Blessed in Other Ways


Dulu zaman awal masuk kuliah, aku sedikit menganggap diriku berbeda dari teman-teman yang lain, teman-teman yang baru lulus SMA dan menikmati euforia jadi mahasiswa. Yup, I can said that I’m different coz I’ve already graduated from high school a year before them. Jadi mahasiswa baru yang bukan baru lulusan SMA karena aku sudah menjalani petualangan setahun di negeri orang. Belajar bahasa Mandarin, belajar adat kebudayaan dan bertemu dengan berbagai macam polah tingkah laku orang dari berbagai penjuru dunia.

Dengan background berbeda seperti ini, aku begitu senang ketika bertemu dengan orang-orang yang “sama” seperti aku. Sama disini artinya memiliki kesamaan dengan aku barang satu atau dua hal. Aku senang ketika bertemu dengan seorang teman yang ternyata juga lulus tahun sebelumnya dan terpaksa masuk kuliah tahun ini karena harapannya untuk masuk PTN tahun kemarin tidak tercapai. Hal ini membuatnya mengulang peruntungannya kembali di tahun ini untuk masuk PTN. Aku juga senang ketika bertemu dengan teman-teman yang sama-sama naik busway dan bersorak “orang ini rumahnya searah ama gue. ”

Ngerasa sendiri, ngerasa asing, ngerasa ga belongs to nowhere, mencoba masuk temenan ke sana-sini tapi kayanya gak cocok. Sampai akhirnya aku bertemu dengan sekelompok yang ngerasa “klik” tapi bukan karena kami sama. Mungkin ini yang orang sering sebut dengan jodoh. Kalo dari segi kesamaan aku cuma sama dengan dua orang. Sama-sama tinggal di kota, dan sama-sama pernah merantau. Kalau dua yang lainnya itu tidak ada persamaan apa-apa, hanya karena sering bersama akhirnya kami jadi sahabat sampai sekarang. Nah, salah satu dari dua orang yang tidak sama inilah yang menyadarkan aku dengan sebuah pelajaran hidup paling berharga yang ternyata sekarang sering dilupakan banyak orang, bahkan aku sendiri pun sering lupa.

" Enak yah jadi lu, pernah ke China, sendiri pula, gue pengen banget kaya gitu. Penuh petualangan. "

Begitulah ucapannya di awal-awal persahabatan kami kurang lebihnya seingatku. Ketika dia mengucapkan itu, aku sedang berada dalam tahap tidak puas dengan hidupku. Adaptasi yang sulit di awal kuliah dan situasi-situasi tidak nyaman lainnya sisa-sisa bawaan dari persahabatan di masa SMA. Aku merasa gak ada gunanya aku bertualang ke negeri orang, bikin susah aja pas masuk kuliah begini. Aku begitu tersentuh ketika ada orang yang merasa hidup aku itu enak, kalau dia pengen jadi kaya aku bertualang ke negeri orang. Lalu, kenapa aku sendiri yang ngejalaninnya malah ga seneng, ataupun bersyukur.

Sebuah pertanyaan yang aku endapkan dalam-dalam dan coba aku maknai selama bertahun-tahun. Pertanyaan yang selalu muncul setiap aku mulai merasa hidupku berjalan tidak sesuai rencana, ketika aku mulai banyak mengeluh. Meskipun pada akhirnya masih ada yang menganggap aku banyak mengeluh karena mereka merasa aku menganggap orang lain lebih enak dari aku. Sebuah tamparan juga datang ketika aku banyak mengeluh selama thesis kemarin dan memprotes keadaan yang selalu tidak bersahabat denganku. Sahabat-sahabat baruku pun mengingatkanku akan ungkapan dari sahabatku di S1 itu. Bahwa di setiap kesulitan yang aku hadapi, aku masih memiliki banyak berkah lain, aku masih punya keluarga dan sahabat yang selalu mendukung aku. Ada pula keberuntungan-keberuntungan kecil yang tidak disadari selalu menyertai langkahku, menyelamatkanku dari lubang-lubang yang lebih dalam lagi.

Tepat di saat itu pula aku mendengar keluh kesah sahabatku di SMA tentang betapa hidupnya penuh beban, tidak seperti teman-teman yang lain. Padahal teman-teman yang lain juga menjalani perjuangan yang sama sepertinya, bahkan mungkin dengan effort yang lebih. Tepat di saat itu pula seorang saudaraku merasa bahwa hidupnya yang orang-orang anggap menyenangkan itu sangat menyulitkannya. Ia pun tidak mensyukuri segala berkah yang sudah dia terima dalam hidupnya.

Well, ternyata memang setiap orang punya berkahnya masing-masing. Apa yang tidak kita syukuri mungkin saja menjadi berkah buat orang lain. So, aku selalu percaya dan selalu berusaha membuat orang percaya bahwa setiap orang itu beruntung dengan berkah yang berbda-beda. Sama halnya seperti talenta dan karakter yang kita miliki sebagai manusia. =)

photo-1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s