UPM Dulu, Sekarang, dan yang Akan Datang


Mungkin kalimat ini terdengar familiar buat beberapa orang teman yang pernah tergabung dalam komunitas ini. Yang akan datang yang akan aku ceritakan saat ini bukanlah yang akan datang 5 atau 10 tahun dari saat ini, tapi yang akan datang dari 4-6 tahun yang lalu. Juga bukan seperti apa UPM itu dan kegiatannya saat ini, tapi lebih ke bagaimana kami yang 4-6 tahun lalu menjadi penghuni komunitas itu saat ini, bagaimana kami yang sudah terpisahkan oleh mimpi-mimpi kami, berkumpul lagi saat ini.

Hari ini, aku dan beberapa teman UPM akhirnya jadi kumpul setelah beberapa kali rencana yang kami susun batal. Pertemuan kali ini cukup ramai meskipun tidak seramai terakhir kali. Lucunya diantara kami, hanya ada satu yang belum lulus, sisanya sudah lulus semua. Jadi ketebaklah apa topik utama obrolan kami hari itu, kerjaan, rencana studi lanjut, ataupun rencana pindah kerja, tentunya sesekali diselingi gosip-gosip. Dulu, saat kami masih dimborbardir rentetan tugas yang sepertinya tidak akan pernah berakhir itu, kami selalu terpana setiap mendengar kisah sukses senior kami. “Gue mau jadi kaya dia.. Gue mau kerjaan kaya dia..” Kurang lebih seperti inilah komentar kami setiap mendengar cerita-cerita itu. Aku jadi ingat kalimat seorang Kepala HRD salah satu perusahaan besar yang paling diminati oleh lulusan dari kampusku dalam suatu dialog antar pihak universitas dan industri beberapa bulan yang lalu, “Mereka lupa kalau Roma itu tidak dibangun dalam semalam, mereka terlalu terpana denagn kisah sukses senior-seniornya.” Dulu, kami memang tidak tahu bagaimana membangun Roma itu, kita hanya tahu belajar untuk membangun Roma. Akhirnya saat ini kami sudah mulai mengerti sulitnya membangun Roma, dan kami pun memiliki Roma yang belum tentu sama. Mungkin saja Roma Magda seperti Amsterdam, Romanya Bambang seperti Hong Kong, Romanya Hardy seperti Perancis, Romanya Melvina seperti Mahattan, Romanya Chris seperti San Fransisco, Romanya Andhika seperti London, dan lain sebagainya. Tapi satu hal yang pasti, kami berusaha membangun Roma itu dengan susah payah dan dengan berbagai cara, sekalipun mungkin itu tidak sejalan dengan idealisme kami karena mata kami pelan-pelan terbuka bahwa dunia itu tidak selamanya seperti apa yang kami harapkan.

Senang rasanya bisa berkumpul bersama seperti ini, meskipun tidak sesering dulu saat kuliah, tapi pertemuan dengan mereka selalu membuat otak seperti ter-refresh. Kami semua boleh berubah status pekerjaan, tapi satu hal yang masih belum berubah sampai sekarang adalah UPM selalu menjadi tempat refreshing kami dan UPM selalu menjadi tempat berbagi untuk kami.

4 thoughts on “UPM Dulu, Sekarang, dan yang Akan Datang

  1. menurutku yang terpenting adalah mengetahui apa yang kita ingin capai: “apa sih tujuan hidup kita?”

    saya tipe orang yang percaya kalau setiap manusia memiliki “tugas” dan “peran” masing-masing. tidak mungkin semuanya bekerja di perusahaan A atau B atau C dan seterusnya. tidak ada gunanya untuk membayangkan “enaknya” menjadi si X, sehingga mencoba untuk menjadi si X dengan segala upaya. karena kita memang tidak perlu menjadi si X. kita adalah kita🙂

    dan betul sekali, seringkali kita hanya melihat “instan”. wah enak betul ya dia gajinya sekian, wah enak betul ya dia jalan-jalan, dsb. padahal yang ditampilkan dan diceritakan tentu tidak detail donk. saya pernah membahas ini dengan dua orang sahabat: tidak mungkin kita memasang foto kita yang sedang menangis di facebook. mungkin seperti itu asosiasi yang paling “in”.

    setiap orang punya rejekinya masing-masing, kalau kata orang-orang desa nan arif itu!

    1. That’s the point cil.Akhirnya toh kami jd ngerti kalau semuanya ga semudah membalikkan telapak tgn. Semuanya butuh proses dan selama proses itu bukan ga mgkn kami ketemu goal2 lain yg lebih sesuai dengan diri kita.

  2. Wah ini sebuah refleksi perjalanan singkat dr sejak masuk UPM sampai sekarang ^_^ 1 hal yg ga berubah, kita tetep suka gosip :p

    Gw dan temen2 yg lain jg ngerasain dew, kita selalu berharap untuk cepet2 maju 1 langkah ke depan. Misal waktu SMP, rasanya kita pengen cepet2 masuk SMA karena mereka keliatan dewasa banget, sedangkan pas SMA kita pengen cepet kuliah karena itu artinya bisa lebih bebas. Saat kuliah sampai merasakan yg namanya kerja, kita pasti tetap mencari lg yg lebih baik ke depan. Mungkin itulah manusia🙂 Pelajaran yg gw ambil dr u adalah, kita emang harus menikmati process dibanding product. Karena kita jg ga bisa selalu dapat apa yg kira harapkan^^

    1. “kita selalu berharap untuk cepet2 maju 1 langkah ke depan” –> sayangnya setiap kita masuk ke tahap baru yg kita inginkan itu kadang kita suka kangen dan ingin kembali ke tahap sebelumnya.. betul begitu?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s