aku bisa menyelami lautan kehidupan ini. Thank you everybody!

Comfort Zone Syndrome in Late Twenties

Well, orang-orang bilang comfort zone itu adalah racun bagi kesukseskan. Ketika seseorang sudah berada di comfort zone maka mereka akan menjadi malas untuk kemana-mana. Comfort zone itu memang menjadi musuh bagi sebagian orang yang merasa perlu untuk mengembangkan dirinya menjadi semakin baik lagi.

Dulu ketika masa-masa menjalani kasus dan thesis, rasanya aku sangat berada jauhhhhhhh sekali dari yang namanya comfort zone. Segala sesuatunya terasa asing dan ada banyak sekali hal baru yang harus aku hadapi dan aku selesaikan. Di masa inilah sebenarnya aku sedang bertumbuh, aku sedang menyerap sebanyak-banyaknya pengalaman yang mungkin akan berguna di kemudian hari. Dan itu memang benar karena di masa itulah aku belajar untuk bertahan dalam situasi yang tidak nyaman, aku belajar bersabar sambil terus berusaha sampai akhirnya aku bisa meninggalkan masa-masa itu dan lulus seperti yang aku harapkan.

Yah ucapan orang-orang itu terbukti benar buatku selama 2 tahun itu, miracle is located outside your comfort zone. Lalu yang jadi pertanyaan adalah apakah seseorang bisa menjadi terlalu lelah mencari comfort zone-nya? Apakah seseorang akan mencapai titik jenuh/titik balik yang membuat mereka tidak lagi mencari segala miracle dan pertumbuhan yang ada di luar comfort zone? Entah itu ia menjadi terlalu lelah dengan segala perubahan yang ada? atau dia menjadi tidak bersemangat lagi mencari keajaiban-keajaiban yang biasanya ia cari. Ia hanya ingin duduk tenang sambil menikmati semua jerih payahnya. Tapi apakah itu wajar jika hal ini terjadi pada mereka yang mencapai usia tiga puluh pun belum? Atau inikah yang dinamakan quarter life’s crisis?

So, pada akhirnya memang good? bad? who knows? Karena segala sesuatunya selalu mempunyai dua sisi, tergantung bagaimana kita melihatnya. Kadang memang kita hanya perlu menjalani hidup ini apa adanya dan menikmati apapun yang kita hadapi.

Jia you!

Another Story From Interview Session

Mungkin selama setahun ini aku kerja di perusahaan ini, Jumat minggu kemarin menjadi salah satu sesi interview yang menarik buatku. Kali ini bukan lagi sarjana S3 yang kesulitan mencari pekerjaan, ataupun lulusan teknik yang setahun lebih tidak bekerja tapi tidak melakukan sesuatu tapi lebih ke succes story dari mereka yang sudah berada di posisi managerial. Mereka berbagi cerita mengenai aktivitas mereka, mereka begitu antusias dengan sesi interview ini.

Cerita mereka mengenai pekerjaan mereka menambah banyak informasi baru buatku. Kisah mereka mengingatkanku bahwa setinggi apapun posisi kita, sebesar apapun perusahaan kita, kita sebenarnya tidak dalam posisi yang sangat aman. Ada banyak “angin” yang dapat menerpa posisi aman kita itu. Posisi tinggi artinya semakin banyak orang yang memperhatikan tindak-tanduk kita, salah dikit saja pasti kita jadi sorotan, musuh terselubung pun mungkin semakin banyak. Perusahaan besar sekalipun bisa goyang dan yang pasti akan membuat resah para karyawannya.

Hal yang menarik buatku dari interview itu adalah bahwa aku sedang menghadapi situasi di mana para karyawan di kantorku sedang resah. Resah dan tidak nyaman dengan segala macam perubahan yang terjadi di kantor. Entah itu perubahan kebijakan, perubahan posisi, dan lain sebagainya. Beberapa dari mereka marah, bahkan menghujat, beberapa lainnya hanya diam dan ngedumel sendiri. Perubahan itu memang membuat mereka tidak nyaman dan tidak aman. Namun, bagaimana cara mereka menghadapi ketidakamanan dan ketidaknyamanan itu lah yang akan menentukan hasil akhir.

Kadang aku heran juga kenapa orang baru memutuskan berubah ketika posisi mereka sudah tidak aman lagi. Bagaimana jika hal itu sudah terlambat? Perubahan yang mereka lakukan ternyata sudah tidak berguna lagi. Tapi somehow melihat orang berubah menjadi lebih baik seperti yang kita harapkan itu ternyata menyenangkan, meskipun sebelumnya kita sempat tarik urat tarik nafas berlinang air mata memfasilitasi mereka untuk berubah.

Well, memang sampai kapanpun perubahan itu akan selalu ada dan perubahan itu tidak enak. Tidak enak dari berbagai pihak, tidak enak di awal namun menyenangkan pada akhirnya.

Selamat mengeksekusi perubahan.

Selamat mengelola perubahan.

The Festive, The Tradition, The whatever about Family

Bagi aku dalam satu tahun itu ada 3 kali masa membuat resolusi, doa, harapan atau apapun itu. Yang pertama adalah tahun baru 1 Januari. Kalau ada resolusi yang tertinggal, aku masih berkesempatan untuk membuat resoulsi ketika Chinese New Year. Yang berikutnya adalah saat ulang tahunku di bulan April.

Seperti biasanya, resolusi ini berupa doa dan harapan aku di tahun yang baru. Biasanya juga aku beresolusi diiringi doa dari orang-orang di sekitarku yang kurang lebih mungkin ada yang sama dengan resolusi yang aku buat di moment tersebut. Well, begitu pun di tahun ini, rasa-rasanya aku lebih banyak menerima doa dari orang-orang di sekitarku.

Kalau biasanya moment kumpul keluarga jadi momok menakutkan buat yang single karena akan ditanya seputar pasangan, tahun ini berubah menjadi harapan. Seperti misalkan harapan dari para tetua bahwa tahun depan sudah harus bagi angpao, bukan menerima angpao. Selain itu ada pula harapan bahwa tahun depan bisa punya rumah dan mobil. Karena wujudnya harapan, dan bukan pertanyaan retoris maka ngedengernya pun lebih enak. Ketika ngedengernya enak, maka harapan itu pun bisa diresapi sehingga kita seolah lebih termotivasi untuk mewujudkannya.

Tradisi lain yang juga sangat kental dalam moment tahun baru adalah tradisi kumpul keluarga. Tidak hanya di China, namun hampir di seluruh negara, orang akan berkumpul dengan keluarganya untuk merayakan tahun baru. Kumpul keluarga yang seiring dengan berjalannya waktu akan membuat kita memaknainya dengan cara yang berbeda dari tahun ke tahun. Yang jelas ini hanyalah tradisi dari sebuah festival yang mencoba menarik kita dari kesibukan sehari-hari sepanjang setahun itu kembali pada asal kita, kembali ke rumah kita.

Home is a place when love is the foundation ^^

Happy Chinese New Year! Please welcome the Goat Year:)