Flood


Banjir! Sebuah fenomena yang umum dan seringkali disebut-sebut di Jakarta. Bencana alam yang akhirnya hampir menjadi makanan sehari-hari di Jakarta. Aku pun sangat dekat dengan hal yang satu ini, dan beberapa kali menjadi korbannya. Entah itu korban banjir akibat kemacetan, atau korban banjir karena air yang masuk ke dalam rumah.

Namun, akrabnya aku dengan peristiwa banjir yang selama ini terjadi, ternyata kehadiran banjir di awal tahun ini tetap meninggalkan kesan mendalam untukku dan mungkin ini menjadi yang paling berkesan. Ada banyak sekali hal yang bisa aku amati dan pelajari selama hampir seminggu banjir, termasuk pengalaman-pengalaman baru yang begitu berharga buatku. Akhirnya aku menjadi semakin kenal dengan diriku, mengenal sifat-sifatku yang muncul dalam situasi yang sangat tidak menyenangkan ini.

Day1 (17.01.13):

Hari ini aku awali dengan perjalanan dalam hujan yang sangat deras menuju kawasan Cilincing untuk sebuah project assesment di tempatku magang. Setelah mencoba beberapa alternatif jalan menuju kawasan tersebut, namun ternyata hujan sangat dahsyat dan genangan sudah terlihat dimana-mana, akhirnya aku memutuskan untuk kembali pulang. Sampai di rumah, air sudah masuk sampai ke ruang makan dan mulai masuk ke kamar-kamar. Kerja bakti pun dimulai, acara angkat2 barang menuju tempat yang lebih tinggi sampai ngerobok air banjir untuk menyelamatkan sisa-sisa barang yang masih bisa diselamatkan. Setelah selesai angkat-angkat, aku pun kembali ngerobok banjir untuk masak mi instan yang akhirnya baru aku makan beberapa jam setelahnya. Nothings to do at the moment. Jadinya aku cuma bolak-balik dari dalem rumah ke depan, ke dalem lagi, naek ke atas sampe akhirnya aku tertidur di kamar atas. Rasanya aneh pas bangun dan inget kalo di bawah itu masih kerendem banjir, sempet segan untuk menyentuh air banjir itu lagi namun akhirnya aku pun sadar kalau apapun yang terjadi, aku tetap harus melewati banjir itu. Hari menjelang gelap, air pun tidak kunjung surut dan aku memutuskan untuk pergi ke apartemen koko untuk melihat-lihat keadaan. Suatu pengalaman ngerobok banjir yang lain lagi, ngerobok banjir dalam keadaan gelap dan dengan jarak tempuh yang lebih panjang. Dalam perjalanan ini, arus air yang berlawanan dengan arah jalanku serta sampah-sampah yang bertebaran mengambang ataupun terbawa arus air menjadi hal yang paling mengganggu. Belum lagi pemandangan orang-orang yang dengan santainya membuang sampah dari dalam rumah ke air banjir. Benar-benar pemandangan yang sangat tidak menyenangkan yang menunjukkan masih rendahnya kesadaran untuk menjaga kebersihan pada masyarakat Jakarta. Datang ke apartemen dengan niat untuk pulang lagi malam harinya, ternyata harus aku batalkan karena malam itu aku memutuskan untuk menginap di apartemen.

Day2 (18.01.13)

Pagi ini aku terbangun dari tidur yang tidak cukup tenang di malam harinya. Hal pertama yang aku lakukan pagi itu adalah melihat matahari yang bersinar cukup terik dan membawa sedikit rasa tenang. Rasa tenang dengan harapan air akan surut pun harus kandas karena ternyata setelah aku kembali ke rumah, air tetap sama seperti kemarin, hanya berkurang sedikit sekali. Kemudian, hari ini aku isi dengan menemani papa di rumah yang masih terendam banjir, dan masih dalam keadaan tanpa listrik plus minim sinyal HP. Lagi-lagi aku gak tau mau ngerjain apa, akhirnya aku keliling rumah sambil menyikat lumpur-lumpur di lantai agar tidak licin. Hanya itu saja yang aku lakukan sepanjang hari ini sampai sore, hiburan lain yang bisa kulakukan adalah makan indomie serta jatah bakmi GM yang diantar dari apartemen. Hari ini akhirnya papa memutuskan untuk ikutan menginap di apartemen dan meninggalkan rumah. The first time we leave the house without any body home after a long long time.. aku bahkan tidak ingat kapan terakhir melakukan hal ini. Perjalanan yang harus ditempuh ke apartemen masih tetap dengan ngerobok banjir meskipun di jalanan besar air sudah surut tapi kami tidak berani naik mobil karena takut masih ada jalan2 yang masih banjir dalam.

Day3 (19.01.13)

Hari ini matahari bersinar cukup terang, namun ternyata hal itu tidak membuat air turun dengan cepat. Aku tidak pulang ke rumah sama sekali hari ini, aku hanya menghabiskan waktu dengan tidur dan nonton. Rasanya tidur dengan situasi banjir seperti ini adalah harap-harap cemas, setiap terbangun pertanyaan yang muncul pertama di otak adalah “uda surut blm ya?” Hujan cukup deras yang datang sore harinya membuat kami kembali cemas kalau-kalau si banjir datang lagi. Perjalanan ke supermarket untuk mencari air galon pun akhirnya ditemani oleh hujan yang semakin deras. Sesampainya di supermarket, ramai sekali dengan orang-orang, suasana crowded seperti kapal pecah pun terlihat, beberapa rak mulai kosong dan orang-orang saling berusaha mendapatkan barang yang diinginkannya. Well, survival mode : on. These last 2days really make me remmember my undergraduate theses. Aku membahas topik banjir dan situasi 2 hari ini ini membuatku mengingat para subjek-subjek skripsiku. Mereka terendam lebih dalam dari ini, dan bahkan mungkin lebih lama.

Day4 (20.01.13)

Hari ini aku menghabiskan setengah hari awal di apartemen dengan menonton siaran berita plus acara running man di laptop. Setelah itu dilanjutkan makan siang dan kembali ke rumah untuk mengambil barang dan membersihkan banjir yang ternyata sudah mulai surut. Kerja bakti bertiga dengan papa dan koko mengeluarkan air dengan alat sodok air, rasanya girang sekali saat satu persatu sudut rumah sudah mengering. Setidaknya hari ini sisi depan rumah sudah kering, sisa bagian dalam saja yang masih tergenang. Cape bermain dengan air, akhirnya kami memutuskan kembali ke apartemen dan menikmati makan malam. Really a nice experience for me, bener2 pengalaman yang membuat aku kembali merefleksikan lagi kalau selama ini hidupku sudah begitu nyamannya.

Day5 (21.01.13)

Cilincing Day1, hari ini aku mulai kerja dan masuk di klien di daerah Cilincing Jakarta Utara menuju TImur. Selama di tempat ini aku belajar lagi tentang cara tes, belajar lagi tentang bagaimana harus berinteraksi dengan orang-orang baru, serta cara menghadapi permasalahan saat bertemu dengan satpam agak rese cenderung lebay. Atas apa yang aku hadapi hari ini, aku begitu bersyukur atas semua yang pernah kulalui sebelumnya, didikan di keluarga, pengalaman selama di 2 tempat kerja sebelumnya, dan pengalaman2 bersama semua teman-temanku. Hari ini rumah belum sepenuhnya layak untuk ditinggali, masih baru kering total dan masih perlu dibersihkan, jadinya kami sekeluarga masih menginap di apartemen.

Day6 (22.01.13)

Cilincing Day2, belajar teknik wawancara baru, menyadari setiap orang punya petualangan sendiri, terkesan dengan gaya hidup Psikolog-psikolog muda tersebut. Bersyukur aku bisa tandem wawancara dengan salah satu orang yang tergolong sangat memperhatikan detail dan keteraturan. Dari dia aku belajar bagaimana mewawancarai orang dengan terstruktur, meskipun selama ini aku sudah sering mewawancarai orang. Setidaknya dari dia aku belajar bagaimana harus membuat catatan wawancara agar tidak membingungkan kita saat harus membuat laporan nantinya. Melihat para psikolog-psikolog muda itu pun aku jadi bertanya-tanya akan gaya hidup mereka  yang tergolong high class. Pulangnya aku kembali ke apartemen, dan entah kenapa mood hari itu benar-benar berubah jd super sensitif. Jadilah aku menutup hari dengan mood yang super-super jelek.

Day7 (23.01.13)

Cilincing Day3, mengawali hari dengan sadar dari mimpi yang aneh dan membuat mood jadi kurang beres seperti malam sebelumnya. Namun ternyata mood itu tidak terlalu mempengaruhi keseharianku hari ini, aku tetap bisa bekerja dan berinteraksi dengan layak bersama senior-senior yang ikut bekerja di klien hari ini. Karena itulah aku menjadi semakin kenal dengan psikolog-psikolog muda yang bekerja sama selama 3 hari ini, belajar banyak hal baik dari mereka. Pulangnya aku kembali ke apartemen, kemacetan Jakarta hari itu membuat rasa lelah yang menjadikan mood-ku kembali jelek. Untungnya makan malam di restoran favorit keluarga kami membuat aku jadi semangat lagi dan bisa menutup hari itu dengan mood yang baik. Apalagi hari ini aku bisa kembali pulang ke rumah. Bener2 berasa kaya orang kena mood disorder.. ha3.. Tapi aku yakin mood yang ga beres ini sebagai akibat dari rasa lelah akibat banjir dan ketidaktenangan aku karena dikejar oleh deadline2 tugas kuliah yang memanggil untuk segera diselesaikan.

Well, it’s been really a one week full of stories. Banjir kali ini benar-benar berbeda, banjir yang bisa aku katakan sebagai yang terparah selama ini karena cuma banjir ini yang bisa bikin aku ngomong, “Ga enak ya jadi pengungsi.😦 “. Semoga banjir kali ini bisa membawa banyak perubahan untuk Jakarta. Setidaknya banjir ini selama seminggu ini membuatku bersyukur punya keluarga dan teman-teman yang bisa saling menjaga dan saling mengerti. Love you all..

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s