The Sun, and the Wind


Suatu hari angin meniupkan kembali hangatnya sinar matahari setelah berhari-hari hujan. Cahaya matahari pagi yang membuat embun begitu berkilau memantulkan cahaya matahari. Tapi embun tidak bisa lama-lama disana karena dia harus segera hilang ketika matahari mulai tinggi. Dan dalam sekejap matahari pun semakin tinggi memancarkan sinarnya yang semakin menyengat dan begitu menyiksaku. Kucari-cari angin biarkan dia bertiup, tapi angin tidak lagi ada. Angin sedang mengarungi samudra mencari jati dirinya.

Kini tinggal aku dan matahari dengan sinarnya yang sangat menyengat. Aku tidak suka ini tapi aku sangat ingin matahari ada di setiap pagi dan siangku. Aku tidak bisa lagi mencari angin untuk meniupkan anginnya ataupun menanti kehadiran embun, karena itu bearti matahari baru saja muncul dan sinarnya tidak begitu menyengat. Kini aku harus terbiasa dengan matahari yang seperti, aku harus berjalan sendiri menikmati setiap sengatan cahayanya yang tidak lagi bersahabat seperti dulu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s