Suara Paling Indah


2 tahun terakhir, aku seringkali mendengar cerita tentang pacaran beda agama, topik ini seringkali diangkat dimana-mana. bahkan ada salah satu teman yang sempat kepikiran untuk mengangkat topik ini sebagai topik skripsinya, meskipun akhirnya tidak terlaksana. Selama 2 tahun terakhir pula aku mendapat pertanyaan dari teman-teman mengenai masalah ini. “Kalo lu gmn? bermasalah gak dengan pacaran beda agama?” Awalnya aku sempat kesulitan menjawab, ada berbagai jawaban yang sempat muncul, sampai terkahir pertanyaan tersebut mulai bervariasi sedikit. ” Kalo di Agama lu, pacaran beda agama itu gimana sih?” Aku lalu hanya menjawab dengan jawaban klise, ” Menurut g, semua agama itu sama aja, tujuannya sama cuma caranya aja yang berbeda dan istilah dari tujuan akhirnya juga berbeda.” Gak ada kata-kata laen yang bisa keluar cuma ini, padahal sebenarnya mungkin masih ada hal laen yang pengen aku keluarin tapi ga terpikirkan kata-kata yang tepat.

Suatu pagi yang cerah, teman sebangku-ku di bus jemputan kantor, mengeluarkan buku “Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya ” karangan Ajahn Brahm. Itu bukan kali pertama aku melihat dan mengetahui tentang buku itu, aku sudah seringkali melihat buku itu di toko buku ataupun di meja di kamar koko ku, tanpa pernah sekalipun berniat untuk membacanya. Namun, entah kenapa saat melihat temanku itu membaca buku itu, aku jadi penasaran membacanya, “Dia yang non-Buddhis aja baca, masa g ga baca sih?” Begitulah kira2 pikiran yang terbersit saat itu. Aku pun akhirnya mulai membaca buku itu bagian per bagian sampe akhirnya selesai. Dan inilah salah satu bagian yang membuatku teringat dengan pertanyaan teman-teman sehubungan dengan pacaran beda agama. Semoga cerita ini bisa mengingatkan kita semua untuk saling menghormati dan saling menghargai dalam keanekaragam yang ada.

Seorang tua yang tak berpendidikan tengah mengunjungi sebuah kota besar untuk pertama kali dalam hidupnya. Dia dibesarkan di sebuah dusun di pegunungan yang terpencil, bekerja keras membesarkan anak-anaknya, dan kini sedang menikmati kunjungan perdananya ke rumah anak-anaknya yang modern.

Suatu hari, sewaktu dibawa berkeliling kota, orang tua itu mendengar suara yang menyakitkan telinga. Belum pernah dia mendengar suara yang begitu tidak enak didengar semacam itu di dusunnya yang sunyi. Dia bersikeras mencari sumber bunyi itu, dan dia tiba di sebuah ruangan di belakang sebuah rumah, di mana seorang anak kecil sedang belajar bermain biola.

“Ngiiik! Ngoook!” berasal dari nada sumbang biola tersebut.

Saat dia mengetahui dari putranya bahwa itulah yang dinamakan “biola”, dia memutuskan untuk tidak akan pernah mau lagi mendengar suara yang mengerikan tersebut.

Hari berikutnya, di bagian lain kota, orang tua ini mendengar sebuah suara yang seolah membelai-belai telinga tuanya. Belum pernah dia mendengar melodi yang seindah itu di lembah gunungnya, dia pun mencari sumber suara tersebut. Ketika sampai ke sumbernya, dia tiba di ruangan depan sebuah rumah, di mana seorang perempuan tua, seorang maestro, sedang memainkan sonata dengan biolanya.

Seketika, si orang tua ini menyadari kekeliruannya. Suara tidak mengenakkan yang didengarnya kemarin bukanlah kesalahan dari biola, bukan pula salah sang anak. Itu hanyalah prose’s belajar seorang anak yang belum bisa memainkan biolanya dengan baik.

Dengan kebijaksanaan polosnya, orang tua itu berpikir bahwa mungkin demikian pula halnya dengan agama. Sewaktu kita bertemu dengan seseorang yang menggebu-gebu terhadap kepercayaannya, tidaklah benar untuk menyalahkan agamanya. Itu hanyalah prose’s belajar seorang pemula yang belum bisa memainkan agamanya dengan baik. Sewaktu kita bertemu dengan seorang bijak, seorang maestro agamanya, itu merupakan pertemuan indah yang menginspirasi kita selama bertahun-tahun, apapun kepercayaan mereka.

Namun, ini bukanlah akhir dari cerita.

Hari ketiga, di bagian lain kota, si orang tua mendengar suara lain yang bahkan melebihi kemerduan suara dan kejernihan suara sang maestro biola. Menurut Anda, suara apakah itu?

Melebihi indahnya suara aliran air pegunungan pada musim semi, melebihi indahnya saura angin musim gugur di sebuah hutan, melebihi merdunya suara burung-burung pegunungan yang berkicau setelah hujan lebat. Bahkan melebihi keindahan hening pegunungan sunyi pada suatu malam musim slaju. Suara apakah gerangan yang telah menggerakan hati si orang tua melebihi apa pun itu?

Itu suara sebuah orkestra besar yang memainkan sebuah simfoni.

Bagi si orang tua, alasan mengapa itulah suara terindah di dunia adalah, pertama, setiap anggota orkestra merupakan maestro alat muskinya masing-masing; dan kedua, mereka telah belajar lebih jauh lagi untuk bisa bermain bersama-sama dalam harmoni.

“Mungkin ini sama dengan agama,” pikir si orang tua. “Marilah kita semua mempelajari hakikat kelembutan agama kita melalui pelajaran-pelajaran kehidupan. Marilah kita semua menjadi maestro cinta kasih di dalam agama masing-masing. Lalu setelah mempelajari agama kita dengan baik, lebih jauh lagi, mari kita belajar untuk bermain, seperti halnya para anggota sebuah orkestra, bersama-sama dengan penganut agama lain dalam sebuah harmoni!”

Itulah suara yang paling indah.

Dikutip dari: “Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya” By: Ajahn Brahm

4 thoughts on “Suara Paling Indah

  1. A nice association.
    seperti pelangi yang pastinya tidak akan seindah yang kita kenal bila hanya satu warna.

    tapi tetap, urusan pacaran beda agama itu mungkin tidak sekedar indah bila saling mengisi dengan perbedaan yang ada, tapi ada ‘sejuta’ hal lainnya :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s