Let’s Googling Indonesia!

Di hari Kemerdekaan Indonesia yang ke 70 tahun ini, kita bisa lihat simbol Google dengan merha putih seperti di bawah ini:

Screenshot 2015-08-17 20.56.48Google sepertinya saat ini sudah menjadi sahabat masyarakat Indonesia, setidaknya sebagian besar anak sekolah, kuliah dan para pekerja sudah sangat terbiasa untuk mencari jawaban akan sesuatu melalui google. Kebiasaan ini pun meningkat tidak hanya untuk mencari jawaban saja, tapi juga mencari barang yang ingin di beli.

Akhir-akhir ini pun aku sering melakukan aktivitas ini, mulai dari cari berita-berita yang lagi hangat, cari kalimat atau benda yang aku belum tahu, sampai beli barang dan juga cari hotel. 2 hal yang lagi sering aku lakukan sekarang adalah cari hotel dan compare hotel yang paling match kriteri, satunya lagi adalah cari handphone. Really tired but I got so many things . Sama seperti cara kita menjalani hidup, kita perlu membatasi terlebih dahulu apa yang ingin kita cari sebelum kita tenggelam dalam lautan informasi yang ditawarkan internet. Begitu banyaknya informasi yang tersedia di sana, kadangkala membuat kita jadi lupa dengan tujuan awal kita.

Dalam kehidupan sehari-hari, kadang kala kita terlalu terlena dengan kehidupan yang kita jalani sekarang sampai kita lupa dengan tujuan awal kita. Ada yang bilang kita terlalu terlena dengan zona nyaman yang tidak memberanikan kita untuk melangkah. Sesuai dengan slogan di logo kemerdekaan RI tahun ini “Ayo Kerja”, maka kita pun harus terus mengasah kemampuan untuk berani melangkah dari keterlenaan.

Dirgahayu Indonesia! Let’s Googing!

Farewell Bali’s Team

Bali selalu meninggalkan pelajaran dari setiap kunjunganku ke sana, entah itu untuk liburan ataupun untuk kerja. Sekitar akhir bulan Mei kemarin aku mendadak harus pergi ke Bali untuk sebuah Impossible Mission. Aku sudah mendapat beberapa cerita mengenai tanggapan team Bali tentang misi yang akan kujalankan ini. Boleh dibilang, pada akhirnya misi ini gagal dan aku hanya bisa mengigit jari melihat segala sesuatu yang akhirnya terjadi.

Ketika itu, aku sedang berada di dalam tahap paling hetic sepanjang aku kerja, bahkan aku pun kehilangan semangat untuk menulis ataupun melakukan aktivitas lain yang bisa menenangkan pikiranku. Saat itu aku hanya berpikir bahwa aku butuh liburan, aku butuh hiburan, aku butuh menarik diri sejenak dari semua kegilaan itu. Maka pergilah aku ke Bali dengan mendadak untuk urusan kerjaan. Rencana awal aku akan pergi Jumat dan pulang Sabtu, namun apa daya harga tiket yang gak manusiawi buat seorang pegawai sekelas aku akhirnya aku pun pergi di Kamis malam untuk pulang di Jumat malam. Dengan banyak dorongan dari beberapa orang, akhirnya aku memutuskan untuk pulang di hari Sabtu.

Misi aku kali itu terlaksana, hanya menyampaikan beberapa hal kepada team di sana yang meskipun membuat mereka kecewa dan berteriak. Dulu sekali,sekitar setahun yang lalu, aku ke Bali dan aku memuji team di sana karena mereka itu sangat profesional, mereka itu bekerja dengan penuh semangat. Tapi nyatanya mereka pun berubah, mereka tidak lagi seperti itu, ada banyak tuntutan sana-sini. Ketika perusahaan menutut lebih dari karyawan, maka karyawan pun akan berlaku sama. Ketika perusahaan tidak bisa memberikan sesuai dengan keinginan karyawan, maka karyawanpun akan bereaksi. Hal inilah yang akhirnya terjadi karena misi yang aku jalankan di sana ternyata tidak sesuai dengan harapan mereka.

Dengan bersedih hati, aku pun terpaksa melepas beberapa orang terbaik ku di sana. Orang yang pada akhirnya memilih mundur untuk sebuah misi yang membuatku sempat kehilangan kehidupan normalku.

Terima kasih untuk segala hal yang telah kita lewati, terima kasih untuk segala hal yang meskipun sulit tapi tetap harus kita lewati. Terima kasih untuk pernah menjadi team yang aku banggakan.

pesta ini pun harus bubar meskipun dengan akhir yang seolah menamparku. But Life must go on.

Such a Big Dillema

Orang bilang hidup itu pilihan, kita bebas memilih apa yang ingin kita lakukan dalam hidup.

Hidup itu tidak lama, berjalanlah untuk memaknai setiap langkah yang kita ambil, setiap tindakan yang kita lakukan. Setelah obrolan panjang di malam itu dan malam-malam sebelumnya, akhirnya aku menemukan kembali serpihan-serpihan yang hilang dari kehidupanku. Semangatku yang dulu ketika pertama aku memutuskan ambil kuliah, semangatku ketika aku berjuang menuntaskan skripsi. Boleh dibilang aku seperti menemukan kembali hidupku. 2 bulan kemarin menjadi bulan terberat untukku, dan aku pun tidak tahu kalau ternyata keputusan ini menjadi begitu sulit. Umur yang sudah berada di penghujung kepala dua dan berbagai kesempatan yang aku lihat di luar, beserta segala macam kejanggalan yang aku lihat di tempat kerja sekarang sepertinya membuat aku semakin sulit untuk menentukan. Walk away or try harder. Seperti yang dikatakan seorang temanku, bahwa ketika aku bisa melewati masa ini, artinya aku bisa menaikkan levelku. Membangun sebuah perusahaan menuju ke-profesionalan, mengelola perubahan dalam sebuah perusahaan. Seperti mimpi aku selama ini, seperti yang ada dalam bayanganku ketika aku lulus. Namun, sayangnya ada banyak kondisi yang membuat aku berpikir mungkin di sini bukan tempat yang tepat. Seolah aku perlu mematikan hati nurani untuk dapat bekerja disini. Entah aku yang terlalu naive atau aku yang belum memiliki pengalaman, namun sepertinya aku menjadi manusia kejam disini.

Lantas aku pun teringat dengan kisah algojo yang bertugas untuk mengesekusi hukuman mati para tersangka narkoba beberapa waktu yang lalu. Apakah mereka bisa menolak tugas tersebut, apakah mereka merasa menjadi manusia yang kejam dengan menjalani tugas itu? Well, hidup itu memang pilihan, tapi apa algojo tersebut bisa memilih untuk tidak melakukan hukuman mati itu? Biar bagaimanapun, hukuman mati itu adalah bagian dari tugasnya, profesionalisme nya.

Kadang tuntutan profesionalisme membuat kita lupa banyak hal, lupa dengan kodrat kita sebagai manusia yang harus saling menyayangi dan saling membantu, lupa dengan tujuan hidup kita, bahkan kita bisa menjadi pribadi yang berbeda sepenuhnya. Namun, itulah profesional yang sesunguhnya, ketika kita bisa bersahabat dengan orang-orang yang kita tindak di jam kantor. Ketika kita bisa menjadi teman cerita bagi terpidana hukuman mati di hari-hari terakhirnya.

Well, masih menjadi misteri buat aku apa yang harus aku lakukan berikutnya. Aku masih berharap ada jalan keluar yang terbaik untukku. Atau mungkin ini memang ujian buatku agar bisa naik ke level berikutnya. Sebuah ujian yang akan membuka mataku kembali akan kemampuan yang tidak aku sadari sendiri.

Be Good, Do Good!

23.04.15

Yes! It’s my month, it’s my day. Tapi ternyata bulan April menjelang bday aku jadi terasa kurang menyenangkan karena berbagai gesekan yang terjadi di kantor. Bayangkan saja 2 hari berturut-turut aku nangis di kantor karena permasalahan yang membuat kepala serasa mau pecah. Bukan karena diomelin, bukan karena gak bisa menyelesaikan deadline pekerjaan, tapi lebih karena aku dihadapkan pada pilihan yang sangaaaaaaatttttttttt sulit. Namun, dalam kondisi ini aku dituntut untuk tetap optimis dan yakin kalau semuanya akan baik-baik saja. Yang jelas aku mencoba untuk merasa bersyukur atas kehidupan yang aku jalani sekarang. Seberat apapun permasalahan di kantor, serumit apapun permasalahan yang musti aku hadapi, setidaknya aku jauh lebih baik daripada mereka yang sampai saat ini masih belum bekerja. Aku mencoba untuk tetap optimis sambil tentunya fokus pada masa depanku. Yah tidak dipungkiri lagi akhirnya aku masuk dalam fase dimana masa depan itu menjadi salah satu prioritas hidup. Aku harus mulai memikirkan pekerjaan seperti apa yang mau aku tekuni dalam jangka waktu yang lama. Belum lagi tuntutan sosial terkait pasangan hidup yang semakin lama semakin aneh-aneh saja. Bukannya aku cuek dan tidak mikirin hal ini, tapi ya mungkin waktunya belum datang. Marriage is not a competition, it’s a life process, everyone should be ready to get into it. Ketika kita belum menata hati kita untuk married, tentunya akan lebih susah untuk menerima orang lain dalam hidup kita. I spent this birthday with my office mate in the afternoon and my high school friend after work. It’s a plain birthday but I’m feeling grateful with them. Ada begitu banyak orang yang datang dan pergi selama setahun ini, dan aku pun bersyukur pernah bertemu mereka. Biar bagaimana pun, kehadiran mereka sedikit banyak sudah memberi inspirasi dan warna dalam hidupku. Di umur yang baru ini aku tidak berharap banyak. Hanya harapan untuk wish berulang agar segera terkabul dan juga kegalauan di kerjaan cepat berakhit. Semoga juga untuk setahun ke depan aku bisa punya lebih banyak waktu untuk berbakti kepada kedua orang tua, sebagai wujud syukur karena merekalah aku bisa menyelami lautan kehidupan ini. Thank you everybody!

Comfort Zone Syndrome in Late Twenties

Well, orang-orang bilang comfort zone itu adalah racun bagi kesukseskan. Ketika seseorang sudah berada di comfort zone maka mereka akan menjadi malas untuk kemana-mana. Comfort zone itu memang menjadi musuh bagi sebagian orang yang merasa perlu untuk mengembangkan dirinya menjadi semakin baik lagi.

Dulu ketika masa-masa menjalani kasus dan thesis, rasanya aku sangat berada jauhhhhhhh sekali dari yang namanya comfort zone. Segala sesuatunya terasa asing dan ada banyak sekali hal baru yang harus aku hadapi dan aku selesaikan. Di masa inilah sebenarnya aku sedang bertumbuh, aku sedang menyerap sebanyak-banyaknya pengalaman yang mungkin akan berguna di kemudian hari. Dan itu memang benar karena di masa itulah aku belajar untuk bertahan dalam situasi yang tidak nyaman, aku belajar bersabar sambil terus berusaha sampai akhirnya aku bisa meninggalkan masa-masa itu dan lulus seperti yang aku harapkan.

Yah ucapan orang-orang itu terbukti benar buatku selama 2 tahun itu, miracle is located outside your comfort zone. Lalu yang jadi pertanyaan adalah apakah seseorang bisa menjadi terlalu lelah mencari comfort zone-nya? Apakah seseorang akan mencapai titik jenuh/titik balik yang membuat mereka tidak lagi mencari segala miracle dan pertumbuhan yang ada di luar comfort zone? Entah itu ia menjadi terlalu lelah dengan segala perubahan yang ada? atau dia menjadi tidak bersemangat lagi mencari keajaiban-keajaiban yang biasanya ia cari. Ia hanya ingin duduk tenang sambil menikmati semua jerih payahnya. Tapi apakah itu wajar jika hal ini terjadi pada mereka yang mencapai usia tiga puluh pun belum? Atau inikah yang dinamakan quarter life’s crisis?

So, pada akhirnya memang good? bad? who knows? Karena segala sesuatunya selalu mempunyai dua sisi, tergantung bagaimana kita melihatnya. Kadang memang kita hanya perlu menjalani hidup ini apa adanya dan menikmati apapun yang kita hadapi.

Jia you!

Another Story From Interview Session

Mungkin selama setahun ini aku kerja di perusahaan ini, Jumat minggu kemarin menjadi salah satu sesi interview yang menarik buatku. Kali ini bukan lagi sarjana S3 yang kesulitan mencari pekerjaan, ataupun lulusan teknik yang setahun lebih tidak bekerja tapi tidak melakukan sesuatu tapi lebih ke succes story dari mereka yang sudah berada di posisi managerial. Mereka berbagi cerita mengenai aktivitas mereka, mereka begitu antusias dengan sesi interview ini.

Cerita mereka mengenai pekerjaan mereka menambah banyak informasi baru buatku. Kisah mereka mengingatkanku bahwa setinggi apapun posisi kita, sebesar apapun perusahaan kita, kita sebenarnya tidak dalam posisi yang sangat aman. Ada banyak “angin” yang dapat menerpa posisi aman kita itu. Posisi tinggi artinya semakin banyak orang yang memperhatikan tindak-tanduk kita, salah dikit saja pasti kita jadi sorotan, musuh terselubung pun mungkin semakin banyak. Perusahaan besar sekalipun bisa goyang dan yang pasti akan membuat resah para karyawannya.

Hal yang menarik buatku dari interview itu adalah bahwa aku sedang menghadapi situasi di mana para karyawan di kantorku sedang resah. Resah dan tidak nyaman dengan segala macam perubahan yang terjadi di kantor. Entah itu perubahan kebijakan, perubahan posisi, dan lain sebagainya. Beberapa dari mereka marah, bahkan menghujat, beberapa lainnya hanya diam dan ngedumel sendiri. Perubahan itu memang membuat mereka tidak nyaman dan tidak aman. Namun, bagaimana cara mereka menghadapi ketidakamanan dan ketidaknyamanan itu lah yang akan menentukan hasil akhir.

Kadang aku heran juga kenapa orang baru memutuskan berubah ketika posisi mereka sudah tidak aman lagi. Bagaimana jika hal itu sudah terlambat? Perubahan yang mereka lakukan ternyata sudah tidak berguna lagi. Tapi somehow melihat orang berubah menjadi lebih baik seperti yang kita harapkan itu ternyata menyenangkan, meskipun sebelumnya kita sempat tarik urat tarik nafas berlinang air mata memfasilitasi mereka untuk berubah.

Well, memang sampai kapanpun perubahan itu akan selalu ada dan perubahan itu tidak enak. Tidak enak dari berbagai pihak, tidak enak di awal namun menyenangkan pada akhirnya.

Selamat mengeksekusi perubahan.

Selamat mengelola perubahan.

The Festive, The Tradition, The whatever about Family

Bagi aku dalam satu tahun itu ada 3 kali masa membuat resolusi, doa, harapan atau apapun itu. Yang pertama adalah tahun baru 1 Januari. Kalau ada resolusi yang tertinggal, aku masih berkesempatan untuk membuat resoulsi ketika Chinese New Year. Yang berikutnya adalah saat ulang tahunku di bulan April.

Seperti biasanya, resolusi ini berupa doa dan harapan aku di tahun yang baru. Biasanya juga aku beresolusi diiringi doa dari orang-orang di sekitarku yang kurang lebih mungkin ada yang sama dengan resolusi yang aku buat di moment tersebut. Well, begitu pun di tahun ini, rasa-rasanya aku lebih banyak menerima doa dari orang-orang di sekitarku.

Kalau biasanya moment kumpul keluarga jadi momok menakutkan buat yang single karena akan ditanya seputar pasangan, tahun ini berubah menjadi harapan. Seperti misalkan harapan dari para tetua bahwa tahun depan sudah harus bagi angpao, bukan menerima angpao. Selain itu ada pula harapan bahwa tahun depan bisa punya rumah dan mobil. Karena wujudnya harapan, dan bukan pertanyaan retoris maka ngedengernya pun lebih enak. Ketika ngedengernya enak, maka harapan itu pun bisa diresapi sehingga kita seolah lebih termotivasi untuk mewujudkannya.

Tradisi lain yang juga sangat kental dalam moment tahun baru adalah tradisi kumpul keluarga. Tidak hanya di China, namun hampir di seluruh negara, orang akan berkumpul dengan keluarganya untuk merayakan tahun baru. Kumpul keluarga yang seiring dengan berjalannya waktu akan membuat kita memaknainya dengan cara yang berbeda dari tahun ke tahun. Yang jelas ini hanyalah tradisi dari sebuah festival yang mencoba menarik kita dari kesibukan sehari-hari sepanjang setahun itu kembali pada asal kita, kembali ke rumah kita.

Home is a place when love is the foundation ^^

Happy Chinese New Year! Please welcome the Goat Year :)

Traveller’s Note #5

Narasumber traveller’s note kali ini adalah seorang akuntan publik yang punya jadwal kerja sangat padat. Tapi di tengah kesibukannya, Fendra (begitu ia biasa dipanggil) masih sempat melakukan travelling ke tempat-tempat pelosok di Indonesia. Berikut adalah petikan ceritanya yang simpel.
1. Kesibukan sekarang apa?
Kerja
2. Sejak kapan mulai suka travelling?
awal tahun 2013
3. Tempat favorit dari semua tujuan travelling yang pernah dikunjungi? kenapa?
Gili trawangan, tempatnya asik buat santai
4. Lebih suka travelling sendiri atau ditemenin? Sama siapa?
lebih suka rame2 sama temen, biar seruu
5. Kejadian mengesankan selama travelling?
    nyari taksi di daerah legian pagi2 buat ke bandara, mau flight ke Lombok.
6. Pelajaran berharga apa aja yang pernah di dapetin selama travelling?
lebih mendekatkan 1 sama lain, baik teman, pacar atau keluarga
7. Tantangannya setiap kali mau traveling?
cuti,, hahaha
8. Siapa tokoh inspirasi dalam bidang travelling?
nobody, you don’t need someone to inspire you for travelling :)
9. Target next destination? Masih mau kemana lagi? Kenapa?
RAJA AMPAT, mumpung masih bagus
10. Pesan-pesan untuk traveller pemula?
jalan2 di Indonesia dulu hehe

Management

Dari dulu sejak sekolah, pelajaran tentang manajemen masuk di mata pelajaran Ekonomi. Sekedar pembahsaan mengawang-ngawang yang diajarkan ke anak SMP/SMA yang bahkan membayangkannya saja agak sulit, kecuali dikasih contoh ketua kelas dan murid-murid di kelasnya. Tapi sayangnya zaman aku sekolah belum ada guru yang cukup kreatif memberi contoh. Ketika di SMA, aku cukup salut dengan Ibu Anastasia yang mencoba membuat pelajaran ekonomi jadi lebih menyenangkan dengan beragam teknik. Meskipun lagi-lagi contoh yang diberikan kadang kurang kongkrit.

Masuk ke kuliah, aku ketemu lagi dengan mata kuliah Dasar-dasar manajemen yang berlanjut ke Psikologi Industri Organisasi (PIO). Dimana, pembahasan menjadi lebih dalam dan luas ketika masuk di kuliah. Aku suka sih, tapi niatku belum kesana ketika itu karena aku pun berpikir kalau aku gak mungkinlah jadi manager. Tapi semua itu berubah ketika pelan-pelan aku mulai aktif terlibat di kegiatan organisasi kampus yang membuatku bertemu dengan banyak orang. Dalam situasi sosial seperti ini, mau tidak mau kemampuan manajemen pun muncul. Setiap orang dituntut untuk dapat mengelola kehidupannya, baik pribadi maupun dalam kelompok.

Awalnya aku cukup senang karena sedikit banyak pengalaman manajemen yang aku dapatkan di kampus membuat aku tidak terlalu mengalaim culture shock di dunia kerja. Tapi ternyata seiring dengan berjalannya waktu permasalahan yang aku hadapi pun semakin kompleks dan beragam kadang ada yang tidak bisa diselesaikan dengan pengalaman-pengalaman yang aku dapatkan selama ini. Aku pun kembali harus belajar lagi, kembali mencoba mengenali diri lagi tentang kelemahanku. Really a week full of lesson.

Jenuh

Aku tidak meminta lebih

Aku berjalan seirama dengan detak jantungku

Aku berjalan sampai aku merasa lelah

Lelah yang menorehkan jenuh

Aku melangkah meninggalkaan jejak

Aku berucap tegakkan kebenaran

Aku berjuang membela kebaikan hati

Kebaikan hati yang menorehkan luka

Berjalan itu bukan karena benar

Berhenti itu bukan karena salah

Berjalan itu untuk mencari kebenaran

dan berhenti untuk memperbaiki kesalahan

Mungkin lelah dan jenuh itu jadi alarm

Mengingatkan kita untuk berhenti

Berhenti sejenak untuk memulai lagi