Supernova: Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh (Movie)


Selesai membaca Supernova Gelombang kurang lebih sebulan yang lalu, aku akhirnya menonton film yang diangkat dari seri pertama Novel Supernova. Jujur saja, aku sudah lupa sama sekali dengan cerita yang ada di Novel ini, sehingga aku tidak punya ekspektasi apa-apa ketika menonton filmnya. Akhirnya aku hanya mencoba menonton dan menikmati apa yang disajikan, berbeda dengan Perahu Kertas yang hampir semua detail ceritanya aku hafal mati.

Untuk sinopsis dari film ini, tidak banyak yang bisa diceritakan karena film ini sebenarnya hanya ingin menceritakan kehidupan sepasang gay yang berjanji untuk menelurkan sebuah novel roman-science yang dapat mengetarkan hati banyak orang. Namun, seiring dengan berjalannya cerita yang mereka buat mereka menyadari bahwa tokoh DIva yang mereka ciptakan ternyata ada di dunia nyata. Dalam kisah yang mereka buat, ada 3 orang tokoh yang terlibat cinta segitiga yang terlarang. Sampai disini, cerita masih seperti kehidupan manusia pada umumnya sampai akhirnya muncul sosok bernama Diva yang bernama Supernova. Supernova yang menghubungkan mereka bertiga.

Secara keseluruhan cerita, bagi mereka yang tidak terbiasa dengan gaya bahasa Dee pasti akan merasa film ini sangat berat karena hampir di sepanjang film terselip bahasa-bahasa puitis. Bagi mereka yang juga belum pernah membaca novelnya mungkin akan kesulitan menangkap jalan cerita dari film ini. Mungkin bisa bertanya “Supernova” itu siapa sih?”, ” Endingnya kok aneh sih?” Setidaknya ketika nonton film ini aku pun bingung supernova itu tokoh virtual apa model yang melacurkan diri?

Dari segi penyuntingan dan pengambilan gambar, film ini tampil sangat baik, tidak ada keanehan ataupun sesuatu yang tampak tidak pas. Sutradara pun dapat membawa penonton seolah berada di Jakarta yang futuristik. Plot yang dibuat bolak-balik pun juga tidak terasa menganggu.Tapi sayangnya sang sutradara tidak sedetail sutradara Perahu Kertas yang memperhatikan setting waktu dari film ini. Di film ini tidak disebutkan dengan jelas setting tahun dan lain sebagainya. Mau dibilang futuristik Jakarta, tapi tahun yang ada di novel adalah tahun 2000-an awal.

Selain itu, pemilihan cast untuk film ini agak sedikit maksa. Entah kenapa tokoh utama dalam film ini merupakan pemain yang sama di 5cm, terlepas dari produser film ini memang sama. Dari beberapa cast di sini, hanya Junot (Herjunot Ali) yang berhasil memainkan peran sebagai Ferre dengan apik, yah meskipun dia agak terlalu kerempeng untuk memerankan seorang eksmud. Raline Shah yang berperan sebagai Rana tampak terlihat kaku dalam beberapa percakapan meskipun untuk mimik dan gerakannya sudah cukup baik. Di beberapa review pun Raline dikatakan tidak dapat menampilkan adegan menangis dengan sempurna. Buatku, Raline bermain baik di beberapa adegan bahagia, tetapi emosinya kurang terasa ketika adegan sedihnya.

Tokoh lain yang boleh dibilang menurunkan kualitas film ini adalah tokoh Diva si Supernova. Tokoh yang seharusnya jadi kunci utama di novel ini, malah terlihat aneh. Dari penampilan fisik, Paula Verhoeven yang tampak blesteran itu memang sudah cocok untuk peran sebagai Diva yang juga seorang model. Namun sayangnya ia kurang centil jika harus digambarkan sebagi pelacur. Selain itu, pelafalannya untuk beberapa narasi seperti yang ada di prolog sangat-sangat jauh dari sempurna. Logat Indonesianya yang masih kaku dan suara cadelnya membuat prolog yang harusnya jadi penarik orang masuk ke dalam cerita akhirnya jadi seperti narasi sambil lalu saja.

Terakhir, Fedi Nuril sebagai Arwin entah kenapa aku kurang suka perannya di sini. Fedi Nuril di film-film sebelumnya selalu punya daya pikatnya sendiri, tapi di film ini dia seperti tidak terlihat sama sekali. Entah karena perannya yang memang tidak penting atau karena sutradaranya kurang pandai memolesnya. Really don’t like it.

Over all, film ini bisa dikasih point 7-8 dari 10. Memang sepertinya tidak mudah untuk mengadaptasi novel menjadi film, tapi dengan munculnya film Supernova ini semoga menjadi pendorong untuk munculnya film Supernova seri yang lain. Film ini juga berhasil membuat aku berniat membaca ulang semua buku-bukunya dari awal.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s