The End of The Match


Akhirnya pertandingan AFF ini selesai juga.. dan pemenangnya adalah Malaysia. Hal ini sudah diramalkan oleh banyak orang kalau peluang Indonesia meraih trofi sangat tipis.. Ada 3 hal yang bisa disoroti dari pertandingan ini, yang pertama itu rasa nasionalisme dan integritas yang muncul dari masyarakat Indonesia baik supporter maupun pemain, pembenahan PSSI, dan yang terakhir adalah masalah euforia berlebihan yang menjadi beban bagi para pemain.

Entah kenapa perhelatan sepak bola ini mendadak menarik perhatian hampir seluruh masyarakt Indonesia. Jalanan mendadak kosong menjelang pertandingan layaknya masa-masa piala dunia. Suatu hal yang sangat jarang terjadi pada pertandingan sepakbola lain di GBK. Sepengetahuanku kalau ada pertandingan di GBK ataupun di stadion lain di Indonesia, yang ntn paling2 hanya supporter fanatik dari tim yang bertanding tersebut, tapi piala AFF kali ini berhasil menarik semua mata ke GBK, baik untuk ntn langsung maupun hanya sekedar ntn di rumah, di cafe, ataupun di pos kamling di sekitarnya. Pedagang-pedagang kaki lima di pinggir jalan pun ramai menjual kaos timnas dan segala atributnya seperti syal, topi, dan lainnya. Status jejaring sosial seperti facebook, twitter, YM, BBM, MSN, ataupun yang lainnya dipenuhi dengan update-update seputar pertandingan seperti dukungan, cacian, atau bahkan ketiakpedulian mereka akan persepakbolaan nasional. Benar-benar sebuah perubahan besar.

“‎3 tahun yang lalu klo Indonesia bertanding , penonton warna-warni..the jack, viking, aremania, blablabla..this time I see an amazing view..all Reds in Gbk..God bless Indonesia..pertama x nya gw merasa gw Indonesia..” Status salah seorang teman di awal pertandingan final lag ke 2 dimulai. Status ini menggambarkan bahwa masyarakat Indonesia bersatu dalam satu suara, membawa nama Indonesia.

“the cup is not ours but the team and supporters have shown the meaning of integrity. rotten tricks are for those with lack of capabilities… be proud chin up!” status teman lainnya di akhir pertandingan lag ke 2.

Entah karena sejarah panjang dengan Malaysia atau karena banyak atlit kita yang merambah dunia infotainment, atau karena sorotan yang gila2an saat Indonesia menang melawan Malaysia 5-1. Akhirnya Sepak bola berhasil menyatukan masyarakat Indonesia di GBK. Berbagai suku, Agama, asal kota, tingkat sosial ekonomi, dan lain sebagainya menyatu di GBK mendukung Timnas kita. Mengesankannya lagi, hal ini sudah berlangsung sejak Indonesia masuk semifinal melawan Malaysia. But the most great part was The supporters could appreciate the result of the game. Gak seperti pertandingan2 lain di Indoensia yang biasanya menyebabkan kerusuhan saat tim kesayangan mereka tidak berhasil menang. Begitu pula dengan kasus laser di Bukit Djalil Malaysia, berbondong2 masyarakat Indonesi menghimbau sesama supporter untuk tidak membalas tindakan supporter lawan. Nyatanya kasus laser ini tidak terjadi lagi di GBK, meskipun di awal pertandingan sempat terlihat laser yang menyoroti keeper Malaysia. Setidaknya hal ini menunjukkan kalau publik sepak bola sudah semakin dewasa (semoga hal ini terus berlanjut dan ga cuma sampe disini aja).

Harusnya pengurus PSSI bisa melihat hal ini untuk memajukan timnas kita menjadi lebih baik. Apa gunanya atlit dan pelatih yang bagus kalau tidak didukung sarana dan prasarana yang memadai. Pertandingan final lag pertama menunjukkan betapa mental pemain Indonesia masih jauh untuk bisa dikatakan matang. Mereka masih belum baik dalam mengontrol emosinya. Lalu di lag ke dua ini begitu terlihat kalau Indonesia masih jago kandang dan belum menjadi tim yang ditakuti. Perlu diakui cara bermain Indonesia belum terlalu baik, ritme permainannya masih belum stabil, dan banyak sekali kesalahan2 dalam pengoperan bola ataupun saat dribling bola. Hal ini seperti yang ditulis di status facebook teman yang lain lagi, “Good Coach, Talented Player, and Bigger Fans are Not Enough…Good Determination n Winner Mentality to be a Champion is very important in the Final Stage,…This things which our national team still have to be improved..” Rasanya PSSI akan ada banyak PR setelah pertandingan ini.

Hal terakhir yang mau aku soroti adalah over euforia setelah pertandingan semifinal melawan Filipina. Seluruh penjuru Indonesia memuji2 dan mengelu2kan nama Indonesia akan keluar sebagai juara kali ini. Lagi-lagi kita diingatkan lagi kalau saat ketenaran, nama besar, pujian, gelar, dapat membuat seseorang lupa diri, lupa kalau masih ada tugas yang harus diselesaikan, tugas untuk membawa Indonesia menuju gelar juara piala AFF. Meskipun pada awalnya hal ini dimaksudkan untuk menyemangati mereka, tp mungkin bs berakibat lain, mereka jadi tidak maksimal karena merasa berada di atas angin, ditambah lagi jamuan makan dari salah satu pesohor negeri ini yang mungkin saja mengurangi stamina mereka. Hasilnya adalah mereka tidak bisa bermain fokus ditambah lagi dengan masalah laser yang menyulut emosi salah satu pemain kunci.

Well.. Pertandingannya uda selesai, sisakan banyak cerita untuk besok hari. Kalah menang tidak masalah yang penting adalah hal yang bisa dipelajari dan dipetik dari pertandingan yang sudah usai itu. Kita tidak akan pernah tahu kemampuan kita sampai dimana kalau kita tidak mengerahkan semua kemapuan kita dengan maksimal.

Bravo Indonesia..  Terbanglah tinggi wahai Garuda! Let’s keep this nationalism don’t turn this into anarchism.. Semoga ini jadi moment awal untuk membuat masyarakt Indonesia bersatu menghadapi masalah yang ada.. ^^

Even Indonesian national team didn’t win the trophy but they already won Indonesian people’s heart.

2 thoughts on “The End of The Match

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s