Selfish, is that right?


Bulan ini, entah sudah berapa kali aku mengeluarkan kalimat ini, “Kok tu orang selfish bgt yah? Gak mikirin orang laen” Anehnya kalimat ini gak aku tujuin buat satu orang aja. Setidaknya ada beberapa orang sampai akhirnya aku menyadari kalau mungkin saja aku juga berlaku yang sama kepada mereka. Ditambah lagi ucapan dari kakakku, “ Emang kamu gak mikirin diri sendiri?”. Pertanyaan yang membuatku bingung harus menjawab apa, karena lebih sering aku merasa kalau aku yang selalu menyesuaikan diriku dengan orang lain.

Pagi ini, hal pertama yang kuingat saat membuka mataku adalah sebuah kalimat dari buku yang baru saja selesai kubaca beberapa hari yang lalu yang coba kukaitkan dengan permasalahan selfish ini. Kalau Kita berpikir orang itu selfish, anggap saja kita pernah berbuat hal yang sama kepada orang lain atau bahkan orang itu sendiri di masa yang lalu. Hal ini membuatku kita menyadari bahwa sesungguhnya kita tidak perlu memunculkan kemarahan pada orang tersebut karena hal ini tidak ada gunanya, toh kita sendiri juga kaya gitu. Hal seperti ini mungkin terkenal dengan istilah self-blaming yang sebenarnya tidak terlalu baik kalau sering kita gunakan, tapi yang terpenting adalah bukan self-blaming ini, yang jauh lebih penting adalah saat kita berhasil menyadari kemarahan yang akan muncul itu sebenarnya tidak ada gunanya.

Di detik setiap aku membantu orang, aku tidak pernah terpikir kalau suatu saat orang itu akan atau harus membantuku juga. Aku membantu mereka karena aku memang ingin membantu. Namun, ternyata ada suatu ketika dimana aku sangat membutuhkan bantuan dari orang itu, ternyata orang itu tidak mau membantuku dengan alasan yang sangat mementingkan diri sendiri. Secara otomatis aku langsung teringat saat dimana aku membantu orang tsb, mengerahkan seluruh kemampuanku untuk sebisa mungkin membantunya. Terpikir pula olehku,lalu apa jadinya aku kalau aku yang terus2an memberi bantuan tanpa bisa menerima bantuan disaat aku sangat membutuhkannya? Ada dua hal yang coba kugunakan utk menjawab pertanyaan ini. Pertama, membantu orang itu seperti menjadi jembatan bagi orang lain, kalau kita tidak membantunya dengan sepenuh hati,maka bisa jadi kita malah bukan membantu mereka tapi mencelakakan mereka seperti pondasi jembatan yang tidak kokoh yang membuat jembatan itu ambruk saat dilewati. Kedua, di dunia ini itu selalu ada dua sisi, maka disaat kita memberi, ingatlah kalau suatu saat pasti akan menerima entah dari siapa dan di saat apa, karena yang namanya karma itu baik ataupun buruk akan berbuah juga.

Mau itu selfish atau enggak yang penting selama itu baik buat kita, baik buat orang laen.. just do it.. ^^

6 thoughts on “Selfish, is that right?

  1. hmph, ikhlas itu sulit memang. bahkan mungkin hampir tidak mungkin. bahkan bila, dalam diri kita telah ditanamkan semangat membantu, sangat mungkin disemangati oleh iming-iming surga atau kehidupan yang lebih baik.

    tapi setuju dengan kesimpulan terakhir itu. kalaupun semangatnya atas dasar ‘surga’ atau harapan suatu saat dibantu baik langsung ataupun tidak [saya percaya dengan konsep pay it forward], berbuat baik tetaplah baik.

    namun, saya sangat menistakan para politisi atau orang-orang yang gembar-gembor butuh pemberitaan kalau sedang berbuat baik. hehehe…

  2. *hmph aneh, kenapa kok skarang ilang ya komentarku 😦 *

    kalau kata teman, dan betul juga, pada dasarnya kita mungkin hampir tidak pernah benar2 iklas. karena kemungkinan saja kita berbuat baik atas dasar pemahaman akan adanya ‘surga’ setelahnya. atau harapan ‘pay it forward’

    akhirnya, stuju dengan penutupanmu disini. yang penting kita berbuat baik. walau tetap tidak setuju dengan sikap segelintir orang yang ketika berbuat baik itu atas dasar kepentingan popularitas ataupun ‘kursi’. hehehe…

  3. Ancilla.. bukan ilang komenku..
    tapi blm ku approve..
    br bs ol dr PC lg nih.. kmrn bis nginep di rmh tmn.. he3..

    Yup.. yg penting itu berbuat baik dengan ikhlas.

  4. love it … thx for express it
    lovely

    katanya manusia itu makhluk egois, jadi maklum saja.
    salut untuk manusia yang bisa mengontrol egoisme dirinya. hal ini banyak didengungkan dengan penghargaan kepada orang-orang yang dianggap alturistik, bahkan masyarakat menjadikan mereka sebagai role model supaya manusia yg lain berupaya menjadi seperti role model tersebut.

    “yang jauh lebih penting adalah saat kita berhasil menyadari kemarahan yang akan muncul itu sebenarnya tidak ada gunanya” —> pada kenyataannya ini memang tdk ada gunanya, bahkan cenderung memunculkan masalah yg baru. namun ini berguna untuk meredakan frustrasi si individu yg marah tersebut.
    saat berhasil menyadari adanya kemarahan, saat itu pula kita bisa berkesempatan buat mengendalikan laju dan bentuk ekspresinya. jika belum berkesempatan tapi anda menyadari kemarahan tak berguna itu setelah mengekspresikannya, bersyukurlah jika anda berkesempatan untuk meminta maaf.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s