Treat your Child as You want your child Treat Theirs


Ungkapan di atas sebenarnya gak cuma berlaku untuk anak-anak, tetapi juga untuk semua orang yang kita kenal. Namun, kejadian akhir-akhir ini membuat aku berpikir bahwa anak itu memang seorang pembelajar yang sangat baik sekali. Social learning yang terjadi antara si anak terhadap orang tua sudah pasti dan hampir selalu terjadi.

Teringat salah satu mata kuliah di semester-semester akhir kuliah, mata kuliah ini bernama Pengantar Terapi Keluarga. Sebuah mata kuliah pilihan yang tadinya hampir batal ku ambil, namun sekarang aku benar-benar melihat dengan nyata apa yang waktu itu sering dibahas di jam-jam kuliah kami. Jujur waktu itu aku tidak jadi batal mata kuliah ini karena aku sangat terkesan dengan dosen pengajarnya, seorang wanita brilliant yang berpenampilan sederhana. Entah apa komentar teman-teman lain tentang dosen ini, tapi yang jelas aku menjadikannya salah satu dosen favorit.

Dalam salah satu kuliahnya, beliau menceritakan mengenai Diagram Bowen, dimana si tokoh Bowen ini percaya bahwa sebuah generasi akan mewariskan sesuatu ke generasi berikut-berikutnya, termasuk dalam hal ini konflik dalam keluarga. Saat itu aku hanya mengangguk-angguk mengiyakan setiap contoh yang dia ceritakan, tanpa melihat dengan mata kepala sendiri kenyataan dari teori ini. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, seiring dengan bertambahnya jaringan sosialisasiku, aku melihat beberapa contoh nyata dari kuliah ini. Meksipun sebenarnya yang diwariskan itu tidak selalu bagian-bagian negatif saja, tapi mungkin saja si anak atau anggota keluarga lain dalam keluarga tersebut mewariskan bagian-bagian yang positif. Aku masih ingat di akhir kuliahnya, sang dosen tersebut berpesan pada kami bahwa seburuk apapun keluarga kita, cobalah melihat hal baik dari mereka, dan ambilah hal baik tersebut untuk kita wariskan pada anak cucu kita. Untuk itu jugalah beliau berpesan lagi bahwa kita harus menganalisis diagram dari keluarga calon pasangan kita dengan baik. Bukan untuk jadi pemilih, tetapi untuk membawa kebaikan untuk generasi di bawah kita.

Setahun terakhir ini, banyak peristiwa terjadi dalam keluargaku yang membuat aku mem-flash back materi kuliah tentang diagram Bowen ini, dan hal ini semakin diperkuat dengan kejadian beberapa hari yang lalu mengenai konflik seorang temanku dengan kakaknya. Satu persatu sepupu sepermainan-ku akhirnya mulai memasuki kehidupan baru, ada yang baru berkeluarga, ada yang mulai kerepotan mengurus anak. Satu hal yang sangat mencolok adalah saat aku melihat bagaimana kesamaan sepupuku mengurus anak mereka dengan bagaimana dulu mereka diurus oleh orang tuanya. Sedikit banyak ada kemiripan, ditambah pengaruh dari pasangan mereka masing-masing. Sejak kecil aku memang jarang mendapat perlakuan kasar dari kedua orang tuaku, pukulan di masa kecil yang pernah aku rasakan dan masih aku ingat sampai sekarang adalah pukulan bukan dari orang tuaku. Mungkin karena ini jugalah aku seringkali merasa sedih saat melihat orang tua memukul anaknya atau memaki anaknya dengan kasar, terlebih lagi saat mereka semakin keras memaki seiring bertambah kerasnya tangisan anak mereka.

Peristiwa yang tadinya hanya aku lihat di mall ataupun di film, sekarang menjadi alarm-ku setiap pagi. Mungkin ini adalah contoh ekstrim kiri dari diagram Bowen tersebut, bagaimana orang tua anak-anak ini memperlakukan anak mereka dengan kasar seperti bagaimana orang tua mereka dulunya juga memperlakukan mereka saat masih kecil. Aku memang tidak tahu bagaimana orang tua dari ibu anak-anak itu memperlakukannya saat masih kecil, namun dari apa yang dia lakukan terhadap anak-anaknya saat ini bisa jadi sedikit banyak menggambarkan bagaimana orang tuanya memperlakukannya saat masih kecil.

Di belahan benua yang lain, cerita lain datang dari kenalanku yang lain. Pola asuh kakak-beradik itu terhadap anaknya mengingatkan aku  tentang bagaimana ayah mereka dulu memanjakan mereka dengan segala mainan populer di zaman itu. Karena saat itu aku dan kakakku selalu diajak mereka bermain mainan-mainan terbaru itu. Begitu pulalah anak mereka saat ini. Lucunya, hal ini juga didukung oleh orang tua dari ibunya anak tersebut.

Dari dua contoh di atas sedikit banyak bisa terlihat bahwa pasangan mereka pun memiliki masa kecil yang kurang lebih sama. Sama-sama terbiasa dengan omelan dan pukulan, sama-sama dimanjakan dengan mainan-mainan populer. Hal itu pula yang mereka terapkan kembali kepada anak-anaknya.

Beberapa hari yang lalu temanku menceritakan mengenai pertengkarannya dengan kakaknya. Dari beberapa ceritanya dia menceritakan bagaimana ibunya, bagaimana kakaknya, aku pun jadi paham kenapa keponakannya yang masih balita itu seringkali berkata kasar. Meskipun masih dalam taraf normal, tetapi terlihat sekali hasil social learning anak-anak itu terhadap lingkungan dalam rumah itu.

Yang mau aku tarik dari sini adalah apa yang ada dalam pikiran mereka saat mereka memperlakukan anak-anak mereka dengan kasar. Apakah mereka tidak ingat bagaimana rasanya diperlakukan kasar oleh orang tua mereka? Apakah mereka tidak ingat bagaimana rasanya tidak dihargai oleh orang tua mereka? Lalu apakah mereka tidak berpikir bagaimana anak mereka bisa menghargai mereka kalau mereka saja memperlakukan anak mereka tanpa rasa sayang sedikitpun. Kadang kalau aku benar-benar sudah merasa mereka kelewatan, aku pun jadi bertanya, ngapain punya anak kalo cuma buat diomelin dan dipukulin? Well, pertanyaan innocent yang gak seharusnya dipertanyakan, namun perlu direnungkan. Pertanyaan inilah yang menghantarkan ku pada pesan dari dosenku itu. Analisa lah keluarga calon pasanganmu sebelum menerima mereka sebagai pasangan hidupmu. Setidaknya masih ada hal baik yang bisa mereka wariskan untuk keluarga baru yang akan dibentuk.

 

for another information about Bowen’s theory: http://homestar.org/bryannan/family.html

5 thoughts on “Treat your Child as You want your child Treat Theirs

  1. mwhihihi… setujuh.

    tetapi satu hal yang perlu diingat juga Dew.
    salah satu tantangan terberat dari lulusan psikologi, terutama psikolog adalah untuk membatasi diri untuk tidak terus-menerus menganalisa 😉

    1. hehe.. iya nih.. kadang suka ga sadar tau2 berasa kok mirip ya si A ama si B. kok beda ya ama si C.
      Kalo kasus yg ini sih tadinya ga mau perduli, biarkan jadi urusan mereka saja, cuma kok gatel juga ya. tiap hari di denger, tiap hari di liat. hehe..
      Mungkin emang musti belajar deattached juga nih.. ^^
      thx for reading..

      1. kebiasaan observasi, identifikasi kemiripan dan mencoba analisa memang seringkali tidak terhindarkan kok… tetapi perlu aware aja, seperti kata kamu, belajar detached.

        yang paling penting, jangan lalu langsung merasa mengerti. mwhihihi.. be kind with yourself 😉

  2. Dewiii😀
    Jadi kangen sama yang namanya kuliah psiko lagi, plus pake jargon2nya.. hahaa….
    Anyway, setuju sm Cilla, kita “terlatih” buat observasi dan menganalisa.. jadi hal-hal yang terjadi depan mata, tanpa disadari masuk pikiran & dianalisa… lalu dihubungin sm teori yang kita pelajari, hehehe….
    Detached itu penting banget…demi kesmen kita sendiri… dan karena ga semua hal harus terjadi sesuai dg yg kita mau atau perlu kita “lurusin”, hehehe🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s