Tentang Pemilu Indonesia 2014


Baru pertama kali aku menyaksikan pesta demokrasi yang penuh dengan euforia.  Sebuah pemilu yang memunculkan dilema bagi masyarakat Indonesia, ada 2 calon presiden yang sama-sama dicintai oleh pendukungnya. Namun sayangnya, meskipun kedua calon tersebut sama-sama membawa semangat perubahan tapi mereka memlk gaya yang berbeda. Calon nomor satu yang dianggap memiliki ketegasan dan keberanian dan calon nomor dua yang dianggap memiliki gaya memimpin dengan hati. Mengikuti proses pemilu semenjak pileg di bulan April yang lalu, semakin membuka mataku mengenai demokrasi. Bukan lagi sekedar ikut-ikutan rang memilih atau karena partai/tokoh tersebut memiliki banyak pendukung di wilayahku, tetapi memilih dengan hati nurani. Aku memilih karena aku yakin calon ini dapat membawa perubahan untuk bangsa ini. Sebenarnya keterbukaan pandangan ini aku dapatkan ketika pemilihan gubernur Jakarta setahun yang lalu. Era keterbukaan yang menjadkan proses kampanye sebagai sesuatu yang umum untuk disebarluaskan. Meskipun ketika Pilgub Jakarta aku masih terpengaruh untuk tidak memilih karena menurutku tidak ada calon  yang bener-bener pas, semuanya punya kelemahan yang membuatku ragu untuk memilih. Sama halnya ketika aku melihat bursa calon presiden tahun kemarin di salah satu surat kabar.  Bursa calon presiden yang menurutku tidak ada calon yang menarik hati, calon yang bisa dipercaya. 

Tapi semuanya mendadak berubah saat menjelang Pileg April yang lalu, partai-partai yang ada mulai memunculkan tokoh-tokoh yang menonjol di partainya. Meskipun capres yang digusung masing-masing partai tidak berubah jauh dari apa yang aku lihat di koran 1,5 tahun yang lalu, namun ada tokoh yang menjadi buah bibir masyarakat. Tokoh yang saat itu masih menjadi Gubernur di DKI dan serta merta ditunjuk rakyat untuk menjadi Capres. Dan inilah perubahan-perubahan yang terjadi pada Pilpres 2014:

1. Banyak orang yang menolak golput dan melakukan berbagai macam cara demi dapat menggunakan hak suaranya. Seorang nenek yang mengurus C5 untuk anak dan cucunya agar bisa mencoblos di Jakarta. Seorang pemuda yang biasanya selalu golput karena alamat KTP berbeda dengan alamat sekarang akhirnya harus bersusah payah mencari tempat fotokopi demi bisa mencoblos di TPS sesuai KTP-nya. 

2. WNI di luar negeri yang biasanya kurang excited untuk memilih, pada pemilu ini berbondong-bondong memilih. Bahkan di Hong Kong sampai kurang surat suara. Selain itu, di beberapa negara lain pun antrian pemilih mendadak panjang seperti di Sydney. 

3. Quick count menjadi hal yang paling disoroti dari proses pemilu ini. Masyarakat mulai “melek” mengenai quick count. Mulai banyak masyarakat yang kritis menyoroti masalah perbedaan hasil quick count yang muncul di hari Pemilu. 

4. Masyarakat pun jadi tahu bedanya antara Black campaign dengan negative campaign meskipun pada akhirnya tidak semua masyarakat dapat kritis memilah-milah. Tetap ada unsur fanatisme berlebih yang muncul dalam menyaring informasi yang mereka terima.

5. Pada akhirnya masyarakat dapat menilai sendiri mana calon yang patut didukung berdasarkan hal-hal yang muncul selama proses panjang pemilu ini. 

Well, siapapun yang menang, yang menang tetap Rakyat Indonesia karena kami sudah melewati sebuah proses demokrasi yang tidak biasa. Proses demokrasi yang mendewasakan kami, membuat kami melihat banyak pelajaran baru untuk membangun demokrasi yang lebih matang di negeri ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s