Kantor Imigrasi Jakarta Part 2


Selang 2 hari, aku pun datang kembali ke Kantor Imigrasi. Sesampainya di sana sudah gak dapet parkir dan dicegat oleh tukang parkir yang tampak tidak bersahabat. Dia berkali-kali menjelaskan kalau nomor sudah habis dan sudah tidak ada parkir. Akhirnya setelah berputar mencari parkir, kami langsung masuk ke pelataran kantor imigrasi. Kali ini gak ada satpam yang cegat di depan kaya kemarin karena satu-satunya satpam yang ada tampak sedang melayani beberapa pengunjung. Satpam hari ini berbeda dari satpam yang kemarin, hari ini bukan lagi satpam muda dengan tampang songong tapi satpam sudah agak tua yang penuh senyum.

Masuk ke bagian dalam, ada banyak sekali orang dan suasana tampak riuh. Melihat sekeliling mencari informasi yang bisa membantu, namun tidak ada hanya ada pengumuman permintaan maaf atas ketidaknyamanan selama perubahan sistem. Masuk ke bagian dalam lagi, suasana lebih ramai dan ada beberapa orang keluar masuk kantor, yang aku sendiri pun tidak tahu kantor apa. Di kaca-kaca yang ada disana hanya ada tempelan persyaratan dokumen untuk membuat passport. Sama sekali tidak ada hal informatif lainnya. Akhirnya aku memberanikan diri untuk bertanya pada satu bapak yang keluar dari ruangan.

Saya (S): Pak, ambil nomornya dimana ya?

Bapak (B): Ibu ngurusnya ama siapa?

S: Enggak, gak sama siapa-siapa.

B: Sendiri?

S: (Mengangguk)

B: Oh.. ambil nomor dulu di depan sana (Sambil  nunjuk ke salah satu bagian gedung). Tapi kayanya uda ga dapet.

Dengan langkah semangat gontai akupun berjalan menuju posisi satpam yang kemarin dikerubungi orang. Berbeda satpam, tampak lebih komunikatif cuma rasanya lebih menyebalkan.

S: Pak, ambil nomornya dimana?

Satpam (P): Wah uda abis bu. Pagi-pagi dari jam6 uda abis sekali saya buka gerbang. Saya ga tau itu orang pada dateng jam berapa.

S: Yah gmn ya pak? Saya coba online gak bisa. Dokumen ditolak katanya.

P: Uda bayar?

S: belom pak, boro2 bayar.

P:  Oo ya uda.

S: Trus gimana onlinenya pak?

P: Saya ga tau, coba tanya itu sama yang online juga.

Dan di belakang bapak itu tertempel poster demikian:

IMG_0087

Meringis rasanya pas baca poster itu dan aku malah mendapat informasi panjang lebar dari seorang cici yang daftar online. Selain itu, ada juga seorang koko yang menceritakan dia sudah daftar online, sudah bayar, tapi pas mau cap sidik jari dibilang datanya belum masuk. DItunggu-tunggu gak ada kabar juga sampe dia telepon lagi dan dibilang belum ada kabar. Akhirnya hari ini dia coba kembali datang. Seorang temannya juga bercerita kalau dia tertimpa kasus yang sama seperti koko itu, tapi akhirnya data dia ketemu. Gimana orang-orang gak pada lari ke calo kalo petugasnya aja gak informatif kaya gitu. Gimana orang-orang ga lari ke calo kalo coba urus sendiri kena masalah mulu.

Berjalan sedikit ke depan, ada lagi poster seperti berikut:

IMG_0088

Sebuah poster yang isinya sangat berbeda pada apa yang terjadi di ruangan yang tak jauh dari poster itu. Himbauan yang seolah tidak ada fungsinya karena diabaikan begitu saja bahkan mungkin (maaf) oleh petugas yang memasangnya.

Entah perubahan sistem ini akan membuat lebih baik atau malah membuat calo merajalela. Di negara mana bikin passport musti dateng jam6 pagi buat ambil nomor. Ngebayanginnya uda kaya lagi daftar mata kuliah anak ekonomi yang jumlahnya ribuan itu. Musti rebutan kalo gak begitu, gak bisa dapet dosen enak. Sistem itu seharusnya membuat jadi lebih efisien, semakin banyak yang bisa dilayani, semakin banyak yang bisa dijangkau. Lah ini kenapa jadi dibatesin jumlah yang mau ambil nomor?

Kalaupun sistemnya belom jalan, masih uji coba, yah kenapa enggak ditunda dulu pelaksanaannya. Siapin server dulu, siapin SDM dulu, sehingga ketika sistem siap jalan, errornya akan semakin minim. Jangan kaya sekarang, sistem uda jalan, tapi yang komplen karena gak kebagian nomor malah banyak banget. Belom lagi ada orang yang pake “biro jasa” (entah legal atau tidak) bisa dengan bebasnya mengantri dengan perlakuan khusus.

Mungkin maksud pemerintah baik, penerapan sistem ini guna meminimalisir peredaran para calo. Tapi ternyata dampaknya malah membuat orang jadi berpikir lebih baik pake calo daripada urus sendiri.  Mungkin beberapa orang sudah bersorak sorai karena berhasil via online, tapi ternyata masih banyak yang perlu dibenahi juga soal daftar online ini.

Terus kalo begini urusannya kapan gue perpanjang passportnya ya?

#prayforbetterIndonesia

One thought on “Kantor Imigrasi Jakarta Part 2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s