Genk Midnite..


Terinspirasi dari Novel Perahu Kertas karangan Dee Lestari, aku akhirnya memakai nama ini untuk menamai genk teman2 SMA-ku. Di novel itu diceritakan Kugy dan Keenan (tokoh utama di novel tersebut) beserta seorang teman Kugy dan pacaranya hobi nonton midnite setiap weekend, maka mereka menamai dirinya Genk Midnite.


Buatku sendiri, genk ini bermula dari kepenatanku dengan dunia perkuliahan, lalu kehadiran teman-teman se-genk-ku di masa SMA seperti tetesan hujan di padang gurun. Mereka hadir menyibukkan setiap weekend-ku dengan acara nonton di bioskop. Not really midnight, tp hampir midnight.  Selama genk ini berjalan, yg bener2 midnight itu bisa terhitung dengan jari. Tapi yang jelas kami sangat menikmati acara nonton tersebut. Awalnya kami hanya berempat, karena hanya kami lah yang tersisa di Jakarta dan available untuk pergi setiap sabtu malam. Frekuensi menonton kami pun lama kelamaan mengalami masa pasang surut, kalaupun tidak nonton kami biasanya menghabiskan waktu bersama di hari itu. Kedekatan kami saat itu juga yang membuat mereka selalu muncul pertama kali dalam otakku setiap ada tempat tujuan baru atau film baru yang muncul. Setidaknya itulah yang terjadi di beberapa bulan pertama sampai akhirnya salah satu dari kami “tergaet” oleh dunia impiannya. Biarpun begitu, kami berempat still kept contact.

Begitulah yang terjadi selama beberapa tahun, kehadiran mereka kembali yang selalu tepat di saat aku sedang mencari pegangan. Tapi mereka selalu pergi lagi disaat aku sudah mulai bisa berjalan lagi. Pada akhirnya kami tidak hanya berempat lagi, personil kami bertambah saat teman-temanku yang kuliah di luar kota, kembali ke Jakarta. Seperti yang ada dalam teori Psikologi Sosial, semakin banyak “kepala”, maka semakin sulit pula dalam pengambilan keputusan, yang otomatis menjadi pemicu munculnya gesekan-gesekan dalam suatu kelompok. Dalam kurang lebih setahun terakhir ini, saat personil kami bertambah, ada begitu banyak hal yang kami lalui, dan juga pelajaran-pelajaran yang mendewasakan kami. Selama kurang lebih setahun terakhir ini, kami semakin mengenal satu sama lain. Kesibukan kami, prioritas-prioritas kami yang lain, gesekan-gesekan kepentingan kami, akhirnya benar-benar membuat frekuensi pertemuan kami berkurang total. Jadilah kami sekarang genk midnite yang gak pernah midnite lagi.


Sebuah hal yang cukup berat buatku, melihat sesuatu yang tadinya jadi sumber kesenangan buatku sekarang jadi sesuatu yang biasa saja, bahkan kadang terasa kurang menyenangkan. Awalnya aku tidak bisa terima ini, aku masih berharap kalau semuanya akan kembali baik-baik saja seperti saat genk midnite ini terbentuk. Tapi yang namanya pesta pasti akan bubar, cepat atau lambat kami memang harus menjalani kehidupan kami masing-masing, dan genk midnite memang akan tinggal menjadi kenangan bagi kami. Aku pelan-pelan mulai belajar untuk menikmati segala perubahan yang terjadi, mencoba menerima perubahan-perubahan itu dan menjalaninya seperti biasa. Karena aku yakin, ada atau tidak ada genk midnite, kemanapun dan dengan siapapun kami menghabiskan weekend, genk midnite akan selalu jadi bagian dalam perjalanan hidup kami.

Thanks for always be beside me for this last 3 years.

Thanks for being my rainbow after the rain.

Whenever you are wherever you are, you always be in my heart.

Thanks pals.. ^^

               

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s