Malang in a Day


What a nice trip. For these two days I go to Malang for a business trip with my friend. I forgot whether I had been come to Malang before. Seems I so familiar with this small city. I went there by plane and from the information that I got, there’s only several plane landing in this city. Only two air crafts and only one flight in a day. It was my first time use Sriwijaya Air, but I had a good impression with this air craft for some reason. Salut bgt pas take off dari Jakarta , berasa mulus bgt take off nya. Seengaknya bisa jadi obat peghilang kebosanan karena pas mau take off itu ada banyak banget pesawat yang ngantri dan ini makan waktu lumayan lama dan nyebabin pesawatnya terlamabat sampai di tujuan (Ckckck.. ternyata pesawat bs macet jg toh).

Sesampainya di Malang, aku begitu antusias untuk memotret keadaan bandara yang masih tergolong baru itu. Setidaknya bandara itu baru belum lama beroperasi untuk penerbangan umum. Dibandingkan dengan namanya, bandara itu lebih mirip dengan stasiun kereta api di Cirebon. Bangunanya pun tidak terlalu banyak dan besar seperti bandara di Jakarta ataupun di beberapa kota lain di Indonesia yang pernah aku singgahi. Sayangnya keribetan barang bawaan membuatku sulit mengeluarkan kamera. Aku semakin terpana lagi saat melihat ruang baggage claim-nya. Ruangan itu hanya berupa ruangan yang tidak terlalu luas dengan ban berjalan pendek untuk menghantarkan barang2 penumpang. Di depan ruangan itu ada sebuah meja tempat para petugas berjaga dan disebelah meja itu ada kamar kecil yang bahakan tidak dipisahkan antara laki-laki dan perempuan. Saat aku turun dari pesawat dan berjalan menuju tempat pengambilan bagasi, ada banyak orang dengan seragam berteriak, “ Bagasinya dibantu. ” Entah kenapa saat itu aku berpikir dengan merekelah kami harus mengambil bagasi. Lalu dengan polosnya aku memberikan nomor bagasi kami dan saat aku beranjak untuk menghampiri tumpukan bagasi itu orang itu pun bertanya apakah aku mau mengambil bagasi sendiri atau mau diambilkan oleh mereka. Walahhh… ternyata mereka itu adalah porter yang akan mengambilkan bagasi kami, spontan aku langsung meminta kembali nomor bagasi kami. Malu juga rasanya.  Hahaha..

Setelah itu kami langsung menuju ke kampus tempat kami mengadakan seleksi. Sebagai kota yang tidak terlalu besar, lalu lintas Malang terbilang cukup ramai tapi tidak sampai menimbulkan kemacetan. Jalanan di kota ini juga turun naik seperti di Kota Bandung, mungkin karena Malang merupakan kota pegunungan. Kurang lebih satu jam kami sampai di kampusnya dan diturunkan di lobby depan. Kami sempat celingak celinguk karena tidak tahu gedung mana yang harus kami tuju (Bener-bener berasa kaya anak ilang). Sambil mencari informasi mengenai gedung yang harus kami tuju, aku menyapu pandanganku ke sekeliling kampus tersebut, kampus ini memiliki kompleks yang begitu luas dan terdiri dari beberapa lapangan gedung serta lapangan olahraga. Hebatnya lagi, sejauh mata memandang, di sekeliling kami adalah gunung. What a nice environment.. ^^ Tak lama kemudian kami sudah berhasil masuk ke gedung yang kami tuju dan bertemu dengan mbak2 yang akan menemani kami selama 2 hari ini dari pagi sampai siang. Kami sempat menunggu beberapa saat sebelum memulai tesnya. Tes hari ini berjalan sampai sore karena dilanjutkan dengan interview. Selesai tes dan interview, kami menentukan rencana kami sore ini dengan bertanya-tanya ke Mbak2 tersebut. Berbekal beberapa info dari mereka, akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke Batu dan kuliner ke beberapa tempat makan yang cukup terkenal di kota ini.
Kami pun langsung bergegas menuju hotel dengan taxi yang sudah kami pesan. Jarak dari kampus ke hotel tidak begitu jauh sekitar 15-20 menit. Kami menginap di hotel Kartika Graha. Hotel bintang tiga ini memiliki desain interior yang tergolong baik, interiornya berhasil memunculkan nuansa oriental dan etnik Indonesia. Ditambah lagi jendela besar yang menambah kesan outdoor semakin membuat coffee shop di hotel ini menjadi enak dilihat dan nyaman untuk jadi tempat nongkrong. Welcome drink yang biasanya ditaro di kamar, di hotel ini kami diminta untuk mengambil sendiri welcome drink di coffee shop. Setidaknya saat kami menginjakkan kaki di coffe shop, para pelayan dengan bebas bisa menawarkan kami menu makanan di sana (waw, ternyata marketingnya hebat!!) Di coffee shop itulah kami duduk dan menunggu mobil sewaan yang kami pesan. Tergolong nekat memang, tanpa peta dan tanpa kenalan di kota ini, kami memutuskan untuk menyewa mobil agar bisa menjelajahi kota Malang di waktu malam. Tapi namanya juga bertualang, harus sedikit nekat. He3..

Perhentian pertama kami adalah “Toko Oen”, toko camilan dengan bangunan peninggalan Belanda. Katanya es krim di toko ini sangat enak dan sudah sering masuk ke Wisata Kulinernya Trans TV, tapi sayangnya kami tidak sempat mencicipinya. Akhirnya disini kami hanya numpang foto dan membeli beberapa camilan. Berikutnya kami melanjutkan perjalanan ke Batu dan di sepanjang jalan menuju batu itu aku (ya cuma aku karena teman seperjalananku tertidur dalam perjalanan ke Batu) melihat ada banyak sekali tukang makanan, mulai dari yang gerobakan sampai yg setipe kafe, mulai dari makanan lokal sampai makanan asing. Kami akhirnya berhenti di dekat alun-alun untuk makan karena menurut supir dan menurut mbak2 di kampus tadi siang, daerah alun-alun ini ada banyak makanan pinggir jalan. Spontan aku ingat baso Malang, tp ternyata malah tidak ada di sini. Akhirnya aku makan Sate ayam berhubung temanku mau cobain sate kelinci. Rasa satenya standard, tp lumayan lah buat isi perut meskipun masih belom “nendang”.

Selesai makan, kami melanjutkan perjalanan lagi ke BNS (Batu Night Spektakuler), tempat hiburannya orang-orang sini. Sebenernya ada dua, satunya lagi itu Jatim Park, tapi Jatim Park itu bukanya pagi sampe sore dan lebih bersifat edukatif. Kalo BNS bukanya sore sampe malem dan sifatnya lebih ke entertainment dan lebih mirip theme park. Di dalamnya ada banyak permainan dan beberapa di antaranya bersifat uji nyali seperti rumah hantu, sepeda udara, dan maenan-maenan laennya seperti di Dufan. Biaya tiket masuknya Rp. 7000,00, tapi kita masih musti bayar permainan yang mau kita maenin di dalem dan rata-rata biayanya juga tujuh ribu rupiah. Pas pertama masuk ke sana, kita nyari WC dulu, eh ketemunya malah stand sulap n ramal Tarot. Buat aku sendiri, aku tidak begitu percaya dengan ramal-meramal nasib. Selaen karena ga mao ngeduluin nasib, aku percaya kalau hidup ini ada untuk sekarang jadi jalani aja yang ada sekarang, toh semuanya juga berjalan sesuai dengan karma masing-masing. Jadi hidup kita mau kaya apa kita sendiri yang tentuin. Justru dengan ramalan nasib seperti itu akan membuat kita terpaku pada ramalan itu dan malah bisa mungkin ramalan itu akan jadi kenyataan.

Selesai dari stand ramal itu, kami melanjutkan pencarian toilet tapi sebelum ketemu toiletnya kita maen rumah kaca dulu, yang ini gratis. Rumah kacany simpel, meskipun kita sempet kesasar dikit pas deket pintu keluar. Not so much fun, tp sempet kaget jg pas liat ada kaca yang retak karena mungkin ketabrak orang. Next destination akhirnya toilet dan setelah itu baru dhe kita ke Lampion Garden. Sayangnya Batre HP temanku dan batre kameraku drop pas disini jadi sisa setengah perjalanan di lampion garden ini kami menggunakan HP dari kameraku. Ternyata Kamera Nokia E71 ga gitu bagus untuk dipakai di tempat gelap, really not recommend. Setelah dari sini kami lanjut ke Cinema 4D, yang ini kurang begitu memuaskan tapi sukses membuat kita sakit leher besok paginya, cuma seru terakny aja, sisanya mirip ama Meteor Attack di Dufan tapi sepertinya lebih lama sedikit durasinya. Cinema 4D ini jadi pilihan terakhir kami karena setelah ini kami pun melanjutkan perjalanan ke Payung. Saat berjalan menuju pintu keluar, kami diarahkan ke sebuah tempat yang dinamakan night market. Night market ini tempat menjual souvenir dan camilan khas Malang. Jadi sepanjang perjalanan menuju pintu keluar dan tempat parkir, ada banyak sekali pedagang yang setia menawarkan dagangannya. Lalu akupun berkata pada temanku, “Ternyata orang malang udah pinter marketing. ” Setidaknya pihak management “memaksa” pengunjung melihat-lihat barang dagangan di pasar itu.

Berikutnya kami menuju ke Payung. Payung ini sebenernya mirip seperti Puncak Pass, warung-warung di pinggir gunung yang menjual macam-macam jajanan seperti baso dan jagung bakar. Tujuan utama kita ke sini adalah melihat pemandangan kota Malang dari atas. Tapi ternyata warung pilihan kami tidak bisa untuk melihat ke bawah, jadilah kami hanya makan saja. Keinginanku untuk makan baso pun kesampaian meskipun basonya sama sekali tidak bisa dibilang enak. Temanku memilih jagung bakar dan sepertinya dia menikmati jagungnya itu. Dingin-dingin di puncak gunung emang paling enak makan jagung bakar. Hehe.. Setelah itu selesailah petualangan kami hari ini. Perjalanan pun berlanjut menuju ke hotel kami.

Hari kedua di sini, bangun tidur aku langsung bersiap-siap untuk ke kampus-nya lagi karena waktunya sudah mepet. Kejadian di kampus kurang lebih sama dengan hari kemarin, tidak ada yang betul-betul berbeda. Yang special di hari ini justru ada di saat perjalanan menuju bandara, hujan lebat dan supir taxi yang ngebut, bener-bener bikin mabok. Kenekatan kami terbukti lagi disini, kami tiba di bandara kurang 15 menit dari waktu keberangkatan. Suasana terminal keberangkatan di bandara ini, begitu mengejutkanku. Suatu keadaan yang sangat berbeda dengan bandara pada umumnya. Hanya ada dua pintu disini, satu pintu untuk penumpang Garuda dan satu pintu untuk penumpang Sriwijaya. Loket check-in pun hanya satu dengan dua petugas. Aku semakin terkejut lagi saat membayar airport tax, enam ribu rupiah untuk harga airport tax, bahkan jauh lebih murah daripada harga bus Damri dari Bandara Soekarno Hatta ke rumahku. Mungkin harga ini juga sebanding dengan keadaan bandaranya yang serba sederhana. Ruangan tunggunya pun sangat penuh dan terlihat agak semerawut. Beginilah keadaan bandara yang bisa aku ceritakan. This was a great experience ever and maybe I’ll always remember this.

Akhirnya aku kembali lagi ke Jakarta dan ternyata sesampainya di Jakarta aku masih dikejutkan lagi dengan kardus bawaanku yang sudah diberi tanda fragile, masih saja penyok disalah satu ujungnya. Untung isinya cuma kerupuk, gmn kalo isinya beling atau sejenisnya. Whew.. And it was the story ‘bout my trip to Malang. Welcome back to Jakarta, the crowded city.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s