Bali with Another Lesson


Beberapa bulan berselang sejak kepergianku ke Bali untuk urusan kantor, aku kembali lagi ke Bali untuk urusan keluarga. Rencana yang sudah disusun sejak kurang lebih setahun yang lalu namun ada sedikit perubahan yang cukup berarti bagi kami saat itu. Kehilangan salah satu anggota keluarga yang seharusnya ikut di trip kali ini dan berbagai perasaan lain yang dialami oleh beberapa diantara kami. Setidaknya kejadian ini mengajarkan aku untuk tetap menghargai setiap moment yang ada dan menikmatinya karena kita tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi di kemudian hari.

Trip ke Bali kali ini selain untuk menghadiri wedding sepupuku, kita juga berencana untuk jalan-jalan bersama. Yah meskipun tidak semua acara berjalan lancar tapi semangat kebersamaannya menjadikan acara jalan-jalan ini menyenangkan dan penuh pelajaran. So, here are the stories.

Awalnya kami sempat merencankan untuk meeting membahas rencana kami, namun berhubung masing-masing dari kami punya kepentingan, akhirnya kami hanya mengambil rencana garis besar saja.

Day1

Subuh-subuh kami sudah berangkat ke airport untuk mengejak pesawat yang akan take off jam 7. Alhasil kami menunggu di ruang tunggu cukup lama sampai akhirnya naik ke pesawat. Di ruang tunggu ini ada sebuah kejadian lucu menimpa iphone aku. Si iphone mendadak nge-hang gak bisa di slide, ataupun restart. Trikt jitu cabut batre yang biasa selalu berhasil untuk mengtasi maslah HP otomatis tidak bisa dilakukan di iphone yang batrenya sudah built-in. Aku pun berpikir untuk cabut SIM Card karena paling tidak ini akan membuat si Iphone non-aktif. Tapi untuk membuka sim card iphone butuh alat khusus seperti peniti dan aku tidak membawa alat itu sehingga aku mencoba dengan peniti yang akhirnya gagal juga. Jadilah aku berjalan mengelilingi ruang tunggu dan melihat apakah ada yang menggunakan Iphone juga untuk meminjam alat tusuk sim card-nya. Sayangnya sejauh mata memandang hanya ada Ipad, dan beberapa jenis HP Samsung serta Nokia. Dengan pasrah aku pun balik ke bangku aku dan tidak tahu mau bagaimana lagi. Aku pun menoleh dua mas-mas dibelakang yang sedang ngobrol. Mas-mas dengan gaya Selatan ini mungkin saja pakai IPhone dan punya tusukan Sim Card-nya. Akhirnya aku memberanikan diri bertanya apakah mereka pakai IPhone.

" Mas, ada yang pakai Iphone gak? Bawa bukaaa Sim Card-nya gak? "
" Iphone sih pake tapi gak pernah bawa gituannya (tusukan sim card). Emang kenapa? "

Aku pun menjelaskan masalah yang terjadi pada Iphone-ku, lalu salah satu dari mereka pun menyarankan re-start seperti biasanya. Dia pun mengambil Iphone-ku dan mempraktekan cara lain untuk re-start. Seketika lenyaplah sudah masalah Iphone-ku dan aku bisa tenang lagi untuk menghadapi perjalanan dengan pesawat beberapa menit lagi. Kemudian aku berterima kasih padanya dan mendapatkan balasan senyuman darinya. Lesson for this adalah Jadi orang haruslah bawel, malu bertanya sesat di jalan, kalo gak nanya gak bakal selesai masalahnya. Tak lama setelah itu panggilan untuk masuk ke dalam pesawat pun berkumandang dan aku beserta saudara-saudara langsung menuju ke pesawat.

Kami tiba dalam 4 rombongan (seharusnya lima karena papa, mama, koko, soso, dan anaknya sudah sampai sehari sebelumnya). Aku ikut di rombongan pertama dengan beberapa saudara papa yang lain. Sesampainya di Airport, kami sudah di jemput dua mobil. Mobil pertama adalah mobil sewaan koko yang dia setir sendiri, mobil kedua adalah sewaan saudaraku yang sudah disertai dengan supir. Rute pertama adalah hotel Aston International Unggasan yang sudah disewakan oleh yang punya pesta. Sebagian dari kami menginap di hotel ini dan aku menunggu mereka untuk check-in di sini. Lobby hotel Aston ini terlihat sangat megah. Pemandangan air terjun dengan batu-batuan membuatnya tampak semakin asri. Selesai dari sini, kami langsung menuju ke Dreamland Luxury Villas yang letaknya tak jauh dari Aston. Di Dreamland, kami menjemput mama, soso, dan ponakan tercinta. Dreamland Luxury Villa ini adalah sebuah resort yang di setiap unitnya ada private pool. Dengan harganya yang terbilang cukup mahal, fasilitas dan pelayanan di sini boleh dibilang sangat sepadan.

Tujuan berikutnya setelah selesai check-out dari Dreamland adalah restoran Bubur Laota di daerah Tuban, Kuta. Restoran Chinesse food ini sangat terkenal untuk masakan buburnya. Buburnya ada berbagai pilihan mulai dari bubur polos sampai bubur dengan berbagai daging. Sayangnya kami sama sekali tidak menyicip bubur yang jadi legenda ini pada kedatangan kami kali ini karena lebih memilih untuk makan berat. Jadilah kami memesan bebek, sup kepiting, dan sayur hijau untuk menu makan siang kali ini. Sayur yang kami pesan rasanya juga lumayan bikin kepengen balik lagi. Letaknya yang strategis ini juga mudah sekali dijangkau dari airport.

Rute berikutnya di hari ini adalah menuju ke Bali Nusa Dua Hotel and Convention Centre yang juga menjadi salah satu hotel yang disediakan oleh yang punya acara. Di hotel inilah aku sekeluarga menginap. Hotel yang tergolong sangat luas dengan fasilitas yang sangat lengkap seperti kolam berenang, gym, dll. Sayangnya aku ga  ngerasain berenang disini karena jadwal yang sangat padat. Untuk makan malam hari ini, kami cukup kebingungan sampai akhirnya koko mencari tahu tempat makanan yang dekat dari sini dengan bertanya pada temannya. Restoran yang disarankan oleh teman koko adalah Warung Sate Barokah di daerah sekitar Kuta. Tapi kita akhirnya tidak jadi makan disini karena mendapat rekomendasi tempat makan lain dari  karyawan hotel. Karyawan hotel tersebut merekomendasikan beberapa restoran di sekitar Nusa Dua Area mulai dari Bebek Bengil, Bali Nelayan, dan beberapa resotran lain. Pilihan kami hari itu jatuh pada restoran Bebek Bengil yang terletak di pinggir pantai. Tapi karena sudah malam dan gelap, jadi kami tidak bisa lagi melihat pantainya.

Harga dan rasa di resotran ini boleh di bilang cukup sebanding meskipun untuk  beberapa menu ada yang harganya relatif lebih mahal dari restoran pada umumnya. Menu favorit hari itu adalah Nasi Campur Bali. Berbagai jenis sambel pun disajikan untuk menjadi pendamping Nasi Campur ini. Buat aku yang tidak doyan pedas, sambal bawang khas Bali yang disajikan menjadi juara dari sambel-sambel yang disajikan. Ada satu kejadian yang cukup menyebalkan terjadi setelah kami pulang dari restoran ini. Kami memesan satu bungkus nasi campur bebek untuk dibawa pulang dan kami juga meminta sisa nasi putih tambahan yang kami pesan untuk ikut dibungkus. Tapi ternyata yang terbungkus hanya nasi putih sisa dan sayur beserta lauk dari nasi campur bebek tanpa nasinya. Padahal kami membayar dengan harga yang sama seperti nasi campur bebek utuh. Berhubung sudah sampai di kamar hotel dan malas untuk kembali ke restoran tersebut jadi kami tidak komplain masalah ini.

Hari itu ditutup dengan acara jalan-jalan ke daerah kuta untuk membeli aqua bersama koko, soso, dan baby-nya. Rencana awalnya adalah untuk jalan-jalan di sekitar Kuta melihat keramaian, tapi berhubung sudah terlalu malam jadi sudah banyak yang tutup.

Day2

Hari kedua aku terbangun cukup siang, sehingga mengagalkan rencana untuk berenang. Acara pagi ini diisi dengan sarapan dan pergi ke Salon. Salon yang kami kunjungi adalah Taman Air Salon&Spa di daerah Kuta. Service di salon ini tergolong sangat cepat dan harganya pun gak mahal-mahal banget. Dalam waktu 1,5 jam hairstylist yang cuma sendiri itu dapat menyelesaikan rambut kami berlima.

Sekembalinya ke hotel, kami langsung bersiap-siap untuk pergi ke tempat pesta dengan bus jemputan yang sudah disediakan. Tempat pesta yang akan kami tuju adalah The Edge, Uluwatu yang letaknya ujung ke ujung dari hotel kami di Nusa Dua. Untuk mencapai tempat pestanya, kami perlu bertukar bus dengan mobil yang lebih kecil pada sebuah tempat parkir yang tak jauh dari tempat pesta yang kami tuju. Sepanjang perjalanan yang memakan waktu kurang lebih 30 menit itu ada banyak terlihat pohon-pohon kering. Cuaca Bali akhir-akhir ini memang sedang kering-keringnya. Tapi semua pemandangan pohon kering itu pun tergantikan dengan pemandangan laut indah disamping tebing. Design vila di tempat tersebut pun sangat bagus dan mewah. Sayangnya terlalu banyak anak-tangga yang sangat tidak user-friendly untuk orang-orang tua usia 50 tahun ke atas. Dekor tempat pesta, pemberkatan, dan cocktail party pun tampak sederhana namun enak dilihat. Mungkin buat yang mau pesta Wedding di Bali bisa consider untuk milih tempat ini tapi tentunya safety dari para tamu perlu diperhatikan.

Perlu waktu beberapa jam dari kami tiba sampai akhirnya acara tepay (upacara tuang teh tradisi Chinese) dimulai dan kami menunggu dengan menikmati indahnya pemandangan laut dan menyesap kopi yang disajikan. Sampai akhirnya tiba upacara pemberkatan dan acara puncak di malam hari setelah melalui acara tepay, pemberkatan, dan cocktail party. Jujur saja konsep pesta private ini cukup memusingkan dengan pembagian nomor meja yang berbarengan dengan tukar sovenir. Buat yang mau wedding di Bali dengan sistem seperti ini, mungkin bisa consider untuk memilih WO yang lebih cekatan dalam menyusun daftar tamu sehingga tidak membingungkan penerima angpao.

Di luar dari kepusingan nomor meja dan landscape tempat pesta yang naik turun, acara yang disajikan tergolong menyenangkan. Sayangnya acara dimulai terlambat dari jadwal yang menyebabkan selesainya juga molor. Sampai jam setengah 12 malam acara masih belum selesai juga. Ada banyak acara kejutan yang disiapkan di resepsi malam ini, seperti tarian dari groom dan bestman, video klip dari brides’ maid, dan video candid dari sahabat mereka. Doorprize dengan hadiah yang tergolong mewah dan pelepasan balon berlampu akhirnya menutup acara hari ini.

Day3

Hari ini semua rencana berada dalam kendali aku, sebagai yang paling muda aku didaulat sebagi tour leader dadakan. Really a lot of lesson learned apalagi buat aku yang sama sekali ga pernah arrange tour seperti ini.  Pagi-pagi sekali aku sudah breakfast dan dijemput oleh Pak Komang,  Supir kantor yang akan mengajakku tour proyek. Rencana awalnya aku memang diminta oleh bosku untuk visit site perusahaan yang ada di Bali. Sekalian mengantar titipan anak kantor, aku pun mengunjungi kantor dan dua proyek yang letaknya tidak jauh dari hotel tempatku menginap. Dan dalam waktu kurang 3 jam kami sudah mengunjungi 3 tempat sekaligus. Suatu hal yang tidak mungkin bisa terjadi di Jakarta.

Setibanya kembali di hotel, aku sudah langsung ditugasi untuk mengatur kendaraan yang kami gunakan hari ini. 1 mobil avanza sewaan dan satu mobil elf besar. Hari ini semua keluarga akan kumpul untuk jalan-jalan. Tujuan pertama adalah makan siang setelah menjemput saudara kami yang lain di Aston. Perjalanan dari hotel kami ke Aston cukup lancar dan suatu kejutan sudah menungguku. Koper-koper kami terlalu banyak sampai tidak muat di mobil elf maupun di mobil avanza. Akhirnya salah satu sepupuku yang menyewa mobil terpisah menyanggupi untuk menampung koper kami dan mengantarnya ke hotel kami untuk 2 malam setelah ini.

Tujuan makan siang kami adalah ke Warung Made di daerah seminyak. Awalnya aku memilih di daerah kuta karena lebih dekat dari hotel kami. Berdasarkan rekomendasi dari supir sewaan kami, akhirnya kami memilih Warung Made di Seminyak. Menu favorit disini adalah nasi goreng-nya yang rasanya oke punya. Setidaknya dibandingkan dengan nasi campur Bali-nya, rasa dari nasi gorengnya masih lebih baik. Selain itu, di restoran ini kami juga merayakan ulang tahun salah satu dari kami. Berbekal Marble Cake yang dijual di Warung Made dan lilin, kami memberi suprise kepada yang berulang tahun. Marble cake yang akhirnya kami pilih sebagai kue ulang tahun ini rasanya boleh juga berbeda dari marble cake yang biasanya aku makan.

Selesai makan, kami langsung menuju Discovery mall untuk mengejar sunset. Awalnya sempat terpikir untuk menunggu waktu sunset di daerah Seminyak, namun berhubung aku sama sekali buta daerah seminyak, dan aku tidak mau ambil resiko diprotes sodara2, jadi aku memutuskan Discovery mall saja. Menunggu sunset di Discovery mall, Kuta sebenarnya juga bukan pilihan yang buruk. Ini adalah kali ketiga aku menikmati serunya bermain air di pantai sambil menunggu matahari terbenam di Pantai Kuta. Tentunya disertai dengan foto-foto sunset maupun foto narsis diri sendiri.

Tujuan berikutnya setelah dari Pantai Kuta adalah makan malam di sekitar Kuta. Rencana awalnya kami akan makan restoran Hongkong di dekat mall, tapi ternyata restoran tersebut sudah tutup. Akhirnya berdasarkan saran dari bapak supir, kami makan di sebuah restoran Chinese Sungai Seafood di Jl. Tuban. Untuk rasa dan harga restoran ini layak untuk direkomendasikan. Sedikit lebih mahal daripada resto sejenis di Jakarta namun rasanya yang enak membuat kami tidak keberatan membayar sesuai dengan harganya.

Pergi ke Bali tentunya tidak lengkap tanpa oleh-oleh khas Bali. Usai makan malam hari ini, aku pergi ke kantor cabang tempat kerja aku untuk mengambil oleh-oleh yang aku titip dari temanku. Aku memintanya untuk membelikan pie susu langanan-nya yang sering kami pesan setiap ada teman kantorku yang business trip ke Bali. Pie susu ini adalah pie susu produksi rumahan tanpa merek yang rasanya cukup enak. Harganya hanya 25.000 rupiah untuk box isi 10. Selain box isi 10 ada box isi 20 dengan harga 50.000 rupiah per box. Pie susu ini punya beberapa cabang di Bali yang aku pun tidak tahu lokasinya ada dimana saja. Setelah mengambil titipan ini, aku pun kembali ke hotel untuk istirahat.

Hotel kami hari ini adalah sebuah budget hotel yang sebenarnya sudah cukup terkenal punya pelayanan yang baik. Namun sayangnya banyak nilai minus yang aku dapatkan di perjalanan kali ini pada hotel ini mulai dari ac yang tidak dingin, wc mampet, sampai parkeet (semacam karpet) rusak. Untungnya karyawan cukup tanggap dengan keluhan kami, setiap komplain yang kami ajukan langsung ditangani dengan segera. Hal lain yang menjadi nilai minus dari hotel ini adalah view di beberapa kamar yang kurang baik dan juga posisi kamar kami yang saling berjauhan. Well, keadaaan ini cukup membuat aku tidak enak pada sodara-sodaraku yang lain karena akulah yang memesan hotel ini untuk mereka.

Day4

Hari ini aku balik ke Jakarta untuk kembali kerja, tapi yang lain masih tetap tinggal semala lagi. Aku bangun pagi-pagi dan langsung sarapan. Menu sarapan di hotel ini tergolong enak terutama nasi gorengnya. Sayangnya aku tidak sempat mencoba menu lain dan merasakan fasilitas hotel ini karena selesai sarapan aku langsung berangkat ke airport.

Setibanya di airport aku begitu terkejut dengan penampilan airport yang benar-benar baru. Sangat international dan terlihat seperti airport di Singapore. Mari sama-sama berharap pihak pengelola bisa menjaganya dengan baik sehingga kebersihan dan kenyamanannya dapat terpelihara. Perjalanan aku hari ini pun berjalan lancar dan bahkan pesawat landing di Jakarta 15 menit lebih awal dari yang dijadwalkan.

Satu hal lain yang menarik di hari ini adalah supir taxi yang meminta biaya charge 1000 rupiah lebih mahal daripada biaya yang tercantum di karcis yang diberikan petugas taxi bandara. Taxi yang aku naiki adalah taxi yang masih anak perusahaan dari perusahaan taxi terbesar di Indonesia. Selain itu supir taxi juga memberikan alasan yang tidak masuk akal ketika aku menanyakan harga yang lebih mahal itu. Well ya sudahlah semoga jasa transportasi Indonesia semakin meningkat mutu dan kualitasnya.

Begitulah kira-kira cerita perjalananku yang semakin banyak pelajaran buatku. Thank you Bali for another lesson learned.

Perjalanan kali ini mengingatkan aku dengan pepatah makan ga makan asal kumpul.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s