Time and Distance Heals Everything


Seperti tulisan aku di sini, bahwa sepuluh tahun yang lalu dari tahun 2012 adalah tahun yang begitu penuh cerita buat aku. Tahun dimana ada banyak hal yang aku mulai, dan pada akhirnya aku belajar banyak hal dari sana. Apa yang aku mulai di tahun 2002 itu, sedikit banyak harus selesai di tahun 2004 sejalan dengan berakhirnya masa SMA aku. Di tahun inilah semakin banyak pelajaran yang aku petik dari apa yang aku mulai di tahun 2002-nya.

Kemarin, mendadak aku dan seorang teman menyadari kalau kami sudah mengakhiri masa SMA selama 10 tahun. Yups, Juni 2014 nanti itu artinya aku sudah lulus dari SMA selama 10 tahun. 10 tahun meninggalkan bangku sekolah, 10 tahun memasuki apa yang orang bilang sebagai kehidupan nyata, dan 10 tahun menutup rapat-rapat cerita tidak menyenangkan tentang persahabatan yang harus terjadi di masa SMA-ku.

Dengan penuh rasa syukur, aku pun bisa tersenyum hari ini karena dalam 10 tahun itu aku sudah belajar banyak. Dalam 10 tahun ini aku sudah berusaha menata kembali kehidupanku, membangun kembali rasa percaya pada yang orang-orang sebut sebagai sahabat. Aku pun mencoba merangkak perlahan untuk bangun sendiri tanpa sahabat-sahabat yang seharusnya ada di samping aku. Mungkin orang yang tidak mengetahui secara detail cerita ini akan menyangka aku ditinggalkan sahabatku, tapi sebenarnya sebagian dari mereka tetap ada dan siap sedia untukku. Hanya saja, saat itu aku merasa mereka bukan lagi sahabatku, buatku saat itu mereka semua sama.

Orang bilang “Time heals everything”, dan mungkin memang ini yang terjadi selama 10 tahun ini. Aku belajar untuk percaya lagi dengan sahabat-sahabatku, aku belajar untuk menerima banyak hal tentang mereka selama 10 tahun ini. Butuh beberapa tahun sampai akhirnya aku bisa menerima kembali mereka yang menurutku punya andil paling besar. Butuh beberapa tahun aku mencoba menganggap mereka tidak ada dan melebarkan selebar-lebarnya jarak di antara kami. Sehingga pada akhirnya aku bisa menambahkan “Time and distance heals everything” Karena pada akhirnya jarak yang semakin jauh memisahkan aku dan seluruh sahabatku di masa SMA selama beberapa tahun selepas kami meninggakan SMA benar-benar bisa membuatku berpikir jernih.  Jarak dan waktu itu membuat aku menyadari bahwa yang namanya sahabat itu tidak akan pernah tergantikan oleh apapun, bahwa kami sudah melewati banyak hal bersama yang tidak mungkin terulang. Kami hanya butuh saling memaafkan dan menerima apa adanya masing-masing.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s