Filosofi Truk Sampah


Cerita ini pernah aku baca di bacaan morning briefing kantor mama. Pertama membaca cerita ini, aku manggut-manggut dan merasa semua yang ditulis dalam cerita ini memang seringkali terjadi dalam kehidupan sehari-hari kita. Malam ini aku baru saja membaca lagi cerita ini lewat BBM yang dikirim salah seorang temanku. Rasanya tepat sekali cerita ini muncul setelah apa yang tadi aku lakukan di siang harinya. Aku berusaha meyakinkan dua orang temanku yang baru saja mendengar omongan miring tentang mereka dari  teman kami yang lain. Aku berusaha meyakinkan mereka kalau kita gak boleh mudah terpancing dengan apa yang dikatakan oleh orang. Ada dua hal yang harus kita lakukan berkaitan dengan hal itu, coba diam dan mencerna sambil mencoba melihat dari sudut pandang yang lain, yang kedua adalah tersenyum dan membiarkannya berlalu. Seperti yang ada di cerita ini..

____________________________________________________________

Suatu hari saya naik taksi menuju bandara, taksi yang kami naiki melaju pada jalur yang benar, tiba-tiba sebuah mobil hitam melaju keluar dari tempat parkir tepat  di depan kami.

Sopir taxi menginjak pedal rem dalam-dalam hingga ban mobil berdecit dan berhenti hanya beberapa centi meter dari mobil tersebut.

Pengemudi mobil hitam tersebut mengeluarkan kepalanya dan mulai menjerit ke arah kami sambil memaki-maki sopir taxi yang kami naiki.

Sopir taxi hanya tersenyum, melambaikan tangan pada orang tersebut. Saya benar-banar heran dengan sikap sopir taxi yang bersahabat.

Maka saya bertanya,” mengapa Anda melakukan hal yang diluar dugaan yaitu tersenyum, melambaikan tangan dan mendoakan orang tersebut??? Sedangkan orang tersebut hampir merusak taxi Anda dan dapat saja mencelakakan nyawa kita!”.

Saat sopir taxi menjawab itulah saya belajar dari sopir taxi tersebut mengenai apa yang kemudian saya sebut “filosofi truk sampah”.

Sopir taxi itu menjelaskan bahwa banyak orang seperti truk sampah, mereka berjalan keliling sambil membawa sampah, seperti : Frustasi, kemarahan, kekecewaan, ketakutan, kebencian  dan banyak masalah lain, seiring dengan semakin penuh kapasitasnya, semakin mereka membutuhkan tempat untuk membuangnya dan seringkali mereka membuang sampah itu kepada Anda.

Jangan ambil hati, tersenyumlah, lambaikan tangan, doakan dan berkati mereka lalu lanjutkan hidup Anda.

Jangan Ambil sampah mereka untuk kembali membuangnya pada orang lain yang Anda temui baik ditempat kerja, dirumah atau dalam perjalanan.

Orang sukses adalah mereka yang tidak membiarkan “truk sampah” mengambil
hari-hari mereka dengan merusak suasana hati kita.

Hidup itu 10% mengenai apa yang Anda buat dengannya dan 90% tentang
bagaimana Anda menghadapinya.

Hidup bukan mengenai menunggu badai berlalu tapi tentang bagaimana
belajar menari dalam hujan.

__________________________________________________

Well, sepertinya memang tidak mudah untuk melakukan apa yang ada di atas. Seringkali, saat ada orang “menumpahkan sampahnya”, kita merasa yakin kalau orang itulah yang salah, orang itu sudah melukai kita, kita tidak mencoba memahami orang itu dan berpikir kenapa sampai orang itu berbuat seperti itu, kita lebih terfokus melihat dari kacamata kita sendiri. Kita pun tidak berkaca kalau kita sendiri yang “membawa sampah” itu, apa yang biasanya kita lakukan. Jujur aku pun masih sulit melakukan ini, tetapi sedikit demi sedikit aku belajar kalau “membawa sampah” itu bukan suatu hal yang menyenangkan, jauh lebih baik jika kita bisa membuang sampah itu di tempat dan dengan cara yang semestinya. Aku juga belajar kalau segala sesuatu itu tidak bisa hanya dilihat dari satu sisi saja, kita juga harus melihat dari kacamata orang lain. Sesuatu bisa terjadi karena didukung oleh beberapa faktor, dan kadang kala kita harus melihat faktor-faktor lain itu.

Semoga kita bisa menjadi si supir taxi itu dan semoga kita juga bisa belajar menjadi supir truk sampah yang tahu tempat dan waktu yang tepat untuk membuang sampahnya. ^^

8 thoughts on “Filosofi Truk Sampah

  1. iya.. bener bgt, wi.. butuh kebesaran hati utk meninggalkan sampah di tempat sampah…🙂 yg susah itu kalo lagi pas kecapean ato kurang tidur.. udah deh, sampahnya bertebaran ke mana2 :p smangaatt, gw jg lg blajar nihh…

  2. Wah tulisan yang bagus banget nih.. tapi gwa mau lihat dari sisi kl kita sebagai org yg truk sampahnya penuh. Karena suatu saat truk sampah kita pasti keisi penuh. nah saat kita sadar bahwa truk kita penuh muatan sampah, maka kita hrs sadar kalo kita akan mudah melempar sampah ke orang. jadi hati2 kl bicara. terus kita harus belajar membuang sampah dengan cara yang benar. (^^,)

  3. pernah baca ini dan memang filosofi yang bagus. setelah itu pun gue mencoba memakai filosofi sampah ini kalau ada orang yang buang sampah. pertama-tamanya susah sih, tapi lama-lama jadi biasa aja. yang susah ya kalo kita juga lagi banyak sampah, trus ketimpaan sampah dari orang lain. jadi sampah-sampahan deh *loh*

    eh btw, kalengorange ini saha teh?😛

  4. so true ya soooooo truuuue!
    apalagi kehidupan di kota besar seperti di JKT ini. baru keluar rumah aja mungkin uda bisa naik darah karena pola pengendara yang ada, semerawut nan macet menjadi paket hemat menuju emosi jiwa…

    pada akhirnya memang benar, sesulit-sulitnya mengubah diri sendiri tetap lebih sulit mengubah orang lain 🙂

    1. Iya cil.. ha3..
      skali kluar rmh uda bisa mengundang emosi..
      perlu banyak latihan pengendalian diri biar emosi lebih teratur.. ^^
      Thx for comment ya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s