Such a Big Dillema


Orang bilang hidup itu pilihan, kita bebas memilih apa yang ingin kita lakukan dalam hidup.

Hidup itu tidak lama, berjalanlah untuk memaknai setiap langkah yang kita ambil, setiap tindakan yang kita lakukan. Setelah obrolan panjang di malam itu dan malam-malam sebelumnya, akhirnya aku menemukan kembali serpihan-serpihan yang hilang dari kehidupanku. Semangatku yang dulu ketika pertama aku memutuskan ambil kuliah, semangatku ketika aku berjuang menuntaskan skripsi. Boleh dibilang aku seperti menemukan kembali hidupku. 2 bulan kemarin menjadi bulan terberat untukku, dan aku pun tidak tahu kalau ternyata keputusan ini menjadi begitu sulit. Umur yang sudah berada di penghujung kepala dua dan berbagai kesempatan yang aku lihat di luar, beserta segala macam kejanggalan yang aku lihat di tempat kerja sekarang sepertinya membuat aku semakin sulit untuk menentukan. Walk away or try harder. Seperti yang dikatakan seorang temanku, bahwa ketika aku bisa melewati masa ini, artinya aku bisa menaikkan levelku. Membangun sebuah perusahaan menuju ke-profesionalan, mengelola perubahan dalam sebuah perusahaan. Seperti mimpi aku selama ini, seperti yang ada dalam bayanganku ketika aku lulus. Namun, sayangnya ada banyak kondisi yang membuat aku berpikir mungkin di sini bukan tempat yang tepat. Seolah aku perlu mematikan hati nurani untuk dapat bekerja disini. Entah aku yang terlalu naive atau aku yang belum memiliki pengalaman, namun sepertinya aku menjadi manusia kejam disini.

Lantas aku pun teringat dengan kisah algojo yang bertugas untuk mengesekusi hukuman mati para tersangka narkoba beberapa waktu yang lalu. Apakah mereka bisa menolak tugas tersebut, apakah mereka merasa menjadi manusia yang kejam dengan menjalani tugas itu? Well, hidup itu memang pilihan, tapi apa algojo tersebut bisa memilih untuk tidak melakukan hukuman mati itu? Biar bagaimanapun, hukuman mati itu adalah bagian dari tugasnya, profesionalisme nya.

Kadang tuntutan profesionalisme membuat kita lupa banyak hal, lupa dengan kodrat kita sebagai manusia yang harus saling menyayangi dan saling membantu, lupa dengan tujuan hidup kita, bahkan kita bisa menjadi pribadi yang berbeda sepenuhnya. Namun, itulah profesional yang sesunguhnya, ketika kita bisa bersahabat dengan orang-orang yang kita tindak di jam kantor. Ketika kita bisa menjadi teman cerita bagi terpidana hukuman mati di hari-hari terakhirnya.

Well, masih menjadi misteri buat aku apa yang harus aku lakukan berikutnya. Aku masih berharap ada jalan keluar yang terbaik untukku. Atau mungkin ini memang ujian buatku agar bisa naik ke level berikutnya. Sebuah ujian yang akan membuka mataku kembali akan kemampuan yang tidak aku sadari sendiri.

Be Good, Do Good!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s