‘Cause We Are a Big Family


" Keluarga besar itu ribet! Kepo. Apa-apa mau tau, apa-apa bisa nyebar. Pokoknya gak bebas dhe hidup di keluarga besar. Belom lagi jumlah yang banyak yang musti diafalin satu-satu panggilannya, bikin pusing aja. Terus ada juga ntar yang sirik-sirikan, marah-marahan, ga tenang dhe. "

Komentar-komentar di atas lah yang seringkali aku dengar sehubungan dengan kata keluarga besar. Yup that’s right. Semua ke-kepo-an dan ke-ribet-an yang berlandaskan care, perduli, dan lain sebagainya. Itu pula yang aku lihat sepanjang hidup aku, seolah ada banyak undang-undang tidak tertulis yang harus dijalani dalam hidup berkelurga besar. Urusan balik dari perantauan yang musti info ke seluruh keluarga besar. Urusan mau berangkat lagi  ke perantauan yang satu-satu musti di info-in. Lulus kuliah, dapet pacar, mau married, punya anak, dll semuanya harus rata dan adil dapet infonya. Belum lagi ketika harus rebutan tahun married ama sepupu karena ada konsekuensi ga bisa hadir satu sama lain. Atau ketika kita dapet pacar yang ga sesuai harapan keluarga, efeknya bisa ke satu keluarga besar pada ngomongin masalah ini. Tentunya juga tidak terlepas dengan lika-liku dan etika hidup bersama lebih dari satu keluarga inti dalam satu rumah. Dan ada BERIBU masalah lain yang mengikuti di belakangnya.

Aku lahir dan tumbuh dalam lingkungan seperti ini, belajar banyak dan mengerti banyak perlahan-lahan. Melihat pengorbanan-pengorbanan terjadi, melihat toleransi-toleransi terlaksana yang semuanya terasa begitu indah meskipun kadang ada nuansa sedihnya juga. Hidup dan besar dalam rumah yang ditinggali lebih dari satu keluarga inti dengan didikan dari nenek yang penuh cinta kasih dan kesabaran mama yang seolah tidak berbatas membuat aku belajar mengenai senjata paling ampuh untuk bertahan dalam permasalahan-permasalahan yang aku temui dalam hidup berkeluarga besar.

Akhir-akhir ini ada beberapa permasalahan yang bermunculan dalam keluarga besar kami, dan juga di dalam rumah yang aku tinggali. Bukan permasalahan besar yang gawat, namun masalah kecil yang bisa  menyulut pertengkaran besar kalau dibesar-besarkan. Dari hal-hal seperti inilah aku belajar, belajar bagaimana cara menjawab, bagaimana cara menenangkan, bagaimana memutuskan, dan lain sebagainya. Kadang apa yang kita pelajari belum tentu dapat kita aplikasikan. Butuh latihan yang berpuluh kali banyaknya untuk dapat menguasai apa yang kita pelajari dan tentunya butuh kesabaran luar biasa untuk dapat melakukannya.

Rasanya tidak ada rasa syukur yang dapat melampaui rasa syukurku untuk dapat lahir di keluarga ini. Sesekali papa juga pernah bilang bahwa tidak salah kok kalau orang-orang menyebut keluarga kami adalah keluarga kaya karena ada hal-hal yang kami miliki tapi tidak dimiliki keluarga lain. Kekayaan yang bukan berbentuk harta benda, namun kekayaan lain yang hanya bisa dirasakan.

Thanks Life for meeting my great parents 31 years ago and brought me to this family. It’s such a blessing to live this kind of life..🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s