Hidup di Jakarta itu Keras


Heboh pengemis minta gaji 10 juta akhir-akhir ini membuat aku tersenyum miris menertawai diri sendiri. Aku pun menamai diriku sebagai Anak Jakarta yang kehilangan gaya hidup perkotaan. Saat ini aku akhirnya sampai lagi pada tahap dimana menarik uang di ATM menjadi hal yang menakutkan dan mengecek saldo tabungan pun tidak lagi semenyenangkan dulu. Hal yang sama yang aku alami sekitar setahun yang lalu. Setahun yang lalu aku berpikir positif kalau masa-masa ini akan segera berlalu saat aku lulus dan mendapatkan pekerjaan. Harapan yang simpel dan tidak muluk-muluk. Namun, penantian setahun itu pun akhirnya tidak juga kunjung tiba, aku masih harus bertahan dalam kondisi ini sampai aku benar-benar dinyatakan lulus dari Magister Psikologi ini.

Situasi ini membuat aku berpikir banyak-banyak untuk main-main di mall, bersosialisasi dengan teman-teman ataupun hanya sekedar untuk santai di coffee shop sambil mengerjakan thesis. Keadaan aku saat ini, membuat aku merasakan kalau uang 100ribu itu sangat-sangat berharga. Uang 100ribu yang kalau di bawa ke mall itu paling-paling hanya bisa untuk mengisi perut. Ditambah lagi inflasi harga yang baru-baru ini terjadi yang membuat beberapa restoran siap saji menaikkan harga mereka. Ke mall yang dulunya cukup dengan membawa uang 50-100rb, sekarang 100rb itu menjadi angka minimal.

Sebagai seseorang yang kembali menyandang status mahasiswa di antara teman-teman yang sudah bergaji mendekati gaji yang di minta oleh para pengemis di Bandung, aku pun mulai merasa megap-megap. Bukannya aku tidak mau ikut kelas-kelas di tempat fitness seperti mereka, bukannya aku tidak mau travelling setahun minimal sekali untuk menghadiahi diri sendiri. Tapi memang kenyataannya belum saatnya aku mengikuti kebiasaan mereka.

Ini baru gaya hidup, gaya berlibur, dan gaya menikmati uang hasil jerih payah yang bisa merogoh kantong cukup banyak. Masih ada lagi masalah transportasi yang semakin mencekik leher. Entah itu karena harga bensin, parkir, dan tol yang semakin mahal, atau karena kemacetan yang masih belum bisa terurai. Parahnya lagi  transportasi umum yang ditawarkan di Jakarta pun masih tetap terasa mencekik leher para penggunanya.

Well, hidup di Jakarta memang keras tapi di sinilah kita di tempa untuk berusaha lebih keras lagi agar tidak kalah dengan keadaan. Stressor datang dari berbagai sisi, jadi untuk menghadapinya pun kita musti pinter-pinter menempatkan diri.

Smangat!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s