The Feeling of Giving

Sehubungan dengan Bulan Ramadhan yang hampir habis ini, ada beberapa hal yang aku sadari tentang memberi. Hampir setiap orang muslim percaya kalau bulan Ramadhan ini adalah bulan yang suci dimana segala perbuatan baik kita dilipatgandakan oleh Yang Di Atas. Untuk itulah mereka juga percaya kalau doa orang-orang yang puasa itu biasanya manjur. Kurang lebih setahun yang lalu, aku dan teman-teman magangku di UT merayakan pencapaian kami masing-masing dengan berbagi bersama teman-teman panti asuhan. Ide ini datang dari teman muslim kami mengingat ketika itu bertepatan dengan bulan Ramadhan. Sayang sekali tahun kemarin aku hanya bisa berpartisipasi dari segi dana karena waktunya berbarengan dengan acara keluargaku yang lain. 

Acara ini pun berlanjut di tahun ini dan aku berkesempatan untuk berpartisipasi datang ke panti. Aku sering mendengar ungkapan yang menyebutkan jika kita berdana tanpa melihat orang yang kita santuni rasanya akan berbeda dibandingkan kita berinteraksi langsung dengan mereka. Hal yang sama juga aku baca di salah satu novel yang menceritakan tentang seorang eksekutif muda yang sedang mencari makna hidupnya. Hal ini pulalah yang aku rasakan, melihat senyum anak-anak panti asuhan tersebut ketika menyambut kedatangan kami dan melihat semangat mereka ketika bermain bersama kami, membuat aku teringat bahwa aku pun harus bisa tetap tersenyum seperti mereka atas setiap berkat yang aku terima. Ada rasa yang berbeda yang aku alami ketika melihat senyum mereka atas pemberian kami. Dan ada pula rasa syukur lain yang aku rasakan, aku bersyukur bisa berbagi dan mellihat senyum mereka. 

Perasaan yang sama yang aku rasakan ketika minggu kemarin aku dan teman-teman memberi hadiah perpisahan untuk salah satu teman kami yang resigned dari kantor. Ia sangat senang dengan pemberian kami karena barang yang kami berikan itu sangat cocok untuknya, intinya ia terharu dengan pemberian kami. “Very cute, very useful” katanya. 

Well, ada dua persamaan dari pemberian di atas, kami memberi tanpa mengharapkan apa-apa. Kami memberi dengan niat berbagi, berbagi rezeki yang sudah kami terima, berbagi kebahagiaan dengan mereka, dan berbagi sebagai wujud terima kasih. Mungkin masih ada berbagai perasaan lain yang dirasakan oleh teman-temanku ketika mereka memiliki kesempatan untuk memberi dan aku yakin perasaan itu membawa kebahagiaan untuk mereka. Karena ketika kita memberi, sebenarnya kita sedang mensyukuri apa yang kita miliki.

 

Terima kasih untuk hari yang panjang ini, terima kasih untuk hari yang membuat aku merasakan lagi kegiatan di panti asuhan. 

Semoga semua niat baik dan ketulusan kami menuntun kami pada keajaiban-keajaiban yang lain. Semoga juga mereka yang menerima pemberian kami hari ini dapat menjalani kehidupannya menjadi lebih bermanfaat tidak hanya untuk mereka sendiri tetapi untuk sekeliling mereka. ^^

Tentang Pemilu Indonesia 2014

Baru pertama kali aku menyaksikan pesta demokrasi yang penuh dengan euforia.  Sebuah pemilu yang memunculkan dilema bagi masyarakat Indonesia, ada 2 calon presiden yang sama-sama dicintai oleh pendukungnya. Namun sayangnya, meskipun kedua calon tersebut sama-sama membawa semangat perubahan tapi mereka memlk gaya yang berbeda. Calon nomor satu yang dianggap memiliki ketegasan dan keberanian dan calon nomor dua yang dianggap memiliki gaya memimpin dengan hati. Mengikuti proses pemilu semenjak pileg di bulan April yang lalu, semakin membuka mataku mengenai demokrasi. Bukan lagi sekedar ikut-ikutan rang memilih atau karena partai/tokoh tersebut memiliki banyak pendukung di wilayahku, tetapi memilih dengan hati nurani. Aku memilih karena aku yakin calon ini dapat membawa perubahan untuk bangsa ini. Sebenarnya keterbukaan pandangan ini aku dapatkan ketika pemilihan gubernur Jakarta setahun yang lalu. Era keterbukaan yang menjadkan proses kampanye sebagai sesuatu yang umum untuk disebarluaskan. Meskipun ketika Pilgub Jakarta aku masih terpengaruh untuk tidak memilih karena menurutku tidak ada calon  yang bener-bener pas, semuanya punya kelemahan yang membuatku ragu untuk memilih. Sama halnya ketika aku melihat bursa calon presiden tahun kemarin di salah satu surat kabar.  Bursa calon presiden yang menurutku tidak ada calon yang menarik hati, calon yang bisa dipercaya. 

Tapi semuanya mendadak berubah saat menjelang Pileg April yang lalu, partai-partai yang ada mulai memunculkan tokoh-tokoh yang menonjol di partainya. Meskipun capres yang digusung masing-masing partai tidak berubah jauh dari apa yang aku lihat di koran 1,5 tahun yang lalu, namun ada tokoh yang menjadi buah bibir masyarakat. Tokoh yang saat itu masih menjadi Gubernur di DKI dan serta merta ditunjuk rakyat untuk menjadi Capres. Dan inilah perubahan-perubahan yang terjadi pada Pilpres 2014:

1. Banyak orang yang menolak golput dan melakukan berbagai macam cara demi dapat menggunakan hak suaranya. Seorang nenek yang mengurus C5 untuk anak dan cucunya agar bisa mencoblos di Jakarta. Seorang pemuda yang biasanya selalu golput karena alamat KTP berbeda dengan alamat sekarang akhirnya harus bersusah payah mencari tempat fotokopi demi bisa mencoblos di TPS sesuai KTP-nya. 

2. WNI di luar negeri yang biasanya kurang excited untuk memilih, pada pemilu ini berbondong-bondong memilih. Bahkan di Hong Kong sampai kurang surat suara. Selain itu, di beberapa negara lain pun antrian pemilih mendadak panjang seperti di Sydney. 

3. Quick count menjadi hal yang paling disoroti dari proses pemilu ini. Masyarakat mulai “melek” mengenai quick count. Mulai banyak masyarakat yang kritis menyoroti masalah perbedaan hasil quick count yang muncul di hari Pemilu. 

4. Masyarakat pun jadi tahu bedanya antara Black campaign dengan negative campaign meskipun pada akhirnya tidak semua masyarakat dapat kritis memilah-milah. Tetap ada unsur fanatisme berlebih yang muncul dalam menyaring informasi yang mereka terima.

5. Pada akhirnya masyarakat dapat menilai sendiri mana calon yang patut didukung berdasarkan hal-hal yang muncul selama proses panjang pemilu ini. 

Well, siapapun yang menang, yang menang tetap Rakyat Indonesia karena kami sudah melewati sebuah proses demokrasi yang tidak biasa. Proses demokrasi yang mendewasakan kami, membuat kami melihat banyak pelajaran baru untuk membangun demokrasi yang lebih matang di negeri ini.

Dilema HRD

Dulu ketika aku ujian Profesi Psikolog, penguji aku berpesan bahwa:

“Menjadi Psikolog itu adalah untuk melayani power (perusahaan) dan juga melayani people (karyawan)”

Ketika itu dia menceritakan bahwa di dunia Psikologi Industri organisasi kita akan menemukan banyak sekali praktik-praktik yang melanggar kode etik maupun kewajiban kita sebagai psikolog. Namun demikian, kita perlu lebih mantap lagi dalam menegakkan kode etik agar tetap dapat memegang sumpah kita ketika dilantik. Pada akhirnya aku berada di posisi dimana semua itu terjadi, posisi yang mengharuskan aku berpijak pada dua sisi. Sisi berhadapan dengan manajemen, dan sisi berhadapan dengan karyawan. Ketika semua dikembalikan kepada peraturan, ternyata tidak segampang itu, banyak jeritan suara hati baik dari diri sendiri maupun orang lain. Suara hati yang mengajak untuk melihat dari sisi kemanusiaan. Sesuatu yang kadang membuat aku berpikir untuk tidak terlalu mempedulikan suara itu. Tapi aku tidak bisa, karena aku berusaha untuk menempatkan posisiku dalam posisi orang lain.

Tidak terasa aku sudah menjalani hal ini lebih dari 3 bulan. 3 bulan lebih yang benar-benar mengajarkan aku banyak hal. Aku berusaha untuk tetap memegang teguh peraturan, mencoba menjalani banyak hal yang selama ini aku kira di luar kemampuan aku. Aku mencoba memahami setiap motif dari setiap tindakan karyawan-karyawan itu. Aku mencoba mencari jalan keluar dari segala macam mis-komunikasi antara manajemen dengan karyawan. Aku berusaha menjadi penengah di antara mereka meskipun kadang aku terseret untuk menjadi salah satu dari mereka. Aku bahkan harus menjalani beberapa hal yang sebenarnya tidak sesuai dengan hati nurani aku. Well, kedisiplinan yang sulit ditegakkan yang membuat aku dapat menghalalkan segala cara untuk menumbuhkan kesadaran mereka mengenai disiplin. Disini ada dua kepentingan yang selalu berbenturan, ada dua pihak yang mau tidak mau harus saling mengerti. Entah perusahaan yang harus selalu mengerti karyawan atas ketidak disiplinan mereka atau karyawan yang harus mengerti dampak buruk ketidak disiplinan mereka terhadap perusahaan. Aku pun harus memahami adanya ketimpangan diantara beberapa lokasi perusahaan yang berbeda. Selain itu, aku juga berlatih untuk lebih peka terhadap segala macam kondisi yang mereka alami tanpa menjadikan kondisi itu sebagai excuse atau alasan bagi mereka. 

Kondisi ini mengingatkanku pada ucapan salah satu manager di kantor yang menyatakan betapa tidak enaknya kursi yang ia duduki saat ini. Ada tanggung jawab yang ia emban terhadap manajemen, serta tanggung jawab terhadap para karyawan. Situasi yang juga aku rasakan saat ini, situasi yang membuat aku begitu takut disebut sebagai muka dua. Padahal tujuan aku cuma satu, menjadi jembatan bagi mereka. Tentunya untuk menjadi jembatan aku harus cukup kokoh menopang diriku sendiri maupun menopang orang-orang yang akan aku sebrangkan agar jembatan itu tidak menimbulkan masalah di kemudian hari. 

Aku hanya berdoa agar aku bisa menjalani pekerjaan ini dengan berpegang teguh pada kebijaksanaan tanpa melupakan sisi manusiawi. Aku berharap agar aku tetap berjalan di jalan yang benar, namun aku juga tidak melupakan kodratku sebagai manusia sosial yang juga butuh menjaga persahabatan dengan sesama manusia. 

 

It’s about being a Leader

Aku memulai hari ini dengan penerbangan pagi untuk business trip ke Bali bersama seseorang dengan level yang lebih tinggi daripada aku. Memang bukan hanya level di kantor yang lebih tinggi, tapi dari usia pun dia jauh lebih senior daripada aku. Kejadian pagi sampai siang ini bersama orang ini (sebut saja bapak X) benar-benar menurunkan respek ku padanya. Aku tidak melihat dia sebagai seorang leader yang menjadi contoh yang baik untuk anak-anaknya. Jangankan anak buah di kantor, melihat kelakuannya seharian ini bisa jadi pada anaknya sendiri pun dia tidak memberi contoh yang baik. Meskipun pada kenyataannya dia juga punya dua sisi sebagai manusia. Tetap ada hal baik yang ia miliki, tetap ada yang bisa diteladani dari bagian dirinya yang lain.

Sepanjang siang sampai sore, aku bertemu dengan kisah yang lain, yang juga menarik. Seorang senior dari segi umur yang jadi bahan pembicaraan teman-teman se-timnya karena satu dan lain hal. Leadership memang tidak ditentukan dari segi usia, tapi dari bagaimana dia berhadapan dengan orang-orang di sekitarnya dan memperlakukan orang-orang di sekitarnya. Selain itu, ia juga harus mampu dan tahu bagaimana cara menangani masalah yang ada di hadapannya.

Well, jadi leader memang tidak gampang, perlu latihan dan perlu pengalaman yang mumpuni selain tentunya didukung dengan bakat alami orang yang bersangkutan. Bakat bawaan itulah yang diasah dengan pengalaman dan latihan di lapangan. Ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk melatihnya, namun kita tidak pernah bisa berlatih dengan baik jika tidak ada mentor yang baik pula.

Thanks Bali for another lesson learned.

 

Cerita Mei 1998 #menolaklupa

Pemilu 2014 otomatis menguak kembali banyak luka lama para korban maupun bukan korban kerusuhan Mei 1998. Korban disini bukan hanya mereka yang benar-benar terpapar dengan aksi dan kekejaman para perusuh saat itu, tapi mereka yang secara tidak langsung ikut merasakan dampak dari kerusuhan tersebut. Seperti yang aku alami ketika itu.

“kring!”

Aku baru saja tiba di rumah dari tempat les Inggrisku, dan hari ini adalah hari terakhir aku EBTA (Ujian Akhir dari sekolah). Seisi rumah mendadak duduk diam mematung di depan televisi, aku pun ikut seru menyaksikan berita di TV yang sudah seperti perang. Hanya saja, lokasi dan latar belakang dari perang itu sangat familiar buatku, Citraland, Untar, Trisakti, dan sekitarnya. Radio pun tidak berhenti memutar update berita dari lokasi yang disiarkan di televisi. 

“Buruan angkat telepon!” 

“Kenapa sih musti buru-buru?”

“Kenapa sih musti buru-buru? Mama lu bisa pulang apa enggak aja belom tau, lu masih nanya kenapa buru-buru? “

Setelah jawaban itu pun aku mendadak menjadi diam dan ikut merasakan suasana mencekam yang sedari tadi sudah muncul di rumahku. Sampai akhirnya malam harinya mama pulang dibonceng oleh salah satu petugas keamanan yang dikenal baik oleh keluarga kami, perasaan mencekam itu sedikit hilang. Namun, perasaaan mencekam itu muncul lagi saat akhirnya keluarga kami memikirkan strategi untuk mengamankan seluruh keluarga yang ada di rumah beserta barang-barang berharga kami. Satu hal yang masih aku ingat adalah kami membuat beberapa skenario, dan salah satu diantaranya adalah menitipkan nenekku di tetangga kami yang pribumi. Meskipun akhirnya strategi ini tidak sampai terlaksana. 

Perasaan mencekam yang terus menetap sampai beberapa saat, terlebih lagi ketika esok harinya rumah kami mendadak menjadi pengungsian mereka yang rumahnya terbakar. Ruang tamu keluarga kami yang cukup besar menjadi di penuhi orang-orang yang bahkan tidak aku kenal sama sekali. Mereka pun ikut membantu menjaga keamanan kompleks kami ketika kompleks kami hampir saja dimasuki oleh massa penjarah. 

Keadaan di tanggal 14 Mei semakin parah, langit sudah dipenuhi asap mengingatkanku akan film silat bertema perang. Di satu sisi aku merasa seru dengan keadaan ini karena seperti berada di dalam film, tapi aku juga takut kalau terjadi apa-apa pada kompleks kami. Perasaan yang sampai saat ini pun tidak dapat kudeskripsikan dengan jelas, takut, cemas, bingung, marah, aneh, seru, dan lain sebagainya.

Begitulah ceritaku yang ketika itu masih kelas 6 SD, masih anak kecil yang tidak mengerti apa-apa. Peristiwa itu membuka luka lama kedua orang tuaku terhadap kenangan masa kecil mereka ketika mengalami peristiwa hampir serupa di masa PKI. Luka lama yang mungkin sama yang sekarang di alami oleh beberapa orang yang takut hal ini kembali terulang. Yang jelas Pemilu 2014 ini dengan segala permasalahannya membuat sebagian masyarakat Indonesia mencemaskan kalau-kalau kejadian Mei 1998 ini akan terulang.

Aku buta politik, aku tidak tahu menahu apa yang ada di belakang kerusuhan 1998, tapi yang jelas banyak orang menunjuk satu nama sebagai dalang kerusuhan tersebut. Berulang kali ada banyak pihak yang mencoba mengusut kerusuhan tersebut, mencoba menegakkan HAM, mencari pelaku maupun dalangnya. Namun, menurutku rasanya akan lebih bijaksana jika mereka berhenti mengusut ketika berbagai cara sudah dilakukan untuk dan tidak menemukan hasil apa-apa. Karena  sejarah itu berfungsi sebagai pelajaran, bukan sesuatu yang perlu diusut sampai menjadi benang kusut. Ada baiknya kita menuruti nasehat dari Bapak Pendiri Bangsa ini, “JASMERAH, jangan sekali-kali melupakan sejarah. ” Berhenti mengusut bukan berarti melupakan begitu saja peristiwa ini, karena sejarah bukan untuk dilupakan begitu saja namun untuk dijadikan pelajaran di masa yang akan datang.

#menolaklupa#prayforIndonesia#prayforMay98riot

 

 

Gajian

Satu kata yang membuat semua orang hampir pasti membuka mata lebar-lebar dan berteriak kegirangan. Namun, hari ini aku baru menyadari betapa gajian juga bisa menjadi beban untuk pihak tertentu.

Bulan April ini aku memiliki tanggung jawab atas hak puluhan karyawan beserta keluarganya. Menjadi salah satu pihak yang menerima komplain ketika gaji tidak turun tepat waktu, menerima celotehan sinis, dan lain sebagainya. It’s a company, there’re so many rules to be run. Wajar juga ketika gaji belum turun dan mereka protes karena mereka telat masuk kantor gaji mereka dipotong. Mungkin mereka merasa tidak ada reward dan punishment yang berjalan, hanya punishment yang kerap digaungkan orang-orang. Namun, mungkin mereka tidak tahu kalau perusahaan memberikan reward dengan caranya sendiri.

Mungkin aku yang terlalu sensitif mendengar celotehan mereka, mungkin aku yang terlalu sombong merasa bisa melakukan semuanya seorang diri. Aku mungkin lupa kalau semuanya tidak semudah membalikkan telapak tangan, it needs process to make an improvement.

28 – Twenty Eight

Gak berasa banget, tau-tau aku sudah harus menginjakkan kaki di usia ini. Usia yang di dalam bayanganku adalah usia aku sudah menjadi manusia dewasa yang matang. Begitu banyak harapan dan keinginan yang ingin aku wujudkan di usia ini. Nyatanya adalah dalam setahun perjalnanku menuju usia ini, ada begitu banyak perjuangan dan pencapaian yang aku alami. Sampai akhirnya aku menutup usia 27 dengan beberapa pencapaian yang aku dapatkan dengan tidak mudah. Terima kasih usia 27 untuk menjadi tahun yang tidak begitu mudah, tahun yang diisi dengan perjuangan, tahun yang diisi dengan penantian, dan akhirnya sebuah pembuktian bahwa  kerja kerasku dapat terbayarkan lunas dengan pencapaian yang begitu tidak aku duga.

Aku tahu dan sadar betul, usia ini akan menjadi rambu-rambu buat sebagian besar gadis-gadis yang tumbuh dalam budaya Timur. Beberapa temanku dan saudara-saudara seumuranku sudah ada yang mulai membangun keluarga kecilnya. Meskipun masih ada juga yang berjuang dengan karirnya. Buat sebagian orang usia ini menjadi penentuan apakah yang akan menjadi fokus utama mereka, entah itu karir atau rumah tangga. Buatku sendiri, aku tetap berharap dapat menjalani dua peran utama tersebut sebagai seorang wanita. Well, semoga perjalanan setahun kemarin  yang penuh perjuangan membuat aku tidak takut untuk tetap berharap dan berusaha.

Seperti yang pernah aku tulis di blog-blog sebelumnya, satu-persatu harapan aku, wish berulangku di setiap tahun mulai terealisasikan dalam 1-2 tahun terakhir ini. Semoga di usia yang baru ini pun aku tetap dapat merealisasikan wish-wish ku yang lain. Semoga aku pun tidak lupa untuk bersyukur atas segala pencapaianku.

Terima kasih untuk setahun kemarin

Terima kasih untuk usia yang baru, untuk kesempatan menjadi manusia yang lebih baik lagi, untuk kesempatan berbagi dengan sekitarku.

 

 

Pemilu 2014

Pemilu 2014 jadi berbeda buat aku, hari dimana sebuah hal yang gak pernah aku bayangkan bisa terjadi. Jadi petugas TPS (Tempat Pemungutan Suara), ikut terlibat jadi bagian dari salah satu moment terbesar bangsa ini. Bikin orang-orang amaze sekaligus kagum, bahkan aku sendiri pun masih amaze, ga percaya. Sebagai etnis minoritas rasanya aneh menjadi bagian dari sesuatu yang berhubungan dengan dunia pemerintahan. So, keputusan aku untuk jadi petugas TPS di pemilu kali ini bikin banyak orang bertanya-tanya.

Tugas sebagai penjaga TPS ini membuat aku belajar banyak hal baru mulai dari hal-hal standard seperti team work dan manajemen waktu sampai hal yang tidak biasa seperti hal-hal yang berhubungan dengan politik. Hal lain yang juga menjadi penting buatku adalah, moment ini menjadi kali pertama aku menginjakkan kaki di Kelurahan tanpa rasa takut ataupun rasa malas seperti biasanya. Ternyata ada kok petugas kelurahan yang ramah dan taat aturan. Team work dan manajemen waktu ternyata menjadi strong point tim kami sehingga akhirnya bisa selesai paling pertama di Kelurahan kami. Tim kami dipenuhi oleh orang-orang yang terbiasa dengan deadine di tempat kerja kami dan kami juga terbiasa berkoordinasi dengan tim.

Dari moment ini juga aku belajar bahwa betapa politik itu tidak bisa diprediksi. Bahwa ucapan miring ataupun sanjungan pada salah satu pihak yang bertarung dapat sangat mempengaruhi hasil suara. Bahwa perasaan dekat pada salah satu calon bisa mempengaruhi pilihan orang. Bahwa etnis dan kesukuan di Indonesia masih sangat kental. Bahwa orang Indonesia merupakan pembelajar yang baik karena mereka tidak mau lagi memilih calon yang hasil kerjanya selama ini tidak berkualitas. Bahwa rakyat butuh action nyata, hasil nyata dan bukan janji omong kosong belaka. Bahwa politik itu keras, dan kepercayaan itu menjadi senjata paling ampuh untuk bisa menang dalam pemilu karena sekali hal itu hilang, maka kita tidak lagi bisa mendapatkan suara.

Mungkin kali ini aku memang tidak tahu menahu tentang siapa yang harus dipilih dan akhirnya hanya ikut mayoritas di daerahku. Namun, setidaknya kali ini aku berkontribusi untuk Indonesia yang lebih baik dengan cara yang lain. Dengan menjadi TPS setidaknya aku menjadi contoh buat teman-temanku kalau kami yang dari minoritas juga bisa kok membangun negeri.

Kata orang hujan itu membawa berkah, pemilu kali ini diawali dengan panas terik dan ditutup dengan hujan badai. Semoga pemilu kali ini membawa berkah. :)

Sumpah Profesi

Tidak semua profesi ada sumpahnya, tidak semua profesi mengharuskan di sumpah entah karena apa. Namun, hari ini sebagai salah satu kewajiban dari segala proses perkuliah magister profesi, aku dan beberapa teman menjalani sumpah profesi. Sumpah profesi sebagai seorang Psikolog, sebuah profesi yang berjanji untuk menyejahterakan umat manusia.

Mungkin dengan tujuan itulah akhirnya selama kurang lebih 2 tahun ini, kami menjalani sebuah proses yang begitu penuh keringat dan air mata. Kegagalan dan kerja keras seolah menjadi sahabat baik kami yang selalu ada mendampingi kami selama 2 tahun ini. Hiburan dan semangat dari orang-orang di sekitar kami terasa begitu berharga buat kami saat itu. Bukan hanya aku yang merasakan ini, namun semua teman-teman merasakan hal yang sama. Another story, another ending and another beginning. Setelah hari ini, kami sudah ditunggu dengan berbagai tantangan yang ada di depan dengan bekal perjuangan kami selama 2 tahun ini. Bekal yang diberikan dengan harapan kami dapat lebih memberi rasa terhadap setiap tindakan kami.

Tetesan air mata hampir saja membanjiri mataku saat aku mendengar pidato dari 2 orang temanku. Terlebih lagi saat mendengar perjuangan yang mereka lalui bersamaku, perjuangan yang pada akhirnya membuat kami berhasil melewati semua rintangan dan tantangan yang ada.

Untaian rasa terima kasih sudah mengalir dari kami masing-masing tepat di hari ujian sidang kami. Terima kasih kepada keluarga yang menjadi semangat dan inspirasi kami. Kepada teman-teman, sahabat, dan saudara yang memberi makna pada perjalanan proses kami ini. Semoga gelar ini tidak hanya bisa membantu kami menjadi manusia yang lebih baik lagi, tapi juga bisa membantu orang banyak.

Selamat menjadi berkat untuk sekitar kita :)

Welcome April

Tahun ini aku mengawali bulan April dengan pikiran dan perasaan yang campur aduk. Bulan April artinya aku sudah sebulan di tempat baru mengenal dan mengalami banyak hal yang mengejutkan. Mendadak menerma sebuah tanggung jawab besar, mendadak menerima tantangan yang di luar ekspektasi aku sebelumnya. But I said this as a process to be learned in order to grow.

Ga berasa aja tau-tau uda April, tau-tau uda ditinggal ama partner kerja yang baru aku kenal sebulanan ini. Semoga Bulan April ini tetap menjadi bulan yang menyenangkan untukku, bulan untuk tetap berusaha menjadi lebih baik lagi. Dan rasanya benar kala orang-orang bilang level up, higher challenge. Dibalik sebuah kenakan tingkat, ada challenge yang lebih besar lagi untuk kita hadapi. Kita cuma perlu mengumpulkan keberanian untuk melawan semua ketakutan yang muncul sehingga kita bisa melakukan sesuatu yang berguna.

Rasanya berat juga menanggung gelar sebagai seorang Psikolog, gelar yang kadang masih disepelekan banyak kalangan. Apalagi ketika psikolog tersebut masuk ke perusahaan dan lebih berfungsi sebagai adminstrasi saja. Tantangan besar, perjangan kerasa, tapi harus aku lewati.

 

GD LCK gr m selg