Drama Musikal Laskar Pelangi


Akhirnya perjuangan aku cari temen nonton drama musikal ini terbayar sudah. Liburan yang cuma mepet, dengan keterbatasan teman yang mayoritas merayakan Natal membuat aku agak susah untuk mencari teman yang bersedia diajak nonton.

Akhirnya muncullah dua orang teman yang bersedia untuk menonton acara ini juga. Thanks for Leonita dan Ivany. Lagi-lagi thanks for Mei-mei to introducing me to this story again. Dulu pas film Laskar Pelangi, Mei-mei juga lah yang mempromosikan kalau film ini layak untuk ditonton. Kali ini untuk drama musikalnya, Mei-mei juga yang semakin menguatkan niatku untuk menonton ini. Dari Mei-mei inilah aku tahu kalau drama musikal ini mendapat sambutan yang cukup meriah saat dipentaskan di Singapore.

Dulu saat melihat versi layar lebarnya, aku begitu terharu sekaligus ingin tertawa dalam beberapa adegan. Hal ini pula yang terjadi saat menonton drama musikalnya. Secara keseluruhan, aku cukup salut dengan pembuat drama ini karena dia mencoba menyempitkan waktu tayang tanpa mengurangi sedikitpun makna cerita. Meskipun pada akhirnya ada beberapa bagian yang terkesan aneh but it’s still ok.

Buat yang belum pernah nonton atau baca sebelumnya, cerita ini menggambarkan kehidupan anak-anak di salah satu desa di Belitong pada tahun 70-an. Dalam cerita ini dikisahkan perjuangan mereka mencapai mimpi mereka dengan diawali bersekolah di Sekolah yang sangat minimalis. Kira-kira begitulah inti ceritanya, dan disini aku tidak akan membahas dari segi cerita, namun dari segi seni-nya.

Yang namanya drama musikal, otomatis suara si pemain menjadi sorotan utama. Yang kedua adalah dari kualitas sound system, dan baru berikutnya dari segi lighting dan kemampuan olah panggung si pemain.

Dalam beberapa adegan, di tengah sound system yang kurang sempurna,   suara beberapa pemain baik saat berdialog maupun saat bernyanyi tetap terdengar sangat indah. Namun, tak jarang juga kami harus mendengar dengan seksama apa yang dikatakan oleh para pemain tersebut karena sound system yang kurang baik.

Kekurangan sound system dalam pertunjukkan ini terobati dengan kerapihan ligthing dan dekorasi panggung. Didukung dengan kesempurnaan olah gerak para pemain, sehingga semakin menambah nilai dari pertunjukkan ini. Kerapihan lighting dan dekorasi panggung serta olah gerak yang baik, membuat aku sebagai penonton kurang dapat melihat gerakan-gerakan tidak penting yang dilakukan crew saat pergantian setting panggung.

Tampaknya drama musikal ini boleh menjadi salah satu kebanggan karya anak bangsa yang tentunya dengan sedikit penyempurnaan di beberapa bagian. Salute for the crew.. ^^

Drama Musikal Laskar Pelangi ini jugalah yang membuat aku mengungjungi Dufan setelah 4 tahun vakum berekreasi di Dufan. Dufan sudah melakukan banyak perubahan meskipun masih belum bisa disejajarkan dengan theme park sejenis di berbagai kota mancanegara. Wajar dan sungguh tidak mengherankan kalau ternyata ribuan turis Indonesia memadati arena Universal Studio Singapore, Dufan masih perlu banyak perbaikan untuk menjadi Theme Park berkelas International. Yang paling penting adalah sarana dan prasarana yang sudah sedemikian baik disediakan pihak Dufan, seharusnya juga dipergunakan dengan etika yang benar oleh para pengunjung.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s