旅途见闻 Story about the Trip


旅途见闻 Story about Trip

Liburan natal hari ini sangat berbeda dengan natal setahun yang lalu. Natal tahun ini, aku seolah benar-benar memaknai arti natal bagi para umat Kristiani, yaitu tentang pengorbanan demi keselamatan orang lain. Though I don’t celebrate Christmas but I met so many friends who celebrate Christmas in entire my life. On this Christmas day, I went to my mother’s hometown by train, a long trip train. Due to the high season, and due to the rush, we didn’t get the executive class seat, so here we were, in a hot smoky train. Sebuah gerbong restorasi atau yang lebih dikenal dengan nama gerbong makan. Sebuah gerbong dengan berbagai macam orang di dalamnya. Sebuah gerbong yang membuatku melihat semua pramugara yang ada di kereta ini adalah bapak-bapak dengan postur tubuh agak gemuk dan rambut yang mulai memutih. Bapak-bapak yang entah terpaksa atau justru menikmati pekerjaan ini, yang jelas tujuan mereka pasti hanya satu, yaitu mereka berkorban demi kelayakan hidup keluarga mereka. Dan betapa aku merasa begitu bersalah saat aku tidak dapat menutupi muka ketidaknyamanan-ku sepanjang berada dalam gerbong itu. Belum lagi saat aku harus berhadapan langsung dengan seorang bapak yang tidak berhentinya merokok dan dengan entengnya melepaskan asap rokoknya kemana saja tanpa memperdulikan orang disekitarnya. Really a train with so many story. And these are the story..

Angin sejuk bertiup cukup kencang saat aku tiba di salah satu stasiun terbesar di Jakarta. Dengan harapan dapat kereta kelas utama, kami langsung berjalan menuju loket karcis. Antrian panjang itu sudah terlihat, dan ternyata kami memang tidak dapat karcis yang kami harapkan itu, lebih parahnya lagi, tiket yang kami dapatkan adalah tiket berdiri. Sesuatu yang menurutku sangat aneh, mereka tetap menjual tiket padahal sudah tidak ada tempat duduk. Akhirnya berkat bantuan seorang bapak tua yang berprofesi sebagai porter (kuli panggul statsiun), kami pun diantarkan menuju gerbong restorasi atau sering disebut kereta makan.  Sebuah gerbong yang hanya terdiri dari 9 buah kursi dengan 3 buah meja, namun diisi dengan jumlah orang yang melebihi kapasitas tempat duduk, jadilah ada beberapa orang yang mengemper di lantai gerbong. Sampai saat ini pun aku tidak tahu, apakah mereka memang sudah terbiasa dengan kondisi ini karena mengirit ongkos atau karena mereka terpaksa berada di gerbong ini karena tidak ada pilihan lain. Yang jelas, ini merupakan pengalaman pertamaku, and for sure I never forget this moment entire my life.

Menit-menit pertama di dalam kereta, aku berusaha menyesuaikan diri dengan memandang sekeliling, sambil sesekali chatting di HP ataupun facebook-ing. Hawa panas yang seharusnya sangat menganggu, justru malah tidak terasa menganggu sama sekali, digantikan oleh udara pengap yang ditimbulkan asap rokok dari beberapa orang mas-mas yang merokok di sekitarku, termasuk bapak-bapak yang duduk tepat diseberangku, mereka merokok bergantian sepanjang perjalnan. What a hot smoky train?!? Di tengah keasyikanku dengan HP yang lebih terkenal disebut smart phone itu, sesekali aku menengok ke arah mamaku. Dia pun tampak asyik dengan HP-nya sendiri, membalasa SMS-SMS ucapan natal dari kenalan-kenalannya. Mungkin dia pun berusaha membunuh kebosanan dengan caranya ini. Sesekalipun aku berkirim2 pesan melalui msn dengan seorang sepupuku di gerbong sebelah. Dia pun sama tersiksanya, terlihat dari update statusnya di facebook yang sempat kulihat saat aku asyik ber-facebook di HP.

Bosan dengan HP, akhirnya aku mengobservasi sekelilingku, melihat dan mendengar apa yang tidak pernah kulihat dan kudengar sebelumnya. Pandangan pertamaku, jatuh pada seorang ibu-ibu agak tua yang duduk di atas keranjang minuman yang dibalik, dan dilapisi bantal penumpang. Meskipun sempat ditegor oleh petugas kereta, tapi akhirnya ibu itu tetap diijinkan juga untuk duduk disana. Saat pemeriksaan karcis tiba, ibu itu tampak berusaha menjelaskan ke petugas mengenai keberadaan karcisnya. Baru saat tiba di tempat tujuan, aku tahu dari mama kalau mungkin ibu2 itu hanya berpura2 karcisnya hilang karena kemungkinan lainnya adalah, ibu2 itu sama sekali tidak memiliki karcis. Pandanganku berikutnya berhenti pada 3 orang mas-mas yang duduk tak jauh dari ibu2 itu, mereka duduk di lantai kereta api. Dua diantaranya duduk di box berisi snack yang sewaktu-waktu akan dibuka oleh petugas kereta yang mau menambah isi snack yang dijualnya. Sampai setengah perjalanan, setelah mereka selesai makan, dan aku pun selesai makan, bapak-bapak itu mulai terlihat tidur dengan posisinya masing-masing. Salah satu diantara mereka bahkan tidur dengan lelapnya bersandar pada dinding kereta. Suatu hal yang sangat ironis, ada orang yang bias tidur dengan lelap, sedangkan aku bernapas saja sulit dikarenakan dengan asapa rokok yang tidak berhenti mengepul.

Menjelang akhir perjalanan, ada seorang bapak berkumis, petugas kereta yang berkeliling menagih uang makan. Jujur aku akui, tampanganya cukup sanggar dengan kumis di bawah hidungnya. Di saat ini aku baru menyadari bahwa tampangku mungkin saja menunjukkan ketidaknyamanan berada di gerbong ini. Bapak itu pun berusaha menghiburku dengan mengucapkan terima kasih dalam bahasa Mandarin saat aku memberi uang yang dia tagih itu. “Xie xie..” katanya. Setelah itu dia menyebutkan kata dalam bahasa mandarin lainnya yang bearti makan, lalu dia meminta persetujuan dariku mengenai artinya. Kemudian dia bertanya padaku apakah aku menguasai bahasa itu. “cuma bisa dikit-dikit, pak” jawabku sungkan, mengingat seisi gerbong ini cuma aku yang bermata sipit. Tanpa bermaksud rasis, tanpa bermaksud mengekslusifkan diri, saat itu juga aku teringat cerita seorang adik kelasku di organisasi mengenai pengalamannya membagikan kuesioner di tempat yang mayoritas warga asal dan yang mayoritas warga bermata sipit, sebutlah warga ini dengan etnis minoritas. Kami menjadi skeptis, kami menjadi was-was, dan kami tidak bisa bebas menjadi diri sendiri justru karena kami dianggap berbeda, padahal mungkin sebenarnya kami ingin dianggap sama dan ingin sekali bisa menjadi diri sendiri. Tidak ada reaksi kalau tidak ada aksi. Setelah pertanyaan itu, bapak itu bercerita mengenai anaknya yang sejak sekolah sudah menjadi lao shi di paguyuban warga Tionghoa dan hanya anaknya itulah satu-satunya yang berkulit hitam dan sekarang anak itu sedang menuntut ilmu di negeri Panda itu. Entah apa yang membuat anak itu begitu tertarik pada Sastra China? Sang bapak pun tidak tahu, dia hanya dapat memberikan restu sambil membanggakan anaknya yang mendapatkan beasiswa di sana.

Beginilah perjalanan pergiku ditutup, suatu hal yang tidak akan pernah aku lupakan, suatu hal yang membuka lagi pandanganku membuatku bersyukur pada setiap yang aku miliki dan aku rasakan saat ini. Saat kereta berhenti di stasiun tujuanku, aku pun kembali menghirup udara segar sambil berpikir kalau nanti saat kembali ke Jakarta aku tidak perlu berada di gerbong ini lagi. Meskipun ternyata di gerbong eksekutif pun ada begitu banyak kejadian unik lainnya. Wuah.. really a great time holiday.. ^^

wish u all had a great holiday too..😀

One thought on “旅途见闻 Story about the Trip

  1. berdasarkan pengalaman pribadi… secara sering sekali ditatap ‘berbeda’, adalah mudah untuk mendeteksi hal-hal seperti itu. saya menjadi sangat peka 🙂

    yah memang sulit yaaaa… tapi memang harus memulai dari diri sendiri 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s