Jogja.. Aku Kembali..


Setelah Malang, kali ini tujuan aku adalah Jogjakarta, the never ending Asia. Jogjakarta is a tourist destination, there’re so many tourist spots in this city. I’ve been to this city for several times and it was my fifth time to this city. For me Jogja is a nice city and make me want to explore this city more and more, “Kota yang ngangenin”.  Pagi itu bandara begitu ramai, disana-sini penuh orang berdesak-desakan, masuk ke tempat check-in pun antriannya panjang. Semua loket yang dibuka pagi itu, tampak dipenuhi antrian yang panjangnya sampai mendekati pintu masuk. Entah apa yang terjadi, keberangkatan hari itu begitu ontime tidak seperti biasanya yang selalu terlambat. Alhasil kami lari-larian sampe ke pesawat karena sudah boarding. It’s my first time running with the high heels, awesome. Saat antrian pembayaran airport tax, tiba-tiba ada orang yang dengan santainya melewati kami. Awalnya aku pikir dia temannya orang di depanku, tapi ternyata dia menyelak dengan santai sambil telepon-an. Ckckck.. Bebek aja bisa ngantri.. Ternyata masih aja ada orang yang gak bisa ngantri.

Perjalanan kali ini tujuan utama ku adalah STM Pembangunan, Sleman. Setidaknya sekolah ini sudah berubah dari terakhir kali aku ke sini akhir tahun kemarin. “Baru direnovasi” kata salah seorang staf guru yang jadi contact person-ku. Di sekolah ini, nuansa keramahan orang Jawa begitu kental dan terasa. Kalau kata teman seperjalananku, budaya melayani. Ternyata tidak hanya bangunannya saja yang berbeda, siswa-siswa yang aku tes pun berbeda dari tahun yang lalu.

Selesai tes dari sini, kami berjalan menuju hotel yang tidak begitu jauh dan berencana berjalan-jalan di Malioboro untuk makan malam disana. Tujuan utama kami adalah Mirota Batik yang sangat terkenal itu. Jujur aku lupa bagaimana rasanya masuk ke dalam toko ini, karena seingatku aku hanya melewati depannya saja dan tidak masuk ke dalam, setidaknya aku ingat kalau aku tidak pernah masuk ke toko ini malam-malam. Tak heran jika aku merasa begitu aneh ketika masuk ke dalam toko ini dan mendengar bunyi gamelan jawa dan bau kemenyan yang begitu menyengat, benar-benar suasana yang mistis. Belum lagi ditambah dengan barang-barang antik dan foto-foto Sultan. Selain itu keadaan toko yang begitu penuh dan sesak oleh barang dagangan dan juga orang-orang yang datang membuatku semakin ingin cepat-cepat meninggalkan tempat ini. Apalagi aku tidak menemukan sesuatu yang bisa kubeli. Selesai di lantai 1, aku naik ke lantai 2 yang menjual pernak-pernik akhirnya disini ada yang bisa aku beli. Setelah kami berdua mendapatkan barang-barang belanjaan masing-masing, akhirnya kami naik satu lantai lagi untuk mencari makanan di atas. Berdasarkan info yang kami dapat, di atas Mirota Batik ada café yang nuansanya enak. Ternyata café yang suasananya remang itu memang cukup menarik perhatian dan tempatnya pun nyaman. Yang paling penting makanannya murah.  Dengan 3 menu makanan yang membuat kami kekenyangan, kami cukup merogoh kantong dengan nominal sebesar enam belas ribu lima ratus rupiah saja.

Perburuan barang belanjaan pun kami lanjutkan setelah makan, dan tidak seperti biasanya ada tukang becak yang menawarkan diri untuk membeli oleh-oleh. Kali ini kami sendiri yang mencari tukang becak itu. Malam-malam naik becak keliling Jogja, seru juga, ditambah udara malam yang sejuk, membuat perjalanan ini makin menyenangkan. Seperti yang sudah kami ketahui, tukang becak ini mendapat komisi setiap kami membeli sesuatu di toko yang dia antarkan. Tapi lucunya si tukang becak ini dengan terang-terangan bertanya pada kami, toko mana yang kami masuki, sehingga kami bisa melihat dengan jelas saat dia menerima uang dari si pemilik toko. Melihat hal ini, rasannya kasihan juga apalagi saat duduk di becak itu aku merasakan kalau ternyata beban kami membuat dia ngos-ngosan saat mengayuh becaknya. Tukang becak ini pun yang membawa kami kembali ke Malioboro untuk mencari taksi. Beruntung kami mendapatkan supir taksi yang cukup bawel, dari supir ini kami mendapatkan info mengenai nigth spots di Jogja dan beberapa nama hotel yang nyaman dan tidak terlalu mahal, termasuk info mengenai hotel remang-remang tempat selingkuh. Terkadang tukang taksi bisa jadi sumber informasi tempat-tempat yang bisa dikunjungi, tapi kita juga perlu hati-hati karena tidak semua tukang taksi itu baik. Beginilah perjalanan kami di tutup hari ini.

Hari kedua, sebagian besar waktu kami dihabiskan di kamar hotel dan di jalan. Ketika sedang santai-santai di kamar, tiba-tiba mati listrik. Untungnya mati listrik ini tidak lama, dan kami pun melanjutkan menonton acara TV kembali. Tidak banyak yang bisa diceritakan mengenai hari ini karena kami hanya mengunjungi kampus satu ke kampus yang lainnya. Makan siang kami hari ini sengaja kami pilih tidak jauh dari hotel, sebuah warung nasi bakar yang di disain cukup menarik, mungkin karena sebagian besar pelanggan mereka adalah mahasiswa yang tinggal tidak jauh dari tempat ini. Lagi-lagi aku terkejut saat membayar pesanan kami hari ini, dua belas ribu rupiah saja untuk nasi dan ayam bakar serta es teh manis. Boleh dibilang harga ini cukup murah jika dibandingkan di mall. Tapi kalau dibandingkan dengan warung harga mahasiswa, harga ini kurang lebih sama saja.

Perjalanan kami di Jogja pun di tutup dengan menunggu di Bandara. 2 jam lebih kami menunggu dan tak banyak yang bisa kami lakukan. Akhirnya HP menjadi pelampiasan kebosanan paling muktahir. Whuaaa.. what a great City.. I’ll come back someday..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s