Dilema HRD


Dulu ketika aku ujian Profesi Psikolog, penguji aku berpesan bahwa:

“Menjadi Psikolog itu adalah untuk melayani power (perusahaan) dan juga melayani people (karyawan)”

Ketika itu dia menceritakan bahwa di dunia Psikologi Industri organisasi kita akan menemukan banyak sekali praktik-praktik yang melanggar kode etik maupun kewajiban kita sebagai psikolog. Namun demikian, kita perlu lebih mantap lagi dalam menegakkan kode etik agar tetap dapat memegang sumpah kita ketika dilantik. Pada akhirnya aku berada di posisi dimana semua itu terjadi, posisi yang mengharuskan aku berpijak pada dua sisi. Sisi berhadapan dengan manajemen, dan sisi berhadapan dengan karyawan. Ketika semua dikembalikan kepada peraturan, ternyata tidak segampang itu, banyak jeritan suara hati baik dari diri sendiri maupun orang lain. Suara hati yang mengajak untuk melihat dari sisi kemanusiaan. Sesuatu yang kadang membuat aku berpikir untuk tidak terlalu mempedulikan suara itu. Tapi aku tidak bisa, karena aku berusaha untuk menempatkan posisiku dalam posisi orang lain.

Tidak terasa aku sudah menjalani hal ini lebih dari 3 bulan. 3 bulan lebih yang benar-benar mengajarkan aku banyak hal. Aku berusaha untuk tetap memegang teguh peraturan, mencoba menjalani banyak hal yang selama ini aku kira di luar kemampuan aku. Aku mencoba memahami setiap motif dari setiap tindakan karyawan-karyawan itu. Aku mencoba mencari jalan keluar dari segala macam mis-komunikasi antara manajemen dengan karyawan. Aku berusaha menjadi penengah di antara mereka meskipun kadang aku terseret untuk menjadi salah satu dari mereka. Aku bahkan harus menjalani beberapa hal yang sebenarnya tidak sesuai dengan hati nurani aku. Well, kedisiplinan yang sulit ditegakkan yang membuat aku dapat menghalalkan segala cara untuk menumbuhkan kesadaran mereka mengenai disiplin. Disini ada dua kepentingan yang selalu berbenturan, ada dua pihak yang mau tidak mau harus saling mengerti. Entah perusahaan yang harus selalu mengerti karyawan atas ketidak disiplinan mereka atau karyawan yang harus mengerti dampak buruk ketidak disiplinan mereka terhadap perusahaan. Aku pun harus memahami adanya ketimpangan diantara beberapa lokasi perusahaan yang berbeda. Selain itu, aku juga berlatih untuk lebih peka terhadap segala macam kondisi yang mereka alami tanpa menjadikan kondisi itu sebagai excuse atau alasan bagi mereka. 

Kondisi ini mengingatkanku pada ucapan salah satu manager di kantor yang menyatakan betapa tidak enaknya kursi yang ia duduki saat ini. Ada tanggung jawab yang ia emban terhadap manajemen, serta tanggung jawab terhadap para karyawan. Situasi yang juga aku rasakan saat ini, situasi yang membuat aku begitu takut disebut sebagai muka dua. Padahal tujuan aku cuma satu, menjadi jembatan bagi mereka. Tentunya untuk menjadi jembatan aku harus cukup kokoh menopang diriku sendiri maupun menopang orang-orang yang akan aku sebrangkan agar jembatan itu tidak menimbulkan masalah di kemudian hari. 

Aku hanya berdoa agar aku bisa menjalani pekerjaan ini dengan berpegang teguh pada kebijaksanaan tanpa melupakan sisi manusiawi. Aku berharap agar aku tetap berjalan di jalan yang benar, namun aku juga tidak melupakan kodratku sebagai manusia sosial yang juga butuh menjaga persahabatan dengan sesama manusia. 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s