What a Week…


7-8 tahun yang lalu, saat itu aku masih SMA, sebagian Jakarta lumpuh total karena banjir yang menyebabkan macet. AKu tidak pernah membayangkan kalau 7-8 tahun dari hari itu, aku akan berada dalam kemacetan tersebut. Hari itu Jakarta dan sekitarnya diguyur hujan cukup deras selama kurang lebih 3 jam dan dalam sekejap genangan pun tersebar dimana-mana di Jakarta. Aku pun terjebak dalam 5 jam perjalanan menuju rumah dari kantor. Macet yang tadinya perlahan akhirnya pun berhenti sama sekali, stuck setengah jam di tempat yang sama tanpa ada kejelasan di depan ada apa. Awalnya aku memang update informasi di depan dari temanku yang sudah jalan pulang duluan, namun setelah dia berhasil mencapai kos-nya, dia sudah tidak tahu lagi apa yang terjadi di depan.

Setelah setengah jam stuck di tempat yang sama, aku pun mulai gelisah dan memutuskan untuk jalan saat ada beberapa orang yang mulai turun bus dan jalan. Jujur aku tidak berani sendiri, jadi aku menunggu beberapa orang yang aku kenal. Akhirnya aku jalan dengan 3 orang lain, 1 orang anak satu divisi-ku, dan 2 orang lagi dari divisi lain yang tidak begitu aku kenal. Saat itu hujan rintik-rintik, tanpa berbekal payung, kami berjalan di ruas tol yang dipenuhi mobil yang tidak bisa jalan. Di sepanjang jalan itu terlihat banyak pemilik mobil yang turun dan mengobrol dengan mobil2 disebelahnya. Ada juga satu mobil yang isinya 2 orang anak kecil dengan seorang supir. Meskipun anak itu terlihat senang bermain embun di kaca mobil, tapi aku merasa kasihan anak sekecil itu harus terjebak dalam kemacetan berjam-jam. Well, mungkin seharusnya aku iri juga dengan mereka coz mereka bisa merubah distress menjadi eustress. Setidaknya 4 jam sebelumnya di dalam bus aku mulai bosan dan kehilangan ide untuk menghilangkan kebosanan. Setelah melihat mobil2 dan orang-orang itu, aku pun akhirnya keluar dari tol itu, semakin jalan, semakin banyak orang yang terlihat, dan juga sepeda motor yang jumlahnya tidak sedikit itu.

Jalanan hari itu benar-benar tidak biasa, berasa ky di film2 bencana, dimana semua orang, dan kendaran tumpah ruah ke jalanan. Suara klakson dan riuh-rendah suara orang-orang terdengar saling bersahutan, benar2 crowded. Pak Polisi pun tampak sibuk melakukan apa saja yang mereka bisa. Karena terlalu crowded, jalan kaki pun jadi susah. Mobil demi mobil akhirnya berhasil kami lewati, dan tibalah saatnya kami harus melewati banjir di depan Untar. Klo uda kaya gini baru berasa dhe, semua org itu sama, mau kaya mau miskin, mau pinter mau bodoh, semua tumplek jadi satu. Aku pun ga berasa tau2 jadi ngomong ama 2 org yang ga gitu aku kenal itu. Ini salah satu hal positif dari kejadian tidak menyenangkan hari itu karena setelah hari ini aku jadi nambah 2 temen baru. Sesampainya di CL, mall sudah sepi dan banyak toko yang mulai tutup. Setelah ketemu Mama dan Koko yg jemput aku di CL, cerita ttg banjir tadi pun ga berhenti keluar dari mulutku. This was not my first experience ngerobok banjir, but this was the greatest moment ever. Kapan lg aku jalan sejauh itu, liatin mobil uda kaya lautan, liatin status facebook orang berubah jadi makian2 pada Jakarta.

Pengalaman hari ini membuat aku berpikir kalau Jakarta itu sangat tidak bisa dibandingkan dengan kota-kota besar lain di luar negeri. Masih banyak yang perlu diperbaiki. Kemacetan ini tidak lain karena masalah banjir yang membuat orang tidak berani melintas di jalan tersebut. Banjir di Jakarta tidak akan pernah tuntas kalau pemerintahnya tidak pernah membereskan saluran pembuangan air di kota ini. Selain itu, perjalanan hari ini juga membuat aku tersadar kalau ternyata masih ada begitu banyak penelitian sosial yang bisa dilakukan terkait dengan masalah banjir ini.

Selasa

Gunung Merapi di Jawa Tengah meletus dan Gempa disusul Tsunami di Mentawai. Lagi-lagi bencara beruntun di Indonesia. Setelah sebelumnya banjir di Warsior. Kejadian ini membuktikan bahwa Indonesia tidak lepas dari bencana alam dan Indonesia belum bisa melakukan tanggap bencana dengan baik. Termasuk masalah banjir di Jakarta yang mungkin skalanya belom sebesar Gempa ataupun Tsunami. Banjir yang seharusnya sudah menjadi “makanan” sehari-hari di Jakarta, ternyata masih menimbulkan masalah pada setiap kejadiannya, padahal seharusnya pihak2 berwenang itu sudah siap dengan tindak lanjut terhadap banjir yang sudah sering terjadi itu. Begitu pula dengan Tsunami yang sebelumnya jauh lebih besar dari yg baru terjadi di Mentawai, mengapa ada banyak kritikan ataupun ketidaksukaan terhadap yang berwenang sehubungan dengan tanggap bencana Tsunami ini dan juga proses pengiriman bantuannya.

Sisa hari dari minggu ini pun diisi dengan rutinitas biasa, jalanan pun jadi begitu bersahabat di jam pulang kantor, mungkin karena orang-orang takut gak bisa pulang seperti hari Senin. Banjir kemarin jg mengingatkan aku akan banjir tahun 2006 lalu dmn kampus aku kebanjiran. Banjir yang membuat aku mantengin berita di TV maupun di radio dan merasa tertipu setelah itu karena hanya 85% dari berita itu yg benar. Hal ini juga terjadi lagi tahun ini, aku menelan mentah2 informasi yang aku dapat dari temanku tanpa berpikir bahwa dalam hitungan beberapa menit, berita itu juga bisa berubah kebenarannya.

Minggu ini pun ditutup dengan hari Sabtu yang benar-benar melelahkan sangat. Masuk di hari Sabtu dan perjalanan pulang yang benar2 panjang. Plus dapat bonus ketemu Jak Mania di halte busway Harmoni dan antrian menuju arah Kota yang tidak panjang tapi memakan waktu yang panjang sampai akhirnya aku memutuskan untuk dijemput saja.

What a tiring week but It wont make me feel demotivated.. Jia You!! and keep spirited!! ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s