Gerbong Ini pun Kembali Melaju


29.07.13

LEGA! Satu rasa yang kembali muncul hari ini setelah melewati sebuah proses lain yang menjadi penutup atas semua perjalanan kerja praktek kami. Lega karena akhirnya kami berhasil mempertanggung jawabkan kerja keras kami selama kurang lebih 8 bulan. Lega karena kami akhirnya berhasil menambah panjang nama kami dengan gelar Psikolog. Sebuah profesi yang masih begitu ambigu di Indonesia, profesi yang masih antara ada dan tiada meskipun sudah mulai banyak orang yang mulai mengenal dengan benar profesi ini. Kenapa aku bilang mengenal dengan benar? Karena selama ini banyak yang mensejajarkan kami dengan dukun ataupun ahli cenayang, atau kalau mungkin lebih keren dikit kami disamakan dengan tukang catat absen dan tukang gaji pegawai. Selama proses inilah aku belajar kalau profesi ini lebih daripada itu, profesi yang mungkin sama mulianya dengan seorang dokter. Kami melayani dengan hati, kami mengabdi dengan hati karena kesalahan kecil dari kami dampaknya begitu besar untuk kehidupan seseorang maupun sekelompok orang.

Delapan bulan yang telah kami jalani ini juga telah memberi banyak pelajaran berharga untuk kami dan khususnya untukku. Delapan bulan dengan 3 perusahaan berbeda dan dengan 3 tim yang berbeda sungguh membuat aku tidak hanya belajar memahami mereka satu persatu namun juga belajar untuk lebih memahami diriku sendiri.

Mereka-mereka inilah yang membuat proses yang begitu panjang dan tidak mudah ini terasa sedikit lebih ringan. Kerenyahan tawa, suntikan semangat, keceriaan, kesulitan, dan lainnya kami bagi bersama. Disinilah kami menempa semua itu menjadi satu dan merangkainya menjadi sebuah cerita. Perjalanan kami memang belum selesai, gerbong ini pun masih harus melaju, namun setelah melewati tahap ini rasanya aku patut bersyukur karena sudah mengenal mereka.

Setidaknya selama proses ini aku melihat contoh nyata dari banyak pepatah ataupun kata-kata bijak yang selama ini hanya didengar atau dibaca saja. Peristiwa-peristiwa nyata sehubungan dengan perjuangan hidup dalam mencapai cita-cita ataupun keajaiban-keajaiban yang kami temui selama perjalanan ini.

“Miracle is outside your comfort zone”

Pepatah ini pertama aku baca di sebuah picture profile BBM temanku, yang jelas saat ini aku sudah lupa siapa orangnya. Saat pertama membaca hal ini, boleh dibilang aku sedang berada di dalam situasi yang kurang nyaman. Situasi kurang nyaman yang mempertemukanku dengan keajaiban pertama. Keajaiban yang bernama kesempatan. Setelah itu, aku bertemu dengan keajaiban-keajaiban lain selama aku menjalani sesuatu yang bukanlah zona nyamanku. Kejaiban lain yang bernama persahabatan, dan keajaiban lain yang bernama impian yang hampir tercapai. Rasanya saat menyadari hal ini, aku justru tersenyum bahagia pada proses yang mengharuskan aku keluar dari zona nyamanku selama ini. Aku begitu bersyukur telah melewatinya dengan sikap optimis dan keyakinan bahwa aku akan melewati semua ini tepat pada waktunya.

” You can’t control the world, you only can control your reaction to the world”

Ucapan ini sudah seringkali aku dengar dan aku baca dimana-mana, hal ini pula yang selalu ditekankan oleh kedua orang tuaku bahwa lingkungan itu menjadi salah satu faktor penentu kehidupan seseorang. Sebagai orang yang punya Locus of control external (orang yang cenderung ikut lingkungan), hal ini ngefek banget buat aku. Bertemu dengan 3 tim dengan dua jenis gaya yang berbeda dalam menghadapi masalah yang berhubungan dengan tugas kami membuat aku berpikir mengenai hal ini. Masalah dan orang yang kami temui itu sebenernya sama, tapi kami bereaksi berbeda dalam mengatasi masalah tersebut sehingga hasil yang kami dapatkan pun berbeda. Benar-benar contoh yang begitu nyata dan jelas yang membuatku seolah tertampar untuk tidak selalu menjadi pengikut.

” Treat others as you want them to treat you “

Masih berhubungan dengan quotes sebelumnya, quotes ini juga seringkali aku dengar. Kenyataan bahwa ketika kita mendapatkan hasil yang berbeda saat berhadapan dengan orang yang sama, sedikit banyak juga dipengaruhi dengan bagaimana cara kita bersikap pada orang tersebut. Apa yang kita lakukan pada orang tersebut punya andil yang sangat besar pada apa yang akan orang tersebut lakukan pada kita.

” Jangan pernah bergantung pada dispensasi karena sebenarnya dunia ini kejam “

Seringkali kita memberi excuse pada diri sendiri terhadap dispensasi dispensasi yang sebenarnya menyesatkan. Hal inilah yang kadang kala malah menjadi hambatan dalam langkah kita. Berusahalah untuk selalu komit terhadap deadline yang sudah kita buat, dan berusahalah untuk tidak terlalu banyak memberi excuse pada diri sendiri.

” Kadang kita hanya perlu melakukan apa yang kita bisa lakukan semaksimal mungkin karena sekecil apapun itu bisa saja hal itu begitu berarti untuk orang lain “

Pertama kali aku terpikir dengan hal ini sejauh yang aku ingat adalah ketika aku kuliah semester awal. Saat itu aku hanya memberitahu mas-mas di busway kalau tasnya terbuka, dan tanpa diduga reaksinya begitu mengejutkan buatku. Dia berulangkali berterima kasih padaku dengan senyumnya yang paling lebar. Hal ini juga terjadi selama aku magang karena aku hanya melakukan apa yang aku mampu lakukan namun ternyata orang-orang di sekitarku menyambut dengan baik. Seperti cerita di tulisanku mengenai akhir magang.

” Kadang kita tidak bisa melihat sendiri apa yang ada dalam diri kita, untuk itulah kita perlu orang lain untuk membuka mata kita pada hal tersebut “

Butuh teman, dosen, orang tua, saudara, bahkan orang yang tidak kenal untuk membuka mata kita pada sesuatu yang kita miliki yang mungkin belum kita sadari. Aku seringkali mendengar hal ini dalam cerita tentang Jauhari’s Window, namun dalam magang ini aku baru benar-benar merasakan manfaat dari hal ini.

Well, ternyata proses selama lebih dari 8 bulan yang aku jalani bersama teman-teman bisa menghasilkan begitu banyak pelajaran berharga dalam hidup. Tidak hanya sekedar ilmu mengenai Industri dan Organisasi namun juga ilmu tentang bagaimana berelasi, bagaimana menghadapi masalah, dan yang paling penting adalah bagaimana bertahan dalam situasi yang tidak menyenangkan.

Terima kasih untuk gerbong-gerbong yang sudah kulewati

Terima kasih untuk perjalanan yang begitu penuh suka-duka

Terima kasih untuk teman-teman yang sudah memulai bersama dari awal namun ternyata tidak semua bisa menyelesaikannya bersama-sama

Terima kasih untuk kebaikan-kebaikan hati yang selalu menuntun pada keajaiaban

Terima kasih untuk kerja keras yang tidak pernah lupa membalas budinya

Terima kasih untuk malaikat-malaikat tanpa sayap yang selalu ada menemaniku

3 thoughts on “Gerbong Ini pun Kembali Melaju

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s