BLOK M


This is the story about one of the biggest terminal in Jakarta, the capital city of Indonesia.  I began to attached with this terminal two months ago. I ever visited this terminal before, and I never explored about this terminal, but in this las two months I was stop on this terminal to connected my way to office. It’s a lil’ bit strange to known this as a biggest terminal on this capital city. So many un-updated things in this terminal, a creepy and unsafe atmosphere, the ambiguous sign and direction, then the most annoying of it all is the cleanliness. At the first day of this two months, I feel so awkward to stand at this place, it’s like I coming from other countries and never been there before. Hfff.. rasanya pengen narik nafas dalem2, ini sebenernya terminal di kota besar apa di pedesaan?

Terminal Blok M sebagai halte terakhir dari Bus Transjakarta, juga menjadi tempat tujuan akhir beberapa bus umum lain seperti Kopaja, Metro Mini, dan Patas. Bus Transjakarta (TJ) harusnya menjadi percontohan bagi bus-bus lain dalam menurunkan dan menaikkan penumpang, meskipun bus TJ pun belum bisa mengatur kapasitas bus dengan jumlah penumpang yang masuk tapi setidaknya TJ sudah bisa menaikkan dan menurunkan penumpang di tempat yang sudah ditentukan. Ada satu hal menarik sehubungan dengan menurunkan penumpang di terminal ini, beberapa bus TJ lama (yang bukan gandeng) terkadang harus menurunkan penumpang melalui pintu darurat di depan karena antrian bus di depannya masih sangat panjang. Aku yakin, hal ini terjadi karena pada awalnya penumpang tidak sabaran dan ingin cepat-cepat turun sebab di salah satu bus yang aku naiki, petugasnya sempat meneriakan hal seperti ini, “Ayo-ayo yang mau turun cepata, mau kerja, turun lewat sini aja, antrian masih panjang.” Agak ironis memang, halte yang sudah teratur untuk menaikkan penumpang, namun pada akhirnya penumpang turun di tempat yang tidak semestinya dan membuat mereka harus berjalan di jalur bus yang lain dan hal ini rentan kecelakaan karena bus-bus yg lain berjalan dengan kecepatan yang hanya dia dan Tuhan yang tahu kapan cepat dan kapan melambat tanpa memperdulikan sekitar. Ini satu hal yang juga menjadi hal yang tidak menyenangkan buatku selama disana.

Meskipun sistem pembagian jalur bus yg ada disana sudah seperti terminal-terminal di luar negeri, namun sayangnya rentang waktu tiap bus umum lain kurang terperhatikan dengan baik. Bus dengan rute yang sama bisa berjejer dalam sekali waktu, sedangkan bus lain datang dalam jarak waktu yang lama sekali. Begitu pun dengan bus TJ yang seharusnya punya waktu yang tepat, kenyataannya dalam waktu-waktu tertentu bus menjadi sangat lama datangnya dan menyebabkan halte-halte berikutnya penuh penumpang mengantri, dan halte BLOK M menjadi penuh sehingga loket terpaksa ditutup terlebih dahulu padahal penumpang yang mau membeli karcis sudah mengantri begitu panjangnyaa.

Satu hal yang menjadi oase di tengah terminal yang begitu penuh hal yang janggal bagi sebuah terminal di kota metropolitan sekelas Jakarta adalah diaktifkan kembali sistem pembayaran kartu prabayar untuk Bus TJ. Sistem pembayaran yang semakin canggih dengan karu Flazz BCA ataupun kartu2 sejenis dari bank lain seperti Mandiri, BRI, BNI, dan Bank DKI. Sistem pembayaran yang seperti Kartu MRT di Singapore, mencoba mengedukasi masayarakat Indonesia untuk menggunakan teknologi. Meskipun pada prakteknya kartu ini tidak selancar kartu MRT yang sangat sensitif kalau bertemu dengan mesin tap-mya. Terbukti aku perlu menempalkan kartu itu sampai dua kali dan baru terbaca oleh mesin tap. Selain itu, kehadiran bus gandeng baru untuk juruan Blok M-Kota dengan kondisi bus yang masih sangat rapi, bersih, dan AC yang super duper dingin.

Selain masalah sistem pembayarn yang baru, ada satu hal lagi yang cukup berkesan buatku di terminal ini, pengalaman mengantri bersama orang Jepang dalam kondisi bus yang ditunggu tidak juga datang. Melihat 3 orang Jepang itu bolak-balik melihat jam tangan saat menunggu benar-benar membuat malu sebagai orang Indonesia. Meskipun katanya Rush hour di Jepang jauh lebih crowded dan parah daripada Jakarta, tp setidaknya mereka jauh lebih tertib saat mengantri dan jadwal kedatangan kereta pun selalu on time kalau tidak benar2 ada gangguan alam. Well, yeah mungkin Indonesia harus lebih banyak belajar dari berbagai negara yang sistem transportasi umumnya sudah sangat maju.

Setidaknya beberapa hal di atas adalah sedikit yang bisa aku bagi tentang salah satu terminal terbesar di Jakarta. Semoga untuk ke depannya terminal ini menjadi semakin baik lagi, bukan dari segi sarana dan prasarannya, namun juga kesadaran para penggunanya (penumpang, supir, kenek, dan pedagang serta manusia2 lain yang mencari nafkah di terminal ini). Mengutip tulisan seorang teman dari salah satu blognya,

” Karena kemajuan suatu negara bukan terletak kepada pemerintahan yang bagus, tetapi rakyat yang selalu berusaha belajar dan maju. “

(diambil dari sini: http://monsieursb.wordpress.com/2011/08/18/belajar-menjadi-bangsa-besar/)

Bangsa besar bukan terletak pada pemerintahan tetapi pada rakyat yang selalu berusaha untuk maju. Terminal yang bagus dan tertata rapi bukan terletak pada aparat pemerintahan dan peraturan sana-sini yang dibuat, tetapi dari kesadaran masyarakatnya untuk belajar menciptakan terminal yang bagus dan tertata rapi. Aku percaya kalau pemerintah bisa mengedukasi masyarakatnya untuk berlaku tertib di terminal, pasti terminal-terminal yang ada di Jakarta akan menjadi lebih bagus lagi. ^^

One thought on “BLOK M

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s