Antara Jakarta dan Singapore, Jakarta dan Bandung, Jakarta dan Warganya..


22 Juni 2013

Hari ini ulang tahun Jakarta dan ada 3 hal spesial tentang Jakarta buat aku hari ini. Here we go!

Pagi ini, kabar dari Singapur  mulai ramai lagi. Kabar tentang kabut asap kiriman dari Riau yang sangat mengganggu warga Singapur. Well sepertinya bukan lagi mengganggu tapi sudah mulai mengkhawatirkan karena katanya sudah dianggap bahaya. Beberapa saudaraku ada yang tinggal di Singapur dan mereka pun mulai kelabakan karena masker yang aman dipakai dalam kondisi udara seperti disana sudah habis dimana-mana. Mulailah mereka mencari masker itu dengan menghubungi kami yang di Jakarta. Pagi ini pun aku teringat dengan masa-masa heboh virus SARS yang menyebabkan kami harus pakai masker ke sekolah dan saat itu masker berbagai tipe habis dimana-mana. Hal ini juga yang terjadi saat ini, para penjual masker di beberapa apotik dan toko alat kesehatan di Jakarta mengaku kehabisan masker. Suatu hal yang sangat keren, Singapur kehabisa masker wajar karena memang keadaan disana perlu masker, tapi lucunya Jakarta bisa ikut-ikutan kena “rush” masker. Cerita ini menggambarkan betap eratnya keterikatan warga Jakarta dan Singapur. Boleh dibilang hampir sebagian besar wilayah Singapur dihuni oleh warga dari Indonesia yang mungkin aja tadinya di Jakarta terus karena satu dan lain hal harus pindah ke negera pulau itu.

Malemnya, layaknya beberapa warga Jakarta lainnya, aku juga menikmati Jakarta Great Sale di mall. Mall pilihan hari ini adalah TA (Taman Anggrek) dengan alasan menghindari keramian di daerah Thamrin, tapi kita lupa kalo Central Park ada midnite sale. Sehabis letih mengelilingi toko-toko, aku pun terduduk sambil menunggu temanku yang masih  belum cape ngeliatin barang-barang obral. Pandanganku beralih menuju gadget dan membaca pesan-pesan di BBM dan juga twitter, sebuah berita tentang amukan bobotoh Persib pada warga Jakarta yang masuk ke Bandung cukup mengejutkan aku dan temanku yang masih asyik berbelanja. Ternyata berita tersebut benar adanya dan bukan cuma broadcast message hoax. Keributan di hari Ulang Tahun Jakarta, sebuah kejadian yang sangat ironis. Hari Ulang tahun yang seharusnya diisi dengan ramah-tamah dan pesta-pora harus bersinggungan dengan keributan. Entah siapa yang memulai, yang jelas warga Jakarta dan Bandung sama-sama harus berbenah diri untuk menjadi supporter yang lapang dada menerima kekalahan dari pertandingan yang mereka jalani. Sportivitas tidak hanya perlu untuk atlit, namun juga untuk para pendukungnya.

Malam hari menjelang tengah malam, kami kembali dari mall menuju ke rumah. Perjalanan hari ini termasuk bagian dari “pembangunan Roma” buatku. Menyetir dari TA ke rumah lewat Tomang untuk menghindari sebaran paku di Roxy yang katanya mulai heboh lagi. Tapi lagi-lagi kami lupa kalau ujungnya Tomang itu dekat dengan Monas yang berarti masih mungkin ada sisa-sisa keramaian dari pesta Ulang tahun Jakarta di Monas dan sekitarnya. Jadilah aku harus menghadapi motor-motor yang tumpah ruah ke Jalan dan orang-orang yang juga tumpah ruah ke jalan dan serasa punya jalan. Belum lagi di tambah angkot-angkot carteran yang mendadak memadati jalanan di sekitar Harmoni. Benar-benar menambah tension di tengah rasa was-was karena baru bisa bawa nyetir mobil. Kalo kata temanku “Gak ada Noda gak belajar, sekali-kalil ngerasain jalanan yang ga biasa.”, yang aku balas dengan “Everyone needs their first time, jadi maafkan gue kalo bikin kejutan-kejutan yang bikin kalian mules. ”

Beginilah Jakarta yang mencoba menghibur warganya di hari ulang tahunnya, segala macem bahaya muncul di jalanan tadi. Mulai dari orang yang nyebrang jalan sembarangan, motor dan angkot yang berasa punya jalan, dan orang-orang yang berdiri-diri di halte Transjakarta. Sekilas melihat pemandangan tadi, aku pun tak heran kalau sehari-harinya angkutan umum di Jakarta gak pernah beres. Ternyata emang warganya yang belum sadar diri untuk menciptakan ketertiban. Kalo mereka punya self awareness yang bagus, mau itu pesta kek, mau itu hari biasa kek, mereka harusnya tau mana yang bahaya dan mana yang enggak. Kaya tadi aja banyak orang naek motor tanpa helm dan berkeliaran dengan bebasnya. Belum lagi orang-orang pejalan kaki yang nyebrang seenaknya kaya ga ada mobil. Mau sebagus apapun sistem yang dibangun, kalau warganya masih kaya gini tetep aja gak bisa rapi dan gak bakal mungkin orang-orang beralih ke transportasi umum seperti yang diharapkan pemerintah. Seperti halnya yang aku bahas tadi pagi di salah satu grup BBM-ku. Mau bensin sama parkir naek segimana mahalnya juga orang yang bisa beli mobil bakal tetep milih naek mobil pribadi karena ada banyak hal yang belum bisa disediakan oleh transportasi umum baik itu dari segi keamanan, kenyamanan, ataupun ketepatan waktu.

Eniwei, aku cuma mau bilang Happy Bday Jakarta. Thanks for being such a beautiful hometown. Kemanapun aku pergi, Jakarta itu tetep ngangenin kecuali transportasi sistemnya.  ^^

Thanks today for giving me so much fun and nice experience..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s