Perahu Kertas yang Fenomenal


Entah mantra apa yang dirapalkan “Ibu Suri” Dee Lestari (begitulah beliau dipanggil tim-nya) sampai-sampai novel ini begitu mempunyai kesan khusus untuk para pembacanya. Aku mengenal novel ini akhir tahun 2009, dan tak lama setelah itu aku mendengar kabar kalau novel ini akan difilm-kan. Dulu awalnya aku ingin membuat review mengenai novel ini, namun niat itu dibatalkan. Membaca novel yang sangat “hidup” ini membuatku sangat ingin melihat versi filmnya. Cerita dalam novel ini begitu mengalir dan membuatku seolah masuk ke dalam cerita tersebut, cerita ringan yang mencoba menggambarkan apa yang terjadi dalam kehidupan nyata.

Beberapa waktu menjelang produksi film ini, linimasa di twitter mulai ramai dengan komen-komen mengenai film ini. Rasa penasaran pun semakin mengerogoti membayangkan akan seperti apakah film yang diangkat dari novel yang membuatku mengharu biru saat membacanya. Novel yang membuatku kembali percaya bahwa setiap orang pasti punya mimpi, dan setiap mimpi tersebut harus diperjuangkan dengan caranya sendiri. Tweet tentang film ini pun semakin ramai saat ada kuis nonton premiere dari film ini dan setelah itu bermunculan beberapa review dari mereka yang mendapat kehormatan menonton pemutaran perdana film ini. Review-review yang semakin membuatku tertarik menonton dan menjadi semakin penasaran dengan film ini. Tepat di hari pertama film ini diputar untuk umum, laporan para “agen neptunus” (bergitulah para fans Perahu Kertas disebut) yang tidak berhenti di linimasa twitter mengenai lokasi mereka menonton membuatku terdecak kagum, antriannya panjang dan banyak orang yang mengantri sebelum loket buka. Hal ini membuatku bertanya-tanya sepenasaran itukah orang-orang dengan film ini? Ini pun bukan film Indonesia pertama yang diangkat dari novel sehingga rasanya mereka bukan excited karena hal ini. Saat melihat tweet-tweet tersebut, aku berpikir bahwa ini film yang pasti sangat bagus, film yang berhasil menarik orang berbondong-bondong ke bioskop untuk nonton film Indonesia. Seingatku, film-film sebelumnya yang membuat orang berbondong-bondong mengantri di bioskop adalah film seperti Harry Potter, Lord of The Rings ataupun film superhero hollywood. Meskipun mungkin film ini belum sefenomenal Harry Potter atau Lord of The Rings, namun tweet-tweet yang kubaca sepagian tadi membuatku mengkategorikan kalau film ini cukup fenomenal untuk ukuran film Indonesia. Jujur, aku sangat jarang nonton film Indonesia di bioskop, meskipun pada awalnya aku masih begitu antusias menonton beberapa film semenjak jamannya AADC. Namun seiring dengan berjalannya waktu, rasa antusiasme itu pun hilang karena film Indonesia yang bermunculan hanya sedikit yang menarik perhatianku. Film Indonesia terakhir yang aku tonton di bioskop dan membuatku berdecak kagum adalah Laskar Pelangi yang membuatku terharu sekaligus tertawa dalam salah satu adegannya. Melihat antusiasme di twitter akan film Perahu Kertas dan juga rasa penasaranku terhadap salah satu novel favoritku yang di-film-kan, aku pun memutuskan untuk menonton film ini hari ini juga.

Awalnya aku berniat menonton di FX untuk sekedar mengenang masa-masa dimana aku masih membaca novelnya. Namun kemacetan Jakarta yang tidak diprediksi membuat kami memutuskan menonton di PI. Mendadak teman menonton-ku itu memutar haluan, dia harus ke tempat lain jadi akan jauh dari PI. Gading menjadi tempat pilihan kami menonton film ini, dan ternyata perjalanan menuju bioskop pun tidak semulus yang kubayangkan. Aku janjian dengannya di Gramedia Matraman dan Busway menjadi pilihanku ke sana. Seperti biasanya Busway sangat tidak manusiawi di jam siang menjelang sore seperti saat itu. Setibanya aku di tempat tujuan, ternyata di sana baru saja selesai acara Meet n Greet Perahu Kertas, dan saat aku melangkah masuk ke dalam Gramedia, aku melihat mobil rombongan Perahu Kertas dan beberapa orang Kru dibagian lain pintu masuk. Aku pun langsung melangkah masuk untuk menghindari terik panas yang sangat maksimal hari ini. Aku menunggu beberapa menit di dalam sana sampai temanku menjemput.

Pilihan kami jatuh di MKG yang punya 3 bioskop, karena dalam bayanganku antrian akan sangat panjang dan belum tentu kami bisa langsung dapat tiket. Setibanya di Gading 21, betapa terkejutnya aku karena studio yang memutarkan Perahu Kertas masih sangat kosong, hanya terdapat beberapa penonton saja, sangat berbeda dari perkiraanku akibat tweet pagi tadi.  Sebelum tiba giliran kami membeli tiket, ada tante-tante yang mengantri di depan kami dan aku sempat mendengar pembicaraan mereka mengenai film yang akan mereka tonton. Salah satu dari mereka mengatakan untuk tidak menonton Perahu Kertas karena filmnya sedih, aku hanya tersenyum mendengarnya. Yah mungkin saja film ini akan menjadi sedih, sesedih novelnya diiringi dengan selipan lelucon di beberapa bagian.

Menonton Perahu Kertas hari ini seolah membawaku ke dalam suasana saat menonton AADC dulu, begitu dekat dengan kehidupan nyata pada umumnya, bukan cerita hantu atau cerita komedi vulgar yang selama ini beredar di bioskop. Secara umum film ini sama dengan film remaja pada umumnya, menceritakan mengenai hubungan Kugy dan Keenan yang dipertemukan dalam sebuah keajaiban. Kemudian kejaiban demi keajaiban lainnya pun bermunculan satu-persatu dalam perjalanan mereka berdua. Aku masuk ke dalam studio beberapa saat setelah filmnya mulai, saat itu sudah masuk ke opening-nya. Lalu aku mulai menikmati film tersebut, dari satu adegan ke adegan lainnya diiringi dengan musik yang mengalun merdu di sepanjang film. Salut kepada Mbak Dee Lestari dan Mas Hanung yang dapat merangkai adegan demi adegan tanpa sedikitpun menghilangkan dialog yang ada di dalam novelnya. Bahkan mereka berdua memutuskan untuk membagi film ini ke dalam dua bagian agar tidak ada bagian penting yang hilang. Musik-musik yang menjadi latar di setiap adegan pun terasa begitu pas dan sangat menyatu dengan adegan tersebut. Mungkin aku bisa mengatakan kalau adegan demi adegan dalam film ini kurang dapat memainakan emosi penontonnya, namun musik-musik di sepanjang film ini lah yang berhasil memainkan emosi penonton. Hal lain yang juga menambah sisi baik dari film ini adalah pengambilan gambar keseluruhan film dan juga cuplikan-cuplikan pemandangan alam yang begitu memanjakan mata. Rasanya hal-hal tersebut sudah cukup dapat memuaskanku sebagai penonton. Kelebihan-kelebihan tersebutlah yang membuatku tidak terlalu memperdulikan pilihan pemainnya yang menurutku kurang greget dan kurang sesuai dengan apa yang dibayangkan. Setelah selesai menonton film ini, akhirnya aku baru mengerti apa yang dimaksud Dee dalam catatannya mengenai Film Perahu Kertas ini, kutipan yang aku rekam dalam benakku dan kubawa masuk ke dalam studio saat menonton film ini,

” Berbeda bukan berarti salah. Berbeda malah bisa jadi lebih indah. Yang paling penting adalah, kerelaan kita untuk berhenti memerangkannya dengan wujud ideal dalam kepala kita semata dan mulai mengapreasi versi orang lain.

Inilah barangkali yang ingin saya bagi ke pembaca, calon penonton Perahu Kertas versi film. Relakskan benak Anda, mari melihat wujud Perahu Kertas yang mungkin berbeda, tapi simaklah spiritnya. Spirit Perahu Kertas sama dan tidak berubah. Kisah ini bercerita tentang perjalanan hati, transformasi, dari “aku yang memilih” menjadi “aku yang dipilih”. Kisah ini adalah refleksi perjalanan kita semua, yang dengan porsi dan waktunya masing-masing, akhirnya belajar berdamai dengan hidup. “

Setiap orang memiliki bayangan Perahu Kertas dalam benaknya masing-masing, namun kalaupun itu berbeda dengan yang ada dalam benak kita, inilah saat kita mengapresiasi perbedaan itu, karena tidak selamanya berbeda itu salah. Terkadang yang berbeda itu bisa menjadi lebih indah. Spirit inilah yang juga mungkin dibawa oleh ratusan bahkan ribuan “Agen Neptunus” lain yang menonton film ini sehingga ada begitu banyak komentar positif mengenai film ini.

Dengan munculnya film ini, aku pun berharap perfilman Indonesia dapat lebih terpacu lagi untuk menghasilkan karya-karya sejenis. Karya berkualitas yang penuh dengan spirit kreatifitas dan spirit memberikan yang terbaik untuk penonton. Terima Kasih “Ibu Suri Dee” untuk Novel dan filmnya yang sangat fenomenal ini.

16.08.2012

Catatan dari yang lain:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s