5cm the Movie


” Kita hanya butuh kaki yang berjalan lebih jauh, tangan yang akan berbuat lebih banyak, mata yang akan menatap lebih lama dari biasanya, leher yang akan lebih sering melihat ke atas, lapisan tekad yang seribu kali lebih keras dari baja, dan hati yang akan bekerja lebih keras, serta mulut yang akan selalu berdoa. “

Petikan kata-kata dari sebuah film yang diangkat dari novel dengan judul yang sama. Sebuah film yang begitu berbeda dari film-film Indonesia pada umumnya. Aku berkenalan dengan cerita ini melalui novel nya jauh sebelum diributkan akan dibuat film, sekitar 6-7 tahun yang lalu. Info soal film 5cm ini aku dapat dari akun twitter salah satu pemainnya yang tidak sengaja aku temukan di twitter. Aku pun awalnya pesimis bisa menonton film ini di bioskop, waktu itu aku berpikir film ini akan sama dengan film Indonesia lainnya yang cuma numpang lewat saja di bioskop tanpa pernah aku tonton. Berbeda dengan film Perahu Kertas yang memang dengan semangat ’45 sangat ingin aku tonton, dan memang langsung aku tonton saat film tersebut tayang perdana. Namun, akhirnya aku hari ini memutuskan menonton film 5cm ini setelah selesai ujian.

Somehow aku merasa jalan cerita di film jauh lebih baik daripada di novel yang terkesan agak bertele-tele, namun sayangnya ada beberapa bagian penting di novel yang seolah terbuang di film. Meskipun begitu hal ini berhasil tertutupi oleh pemandangan alam yang SANGAT INDAH!! dan juga teknik pengambilan gambar yang patut diacungi jempol. Sanagt tidak terbayangkan harus mengambil gambar dalam rute pendakian yang medannya terlihat tidak mudah itu.  Selain itu akting all out pemain selama menceritakan pendakian juga membuat film ini semakin layak untuk ditonton. Sebenarnya, di awal film aku sedikit merasa terganggu dengan dialog yang terkesan kaku antara pemainnya, namun entah kenapa seiring dengan berjalannya film beberapa pemain justru terlihat begitu lepas dan tidak sekaku di awal. Dari segi musiknya, film ini memang tidak sebaik musik di film Perahu Kertas, bahkan mungkin kalau bukan suara khas Nidji yang muncul di beberapa bagian film ini, aku sama sekali tidak terlalu memperhatikan musiknya, yah mungkin karena gambar yang lebih berbicara di film ini. Namun, tetap saja film tanpa musik akan terasa ada yang kurang. Hal lain yang terasa kurang di film ini adalah keapikan sang sutradara dalam menata setting waktu di film ini. Tidak tersebutkan dengan jelas latar tahun film ini, namun mengacu dari novelnya harusnya film ini menceritakan kisah anak muda di pertengahan tahun 2000-an yang saat itu belum marak dengan smartphone. Namun, di film ini bs kita lihat kalau semua handphone yang dipegang adalah smartphone. Sebenarnya hal ini harusnya tidak terlalu jadi masalah, namun kesan jadul film ini semakin diperkuat dengan istilah “ASL PLZ” dalam salah satu adegan chatting. Istilah tersebut merupakan istilah yang banyak digunakan pengguna program MIRC di awal wabah internet sekitar tahun 1998-1999 . Sehingga penggunaan smartphone di film ini terasa tidak sinkron dengan penggunaan istilah ASL PLZ tersebut.

Lalu sebenarnya apa sih yang diceritakan dalam film ini? kenapa film ini terkesan seperti film perjuangan dengan membawa-bawa kata “17 Agustus” di poster filmnya? Film ini memang bercerita tentang perjuangan, perjuangan mempertahankan persahabatan yang terjalin sekian lama, perjuangan hati menemukan tempat perhentiannya, dan perjuangan meraih impian. Satu-persatu perjuangan itu tergambarkan dalam film ini disertai dengan perjuangan mereka mencapai Puncak Mahameru yang juga merupakan buah dari perjuangan mereka menahan rasa rindu satu sama lain. Meskipun perjuangan meraih impian tidak terlalu terlihat untuk tokoh Arial, Riani, dan Zafran yang lebih diceritakan sisi cintanya. Namun, tidak sepenuhnya film ini diisi dengan perjuangan yang terasa berat, di sepanjang film akan ada banyak humor-humor ringan yang menghibur yang membuat seisi bioskop yang rata-rata adalah mahasiswa tertawa terbahak-bahak.

Well, kalo dikasih rating 1-10, aku kasih film ini rating8. Really not bad to be watched. Ternyata harapan pembuat film ini pun tercapai karena para penonton mengapresiasi jerih payah mereka yang sengaja membuat film ini dengan waktu syuting yang lebih lama untuk menghasilkan hasil yang baik.

Salut sama sutradaranya, sama penulisnya, dan sama para pemainnya (terutama Fedi Nuril, Igo Syakoji, dan Herjunot Ali yang membuat film ini menjadi semakin hidup). Standing applause buat crew kameraman yang sangat dahsyat mengambil gambar di ketinggian puncak gunung.

Semoga akan ada film-film seperti ini lagi untuk PERFILMAN INDONESIA!

2 thoughts on “5cm the Movie

  1. saya juga sukaaaa sekali dengan bukunya. cuma khawatir untuk menontonnya karena sering kecewa :p
    anywhow i do agree. semoga perfilman indonesia bangkit dari dunia lain :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s