Antara Perahu Kertas dan Pidato Steve Jobs di Stanford University


Dua hal yang sangat jauhhhhhhhhh sekali, tapi ternyata aku bisa melihat persamaan keduanya. Dua hal tersebut punya semangat yang sama, semangat untuk mencintai apa yang kita kerjakan, semangat berimajinasi dan menjadikan imajinasi itu nyata.

Pulang menonton Perahu Kertas 2 hari ini, aku melihat sebuah notes dari sepupuku di facebook ttg pidato Steve Jobs ini. Notes yang di post bulan maret tahun 2011, bulan yang sama aku menulis tulisan mengenai pidato tersebut. Saat itulah aku tersadar kalau kemarin adalah tepat setahun meninggalnya mantan CEO sekaligus pendiri Apple Inc. tersebut. Notes tersebutlah yang mengusikku membuka lagi tulisanku mengenai pidato tersebut. Membaca beberapa kalimat dalam pidato tersebut membuatku seolah melihat kalimat-kalimat tersebut nyata dalam cerita Kugy dan Keenan yang sama-sama memiliki kecintaan pada sebuah profesi namun mereka tidak bisa sepenuhnya mencintai profesi tersebut karena mereka harus berbenturan dengan realitas bahwa hidup ini tidak seperti di dalam dongeng. Begitupun yang di alami oleh Jobs, dia harus berjuang menyambungkan titik demi titik yang perjalannya tentu tidak mudah sampai akhirnya beliau berhasil menciptakan kreasi-kreasi GILA yang akhirnya membuatnya menjadi pioneer dalam beberapa teknologi mutaakhir abad ini. Sampai-sampai ada yang mensejajarkan beliau dengan penemu-penemu kenamaan seperti Abert Einstein, James Watt, dkk.

Dalam film itu juga terlihat kalau Kugy dan Keenan sebenernya sama-sama menyambungkan titik-titik dalam hidupnya sampai akhirnya mereka bisa meraih impiannya masing-masing. Titik-titik ini juga yang mungkin tidak mereka sadari bahwa sebenarnya mereka saling berhubungan satu sama lain melalui orang terdekat mereka, yaitu Remi dan Luhde.

Bersinggungan dengan kedua hal ini sepertinya film dan pidato ini bisa membuat orang tergerak untuk berani bermimpi dan menjalani proses seberat apapun untuk mencapai mimpinya. Just remember that Rome wasn’t be built in a night. Thanks buat Steve Jobs untuk pidato nya yang menginspirasi, thanks buat Dee untuk buku dan filmnya yang fenomenal.

Meskipun film Perahu Kertas 2 ini tidak seperti filmnya yang pertama yang berhasil membuat aku tertawa dan terharu di saat bersamaan, tapi film ini tetap berhasil memberi banyak inspirasi buatku. Salut juga untuk kerapihan penyusunan film ini yang membuatku berdecak kagum terutama di adegan Remi membaca surat Kugy untuk Keenan. Lagi-lagi aku mau bilang kalau musik dan sinematografi film ini tetap OK punya untuk ukuran Film Indonesia. So kekecewaanku akan alurnya yang berjalan melambat di film kedua ini berhasil terobati dengan segala berbagai hal yang kutulis di atas. Untuk pemainnya sendiri sepertinya penonton sudah mulai terbiasa dengan Kugy dan Keenan versi layar lebar yang mungkin berbeda dengan Kugy dan Keenan versi imajinasi mereka.

Terlepas dari semua film dan pidato itu, perjalanan menonton Perahu Kertas 2 ini ditutup dengan akhir yang tidak biasa. Satu lagi titik yang berhasil aku capai untuk semakin dekat pada pemenuhan resolusi tahun baruku saat memasuki tahun 2012 ini. Setidaknya aku sudah lebih bisa menerima kalau Roma itu tidak dibangun dalam semalam, tapi melalui proses panjang yang mungkin tidak selalu berjalan mulus.

^o^

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s