Friends


Kemarin, sebuah obrolan di messenger membuatku membuka kenangan 6 tahun yang lalu saat kami masih berada di akhir tahun masa SMA. Sebuah cerita yang merubah jalan hidupku. Terdengar ‘lebay’ tp memang inilah yang terjadi. Setidaknya peristiwa waktu itu merubah cara pandangku tentang arti persahabatan kami. Aku sempat mempertanyakan arti sahabat yang sebenarnya, dan aku pun meragukan kepercayaanku pada mereka waktu itu, sampai-sampai aku pun mengalami fase mis-trust pada peer grup sendiri.

Usai peristiwa itu kami pun berpisah menjalani pilihan hidup masing-masing, ada yg tetap di Jakarta dan beberapa pindah keluar kota ataupun luar negeri. Aku termasuk yang tidak menetap di Jakarta, setidaknya selama hampir setahun tidak berada di Jakarta, aku selalu berusaha untuk mempersiapkan diriku untuk bertemu dengan dia lagi, dia yang membuatku menyadari semua ketidakberesan di peer grup kami. Meskipun pada akhirnya dia menjadi seseorang yang sangat jarang kutemui sekembalinya aku ke Jakarta. Akhirnya perlahan-lahan aku mulai mendekatkan diriku kembali dengan teman-temanku yang lain kecuali dia. Terima kasih pada internet yang saat itu semakin cepat dan semakin mudah diakses karena berkat internet lah aku berhasil menciptakan “quality time” dengan teman-temanku tersebut tentunya kecuali dia.

Mungkin ada banyak kekecewaan aku terhadap dia yang membuatku sulit menerima kenyataan bahwa orang-orang menganggap kami adalah sahabat baik. Setidaknya mereka yang tidak tahu peristiwa itu tetap menganggap kami sahabat baik. Seringkali aku mendengar pertanyaan tentang kabar dia dari teman satu sekolah kami karena mereka tahunya kami adalah sahabat yang dulu kemana-mana selalu bersama. Jangankan memberitahu kabar dia pada orang lain, aku sendiripun tidak tahu apakah dia sudah lulus sekarang, apakah dia sudah bekerja sekarang. Kami hanya bertemu setiap ada teman kami yang dari luar kota pulang ke Jakarta dan itupun bisa dihitung dengan jari selama 6 tahun ini. Berbeda dengan pertemuanku dengan anggota peer-ku yang lain yang semakin intens di akhir masa kuliah kami dan di awal masa kerja kami. Setiap pertemuanku dengan dia pun tidak pernah diisi dengan tukar kabar layaknya sahabat lama yang bertemu. Hanya basa-basi dan selebihnya dia sibuk sendiri.

Ternyata bukan hanya aku saja yang geram dengan “hilang-nya” dia dan kekasihnya itu. Meskipun dia tidak sepenuhnya hilang, tapi seolah dia begitu sulit terjangkau dan begitu sulit diketahui jejaknya. Awalnya mungkin karena kecewa, jadi aku tidak berusaha menghubungi dia lagi. Tapi lama kelamaan aku jadi terbiasa tanpa kehadiran dia lagi, aku tidak lagi mencari-cari dia lagi, begitu pula dengan dia. Beberapa waktu yang lalu, seorang temanku dari dunia perkuliahan berkata padaku, kalau ada sepasang sahabat yang lost contact artinya bukan hanya kesalahan satu orang saja, tp salah dua-duanya. Hum.. patut dipertimbangkan juga. Sepertinya kami berdua sama-sama tidak berusaha saling memperbaiki keadaan, tidak seperti aku dengan teman peer-ku yang lain.

Kehidupanku pun berjalan tahun demi tahun sampai aku dipertemukan lagi dengan seseorang yang membuatku disadarkan kalau aku pernah begitu dekat dengan dia dan kekasihnya. Aku mengenal adik kekasihnya dari salah seorang temanku di kampus. Semuanya terjadi begitu saja, sejak perkenalanku dengan adik kekasihnya, dia dan kekasihnya itu mulai masuk lagi dalam kehidupanku. Meskipun hanya sekedar sapaan singkat di messenger ataupun permintaan mereka untuk diajak pergi bareng. Sampai akhirnya setengah tahun dari kemunculan mereka, aku baru menyadari bahwa mungkin dia baru merasakan kehilangan kami sebagai sahabatnya. Mungkin dia baru merasa tidak ada lagi sahabat disampingnya. Setelah sekian banyak pertanyaan yang bermunculan di benakku saat kehadiran dia awal tahun ini, akhirnya kini aku tahu jawabannya. Dia pun merasa kehilangan, sama seperti aku meskipun agak terlambat. Dia pun ingin masuk lagi dalam kehidupan kami meskipun tali yang sudah putus tidak akn menjadi sempurna jika disambung lagi.

Thanks for the friendship that we’ve through.. ^^

2 thoughts on “Friends

  1. iya dew, gw jg pernah jauh dr bbrp orang yg sempet gw anggep sahabat dan kmana2 selalu bareng..
    but believe it, if he/she is your true friend, u will end up being close with him/her again^^
    temen sejati ga akan lari, ga seperti orang2 yg kita anggap temen tp ga mau menyisihkan sedikit waktunya buat kita..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s