From North to the South of Jakarta


Perjalanan ini bermula dari menginapnya seorang teman kuliah S1-ku yang berniat untuk berjalan-jalan di pecinan Jakarta. Saat ide itu muncul, aku pun langsung membayangkan kami akan berjalan-jalan di sekitar Pasar Petak 9 mencoba berbagai jajanan yang ada disana. Beberapa ide pun sudah di susun untuk mencoba kuotie, bakmi, dan makanan-makanan pecinan lainnya. Namun, sayangnya ide tersebut tidak jadi kami realisasikan karena postingan yang sering muncul di Path (social media semacam facebook) kami akhir-akhir ini.

Berawal dari pertanyaannya apakah aku pernah makan di Hong Tang atau belum, akhirnya kami memutuskan untuk makan di restoran dessert yang namanya sering berseliweran di Path kami. Hal berikutnya yang kami lakukan adalah mengumpulkan beberapa teman lain yang mau ikut perburuan kami ini. Hasilnya adalah 2 teman SMA-ku, dan 1 teman kuliah kami memutuskan untuk ikut perburuan kami ke bagian Utara Jakarta untuk mencoba dessert yang sedang ramai dibicarakan di Path maupun di Instagram.

Hong Tang adalah sebuah restoran khusus dessert yang menjual dessert ala Taiwan dan ala Hong Kong. Isi dessertnya itu bervariasi, ada kacang-kacangan seperti red bean, kacang hijau, jali-jali(barleys), ada juga kembang tahu, biji salak, grass jelly, dan lain sebagainya. Setiap jenis dessert punya speciality masing-masing ada yang disajikan dingin, panas, dengan susu, dengan kuah gula merah, dan lain sebagainya. Di Jakarta, ada dua cabang Hong Tang yang sudah dibuka, yang pertama adalah di Muara Karang yang sebelumnya dikenal dengan nama Swee Poetry. Yang kedua adalah yang di Pantai Indah Kapuk (PIK) yang menjadi tempat tujuan kami. Kami sempat search di internet kalau tempat yang di Muara Karang lebih nyaman daripada yang di PIK, namun karena mobil kami salah belok, jadilah kami mengunjungi Hong Tang yang di PIK. Tanpa tahu posisi persisnya Hong Tang di PIK, kami pun menyusuri sepanjang restoran-restoran di PIK sampai akhirnya ada seorang bapak-bapak yang memberitahu kami ketika kami sedang bertanya pada petugas parkir. Setelah itu mobilpun langsung kami arahkan sesuai petunjuk bapak tersebut. Sesampainya di Hong Tang, antrian nya benar-benar ramai sampai ada banyak bangku-bangku di depannya. Namun, ternyata kami tidak perlu menunggu lama sampai kami diantarkan ke tempat duduk di lantai 2. Di lantai dua ini, dinding di dekor dengan wallpaper yang menarik, dan ada beberapa meja yang semuanya penuh. Meja yang penuh inilah yang membuat lantai dua ini terasa seperti pasar karena ada banyak orang yang mengobrol disana. Dari 5 macam menu berbeda yang kami pesan, hanya ada 2 hal yang menurut kami rasanya enak, yang pertama adalah ice cream matcha dan ronde. Harga yang dibanderol untuk makanan-makanan di sini bervariasi mulai dari 26ribu rupiah sampai 40ribu-an rupiah. Lagi-lagi menurut kami, harga sekian untuk dessert boleh dibilang tidak sebanding dengan rasa yang kami dapatkan. Namun, berdasarkan opini dari teman lain yang tidak ikut kami hari ini, ia menyukai dessert-dessert yang ada di Hong Tang ini.

Soya Dessert Q Ball with Pearl and Ice Cream

Keesokan harinya, kami memutuskan untuk mengunjungi Collete and Lola di daerah Senopati, Jakarta Selatan. Sebelumnya aku dan dua orang teman SMA-ku pernah mengunjungi tempat ini di salah satu weekend kami, namun sayangnya hari itu parkiran penuh sehingga kami memutuskan untuk pulang. Hari ini, didorong rasa penasaran aku dan temanku yang menginap karena lagi-lagi banyak orang yang posting di Path mengenai resotran ini, akhirnya kami pun pergi ke Senopati. Masih dengan judul dessert, restoran ini menyediakan berbagai macam camilan bergaya western seperti cake, cupcakes, dan macaron. Ada juga kue-kue ulang tahun yang didesain cute dengan kotak yang juga tidak kalah cute. Over all, dari empat jenis kue yang kami pesan aku memberi nilai 8 untuk nilai sempurna 10. Terus terang aku lupa nama-namanya apa aja, tapi kalau memang mau tahu nama-nama dari cake ini, kita bisa langsung cari di websitenya. Harga yang dibanderol untuk dessert ini pun bervariasi, mulai dari 10ribu rupiah sampai 30ribu-an rupiah. Ada pula minuman yang di jual di restoran ini yang bekerja sama dengan d’Journal Cafe yang harganya berkisar antara 18ribu sampai 30ribu-an. Untuk desain ruangan dari resotran ini sanga-sangat unyuable, banyak barang cute yang dipasang dengan warna-warna pastel yang menambah ke-cute-an dari restoran ini.

2013-10-15 14.38.41

Selesai dari Collete and Lola kami pun membelah bagian lain dari Selatan Jakarta. Kemang Village menjadi tempat tujuan kami berikutnya dengan anggota yang berkurang satu. Di Kemang Village ini praktis kami hanya mengelilingi mall dan melihat isi toko-toko di mall itu. Melihat suasana baru, dan merasakan atmosphere yang berbeda dari mall-mall yang biasa kami kunjungi.

Perjalanan kami ini pun akhirnya ditutup dengan mengunjungi Gandaria City untuk makan malam di Fook Yew Restaurant. Restoran Chinesse Food dengan desain restoran yang nyentrik abis. Masih tetap dengan nuansa Chinese dan beberapa atribut tulisan Mandarin namun dengan warna yang tabrak warna yang membuat desain ini menjadi nyentrik. Jenis makannya beragam, dibagi menjadi side dish, main course, dan dessert. Untuk dessert, restoran ini juga menyediakan bubble tea dengan alkohol dan tanpa alkohol. Harga yang dibanderol untuk  makanan disini pun beragam dari mulai belasan ribu rupiah sampai ratusan ribu rupiah. Untuk porsi makan bertiga dengan 4 jenis sayur dan dua side dishes, harga di restoran ini menurut kami masih tergolong mahal. Dari segi rasa, Baby Kailan, dan Bakmi Goreng yang kami pesan boleh untuk diberi nilai tinggi. Sayangnya, tidak satupun dari kami yang mencoba bubble tea-nya karena takut kekenyangan.

Baby Kailan, Mun Beancurd, Ngohiong, Chinesse Tea
Baby Kailan, Mun Beancurd, Ngohiong, Chinesse Tea

 

Beginilah hari kami ditutup di Jakarta yang sepi karena hari Libur Lebaran Haji. Jakarta yang bebas macet ini memungkinkan kami untuk mengunjungi tiga tempat sekaligus dalam setengah harian. Dari 4 tempat yang aku kunjungi dalam 2 hari ini ada beberapa hal menarik yang berhasil aku tangkap:

1. Pengaruh sosial media untuk marketing produk sangatlah kuat. Hanya dengan postingan di Path dan Instagram ternyata berhasil menarik customer-customer baru untuk restoran maupun kafe.

2. Mall itu seolah menjadi pemersatu di Jakarta karena di mall ini berbagai macam etnis berkumpul, ada orang Jawa, Sunda, Padang, Medan, Bule, Chinese, dll. Ada mall yang mungkin memiliki mayoritas pengunjung dari etnis tertentu, tapi ada juga mall yang pengunjungnya terdiri dari berbagai macam etnis.

3. Kalau mau eksis di Jakarta itu mahal. Coba bayangin aja kalau misalkan kita rajin ngikutin tempat-tempat happening yang ada di Jakarta, bisa-bisa tiap minggu kita musti merogoh kocek untuk nyobain restoran-restoran itu.

4. Berjalan-jalan ke tempat yang gak biasa kita kunjungi memang sesekali perlu untuk dilakukan. Karena dengan begitu kita bisa melihat banyak hal baru dan kebiasaan baru. Hal ini juga bisa menjadi ajang untuk refreshing dari kepenatan dari rutinitas kita.

5. Belum tentu tempat yang ramai dibicarakan orang itu memang benar-benar tempat yang asyik buat kita. Well, setiap orang memang punya seleranya masing-masing dan wajar aja kalau ternyata kita ga dapet pengalaman yang sama seperti orang lain di tempat yang sama.

Thanks Jakarta for today, gonna have another fun with you next time. ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s