Don’t Judge Book by Its’s Cover


Lagi-lagi aku dibuat tertipu oleh cover sebuah buku, mungkin sudah lebih sering dari ini, tapi setidaknya pengalaman yang memalukan jauh lebih berkesan dibandingkan dengan pengalaman yang biasa-biasa saja. Dulu aku pernah disarankan sebuah buku oleh seorang teman ketika kami mengunjungi perpustakaan di kantor. Buku itu terlihat sangat biasa di luarnya tetapi saat aku mulai membacanya, ternyata buku itu memiliki moral cerita yang sangat bagus. Meskipun buku itu adalah buku ber-genre religi, tapi isinya penuh dengan makna kehidupan yang begitu dekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Jujur saja aku rada malas membaca buku ber-genre religi kecuali kalau buku itu ber-genre religi yang aku pegang. Maka itu, aku pun menolak ketika seorang kasir salah satu toko buku terbesar di Jakarta menawarkanku buku Eat, Pray, and Love karena waktu itu aku mengira buku ini adalah buku yang sangat kental dengan ajaran agama lain. Ternyata aku salah, buku ini berisi tentang perjalanan kehidupan seseorang dan bagaimana dia mencari pencerahan dari segala luka hatinya.

Buku yang pertama itu berjudul Ipung, novel singkat yang berisi mengenai seorang anak desa yang mendapatkan beasiswa di sekolah elit. Ipung yang awalnya begitu tidak dianggap akhirnya malah menjadi pusat perhatian seiisi sekolah, bahkan seorang gadis kembang sekolah pun jatuh cinta padanya. Cerita yang ditulis begitu mengalir dan membuat kita terkadang menertawai diri kita sendiri karena semua yang diceritakan disana adalah hal-hal yang sering kita temui dalam kehidupan sehar-hari kita. Aku bahkan menghabiskan buku itu dalam waktu hanya beberapa hari saja.

Buku yang kedua, Eat Pray & Love. Buku yang menginspirasi banyak orang yang sudah membacanya. Namun, aku belum membaca buku ini dan langsung menonton versi filmnya yang baru tayang di bioskop minggu lalu. Tak lama setelah aku mendapat tawaran buku ini dari kasir tersebut, aku membaca di sebuah buku karangan Zarra Zettira ZR yang berjudul Cerita Dalam keheningan bahwa si tokoh utama disarankan oleh therapist-nya untuk membaca buku ini. It’s a self healing book. That’s why I’m interested to see the movie. The movie is about healing your wound. You can find the way to heal your wound by your own way, it’s only u who can heal ur wound not others. But the most important of this film was, how u can find your courage to search your passion. How u can leave the comfort zone that u has built with all of our heart. Terkadang untuk memangun comfort zone itu ada banyak pengorbanan yang kita lakukan, dan tidak sepenuhnya comfort zone itu adalah apa yang kita inginkan, apa yang kita mimpikan, namun kita tetap bertahan disana karena kita tidak mau lagi merasakan pengorbanan-pengorbanan lain jika kita harus mulai lagi dari awal. Itulah kenapa menemukan keberanian untuk mencari passion bukanlah suatu hal yang mudah. Di film ini diceritakan kalau si tokoh utama akhirnya memutuskan untuk meninggalkan comfort zone-nya, dan ternyata keputusannya itu membawanya pada luka hati yang berlanjut pada luka hati yang lain. Sampai akhirnya dia memutuskan untuk pergi meninggalkan semua kehidupannya itu dan mencari pencerahan dari satu kota ke kota yang lainnya. Si tokoh utama memulai perjalanannya di Roma dan mengakhirinya di Bali. Setiap kota membuatnya menemui teman baru dan juga pencerahannya masing-masing sampai akhirnya dia bisa menemukan lagi dirinya yang dulu jauh sebelum dia membangun comfort zone itu.

Mungkin setiap orang memiliki interpretasi yang berbeda saat menonton film ini, dan aku pun memiliki interpretasi sendiri untuk film ini. Buatku film ini menggambarkan mengenai after quarter life’s crisis. Setiap orang akan memasuki fase dimana dia harus mencari lagi jati dirinya di pertengahan usia 20, dan setelah mereka berhasil melewati semua itu, mereka akan masuk ke zona nyaman yang mungkin saja tidak sepenuhnya nyaman tapi dibuat menjadi senyaman mungkin karena dari kecil kita selalu diingatkan untuk bersyukur dengan apa yang kita miliki saat ini. Hal inilah yang menyebabkan zona nyaman itu tercipta. Mungkin beberapa orang berhasil menemukan apa yang diacari setelah masuk ke dalam zona nyamannya, tapi ada beberapa orang yang pada akhirnya dia lah yang menyamankan zoan tersebut bukan zona tersebut yang membuatnya nyaman. Zona nyaman inilah yang juga berkeliaran dalam benakku dan teman-temanku yg lain akhir-akhir ini. Entah kita benar-benar nyaman dengan keadaan sekarang dan bersyukur akan hal itu atau ini hanya defense kita karena kita tidak berani melangkah menuju zona yang lain karena takut akan memulai segalanya dari awal lagi.

 

Really a great and inspiring movie, make me wanna buy the book and learn something from the story. Then it also make me wanna go around the world to fulfilling myself. ^^

 

2 thoughts on “Don’t Judge Book by Its’s Cover

    1. whew.. ongkirnya donk.. wkwkw.. g blm baca yg eat pray love, br jg dibeli..
      klo yg Ipung g pinjem perpus kantor ga bs dikirim.. ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s