Hidup itu Seperti Roda


Di bulan Agustus yang tersisa beberapa hari ini, aku melalui banyak pengalaman menarik. Di bulan ini aku diajari untuk lebih bersyukur dengan apapun yang aku miliki sekarang, dan juga belajar untuk menghargai setiap sen rupiah yang aku punya.

Selama ini, sejak kecil aku bebas membeli apa saja yang aku mau selama aku tahu benda itu akan dipakai dan benda itu punya manfaat. Aku tidak dididik untuk mengatur uang, tapi aku dididik untuk berpikir sebelum membeli sesuatu. Suatu cara didik penggunaan uang yang jarang sekali aku temukan dari teman-teman seperaminanku. Biasanya teman-temanku diberi uang jajan mingguan maupun bulanan untuk dipakai selama periode tersebut, dan kalau habis sebelum periode berakhir, mereka tidak boleh meminta lagi. Lain halnya dengan kedua orang tuaku, aku boleh meminta uang kapanpun aku mau selama alasannya bisa mereka terima. Untungnya aku bukan anak yang aji mumpung dan menggunakan kepercayaan mereka dengan semena-mena sehingga aku akan benar-benar memikirkan kegunaan dari barang tersebut.

Hal ini terbawa sampai akhirnya aku kerja dan menghasilkan uang sendiri, aku terbiasa tidak mengontrol cash flow-ku sendiri. Sebelum aku kerja aku termasuk anak yang hemat, bahkan aku tidak perduli dengan yang namanya kartu ATM, buatku saat itu kalau perlu uang tinggal minta mama. Namun, saat aku sudah mulai bekerja, aku pun mulai berusaha untuk tidak meminta uang dari orang tua lagi, aku memutuskan untuk menggunakan uang sendiri untuk jajan ataupun “hura-hura”*) di akhir minggu. Gaji bulananku seolah utuh tak bergeming aku hanya mengeluarkan sesekali untuk transport dan untuk makan sesekali. Ternyata keadaan masih tetap sama seperti sebelum bekerja, aku bisa mengambil tabunganku kapan saja aku mau seperti dulu aku meminta uang pada orang tuaku.

Namun aku tidak menyadari kalau semakin kesini, kebutuhanku pun ikut berubah. Ada kebutuhan untuk sosialisasi bersama teman-teman, yang otomatis paling tidak setiap weekend aku menjadi penghuni mall. Biaya yang dikeluarkan di mall sekarang tidak sama seperti 3 atau 4 tahun yang lalu, uang dulunya 100rb bisa buat makan ber4, sekarang mungkin cuma untuk makan ber2 atau bahkan sendiri. Belum lagi biaya tambahan untuk nonton, ngafe, shopping, dll.  Sebelum melakukan semua kegiatan itu, jelas aku berpikir apakah benar-benar berguna atau tidak. Kegiatan di mall sesekali itu aku anggap sebagai kegiatan refreshing dan untuk shopping pun aku tetap melakukannya hanya karena aku perlu barang itu, misalkan saat sepatu atau tas sudah rusak dan tidak bisa dipakai sama sekali. Selain kegiatan di mall, transportasi juga menjadi salah satu kebutuhanku yang paling berubah drastis. Pengalaman sekali di copet, membuatku sedikit jera naik angkot yang akhirnya seringkali membuatku lebih memilih taxi ataupun bajaj daripada angkot. Cuaca Jakarta yang semakin panas akhir-akhir ini membuatku kadang lebih memilih taxi daripada bajaj, meskipun aku tau dua-duanya sama-sama tidak AMAN.

Di bulan ini, akhirnya aku benar-benar merasakan bagaimana punya uang pas-pasan itu, aku tidak bisa lagi bebas maksa naik taxi, aku tidak bisa lagi membeli tanpa melihat harga. Yang pasti, aku kembali berpikir matang-matang sebelum membeli sesuatu, dan sekarang aku jadi lebih memperhatikan cash flow-ku. Dalam situasi ini, aku teringat dengan teman-temanku yang dulu susah sekali diajak jajan, apalagi diajak main-main ke mall, kalaupun main ke mall mereka pasti memilih untuk makan dulu di rumah. Saat ini, sebagian dari mereka sudah bisa menikmati hidupnya dari hasil jerih payahnya bekerja, mereka bisa belanja, mereka bisa jalan-jalan ke luar negeri, bahkan mereka bisa mengajak orang tuanya jalan-jalan ke luar negeri. Suatu kejadian yang membuatku teringat kalau kehidupan ini tidaklah kekal, ada saatnya kita di atas dan ada saatnya kita di bawah.

Well, ternyata hidup itu memang seperti roda dan kadang kita berada di atas, kadang bisa juga kita di bawah. Suatu pelajaran yang bisa kupetik adalah saat kita berada di atas jangan pernah lupa kalau suatu saat kita akan berada di bawah. Ingatlah selalu untuk menghargai setiap hal yang kita miliki selama kita berada di atas, dan saat kita di bawah jangan pernah putus asa, karena kita harus tetap berusaha untuk kembali ke atas.

 

*) Hura-hura means jalan-jalan, baik di mall ataupun tempat wisata lainnya dengan tujuan refreshing bersama teman-teman.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s