21.08.2014

One of hystorical moments for me also for Indonesia.

Setelah kurang lebih dua bulan berkutat pada sebuah perkara yang tidak mudah. “Penjahat” yang menyamar jadi “Pahlawan” setidaknya orang2 ini mempercayai dirinya adalah pahlawan meskipun mungkin orang2 lain tidak memandang begitu.

Hari ini semua kepelikan itu berakhir, sebuah keadilan yang didasari kebijaksanaan pada akhirnya berhasil menang dalam sebuah pengadilan. Hal yang tidak mudah bagiku karena aku menjadi bagian dari proses ini dan menjadi salah satu juru kunci dari proses ini. Bukan hanya sekedar penonton setia ataupun tim pencgembira. Itulah yang terjadi di kantor, hal yang membuatku lupa sesaat dengan situasi politik di luar sana yang sedang memanas.

Terima kasih Tuhan untuk sebuah pelajaran berharga di hari ini. Sebuah pelajaran 

tentang kejujuran, dan sikap berani mengakui kesalahan/kekalahan.

 

 

Mental Health in daily live

Hollywood lagi-lagi kehilangan aktor besar-nya. Robbin Williams, komedian yang dalam setiap filmnya selalu memberi inspirasi bagi para penontonnya. Jujur saja, detik pertama aku mendengar kabar ini, aku hanya mengingat satu filmnya yang berjudul Old Dogs sampai akhirnya aku melihat postingan teman-temanku di media sosial dan find out kalau ada beberapa film dia yang juga aku nonton.

Yah mungkin film ini begitu berkesan buatku, berkesan karena film itu aku tonton di masa keemasan genk midnite. Genk midnite yang masih sering midnite, genk midnite yang masih sering berkeliaran di daerah Gading. Ketika itu kami memutuskan menonton film ini setelah melihat tayangan trailernya di bioskop saat kami menonton film yang lain. Kami tertarik dengan adegan Robbin Williams mengendong Gorila seperti bayi dan memutuskan untuk menonton film ini. Akhirnya kami pun menonton ini di weekend pertama film ini tayang di bioskop. Aku masih ingat, ketika itu bioskop sangat ramai bahkan ada pasangan muda yang membawa bayi mereka. Keramaian ini pun tidak berhenti di dalam ruangan, film ini berhasil mengundang tawa penonton mulai dari awal film dan tidak berhenti sampai akhir film.

Meskipun aku lupa dengan cerita film itu sekarang, meskipun aku hanya ingat adegan Gorila itu dan tawa penonton yang tidak berhenti tetapi buatku saat itu film ini sangat menarik. Menarik karena tidak hanya bisa mengundang tawa tapi juga karena banyak pelajaran-pelajaran hidup yang bisa dipetik. Pelajaran hidup seperti yang juga ada di film lain yang kembali bermunculan di media sosial sesaat setelah berita ia meninggal.

Tapi satu hal yang paling penting dari kejadian ini adalah orang yang sepanjang hidupnya berusaha untuk menghibur orang lain dan bahkan menjadi seorang komedian justru malah mengakhiri hidupnya karena bunuh diri akibat depresi yang dialaminya. Ssebuah kejadian yang menyadarkan banyak orang bahwa kesehatan mental itu juga sama pentingnya dengan kesehatan fisik.

Di Indonesia, berita meninggalnya Robbin WIlliams ini dibarengi dengan berita Marshanda yang mengalami bipolar (gangguan kejiwaan yang berdampak pada mood). Well, 2 Hot Topic ini pun akhirnya membuat para pemerhati kesehatan mental untuk berkampanye bahwa setiap orang rentan terhadap masalah ini, dan setiap orang harus aware terhadap masalah ini dan tidak sungkan untuk meminta pertolongan pada orang lain jika ada yang dianggap tidak beres dari kejiwaan mereka maupun orang di sekitar mereka.

RIP Robbin Williams, You’ll be missed ^^

Kerja itu..

Kerja itu ibadah

Kerja itu bukan untuk cari duit, apalagi cari muka.

Karena dengan kita menganggap kerja sebagai ibadah maka kerja kita akan fokus dan semangat yang pada akhirnya duit itu akan datang dengan sendirinya. Begitu pula dengan muka, setiap orang sudah punya muka, untuk apa lagi cari muka. Muka kita pun akan terlihat dengan jelas ketika hasil kerja kita memuaskan atasan kita.

Akhir-akhir ini ada banyak kejadian yang membukakan mataku bahwa setiap orang memberi arti tersendiri terhadap kerja mereka. Sejak dulu pun aku sudah paham akan hal ini, namun 1-2 bulan terakhir ini semuanya semakin jelas.

Kerja itu bukan untuk cari kesenangan.

Kerja itu bukan untuk saling menjatuhkan.

Kerja itu untuk menghidupi apa yang seharusnya kita hidupi, keluarga, passion, dan lainnya.

Selamat bekerja, selamat mencari hidup.

Lebaran Holiday = Family Day

Libur lebaran kali ini, aku membagi waktuku tidak seperti biasanya.  Biasanya aku berusaha untuk adil antara keluarga dan teman-temanku karena biasanya hanya libur lebaran inilah kami bisa  berkumpul semua.

Beberapa rencana yang aku susun mendadak harus batal karena satu dan lain hal. Lucunya malah ada banyak aktivitas dadakan bersama saudara-saudaraku dari mama. Well, aku memang sangat jarang kumpul dengan saudara mama karena tidak semuanya ada di Jakarta. Jangankan dengan yang di luar Jakarta, sesama yang di Jakarta saja kami jarang ketemu. Makanya kesempatan bertemu di libur kali ini jadi barang langka buatku.  Aku pun rela menukar waktu berkumpul dengan teman-teman untuk bis menghabiskan waktu dengan saudara-saudaraku ini. Aku senang bisa mengenal lagi mereka yang sekarang. Mereka yang bukan lagi anak SD atau anak TK yang selama ini selalu ada dalam bayanganku meskipun aku tau umur mereka bertambah terus sama seperti aku. Mereka pun tentunya sudah masuk ke masa-masa yang pernah aku alami ketika aku seumur mereka.

Pertemuan di liburan kali ini sedikit “menamparku” bahwa yang namanya waktu itu terus bergulir, usia bertambah setahun demi setahun. Kita pun harus bisa mengisinya dengan hal-hal berharga. Hal-hal yang nantinya tidak membuat kita kecewa karena sudah/tidak melakukannya.

The Feeling of Giving

Sehubungan dengan Bulan Ramadhan yang hampir habis ini, ada beberapa hal yang aku sadari tentang memberi. Hampir setiap orang muslim percaya kalau bulan Ramadhan ini adalah bulan yang suci dimana segala perbuatan baik kita dilipatgandakan oleh Yang Di Atas. Untuk itulah mereka juga percaya kalau doa orang-orang yang puasa itu biasanya manjur. Kurang lebih setahun yang lalu, aku dan teman-teman magangku di UT merayakan pencapaian kami masing-masing dengan berbagi bersama teman-teman panti asuhan. Ide ini datang dari teman muslim kami mengingat ketika itu bertepatan dengan bulan Ramadhan. Sayang sekali tahun kemarin aku hanya bisa berpartisipasi dari segi dana karena waktunya berbarengan dengan acara keluargaku yang lain. 

Acara ini pun berlanjut di tahun ini dan aku berkesempatan untuk berpartisipasi datang ke panti. Aku sering mendengar ungkapan yang menyebutkan jika kita berdana tanpa melihat orang yang kita santuni rasanya akan berbeda dibandingkan kita berinteraksi langsung dengan mereka. Hal yang sama juga aku baca di salah satu novel yang menceritakan tentang seorang eksekutif muda yang sedang mencari makna hidupnya. Hal ini pulalah yang aku rasakan, melihat senyum anak-anak panti asuhan tersebut ketika menyambut kedatangan kami dan melihat semangat mereka ketika bermain bersama kami, membuat aku teringat bahwa aku pun harus bisa tetap tersenyum seperti mereka atas setiap berkat yang aku terima. Ada rasa yang berbeda yang aku alami ketika melihat senyum mereka atas pemberian kami. Dan ada pula rasa syukur lain yang aku rasakan, aku bersyukur bisa berbagi dan mellihat senyum mereka. 

Perasaan yang sama yang aku rasakan ketika minggu kemarin aku dan teman-teman memberi hadiah perpisahan untuk salah satu teman kami yang resigned dari kantor. Ia sangat senang dengan pemberian kami karena barang yang kami berikan itu sangat cocok untuknya, intinya ia terharu dengan pemberian kami. “Very cute, very useful” katanya. 

Well, ada dua persamaan dari pemberian di atas, kami memberi tanpa mengharapkan apa-apa. Kami memberi dengan niat berbagi, berbagi rezeki yang sudah kami terima, berbagi kebahagiaan dengan mereka, dan berbagi sebagai wujud terima kasih. Mungkin masih ada berbagai perasaan lain yang dirasakan oleh teman-temanku ketika mereka memiliki kesempatan untuk memberi dan aku yakin perasaan itu membawa kebahagiaan untuk mereka. Karena ketika kita memberi, sebenarnya kita sedang mensyukuri apa yang kita miliki.

 

Terima kasih untuk hari yang panjang ini, terima kasih untuk hari yang membuat aku merasakan lagi kegiatan di panti asuhan. 

Semoga semua niat baik dan ketulusan kami menuntun kami pada keajaiban-keajaiban yang lain. Semoga juga mereka yang menerima pemberian kami hari ini dapat menjalani kehidupannya menjadi lebih bermanfaat tidak hanya untuk mereka sendiri tetapi untuk sekeliling mereka. ^^

Tentang Pemilu Indonesia 2014

Baru pertama kali aku menyaksikan pesta demokrasi yang penuh dengan euforia.  Sebuah pemilu yang memunculkan dilema bagi masyarakat Indonesia, ada 2 calon presiden yang sama-sama dicintai oleh pendukungnya. Namun sayangnya, meskipun kedua calon tersebut sama-sama membawa semangat perubahan tapi mereka memlk gaya yang berbeda. Calon nomor satu yang dianggap memiliki ketegasan dan keberanian dan calon nomor dua yang dianggap memiliki gaya memimpin dengan hati. Mengikuti proses pemilu semenjak pileg di bulan April yang lalu, semakin membuka mataku mengenai demokrasi. Bukan lagi sekedar ikut-ikutan rang memilih atau karena partai/tokoh tersebut memiliki banyak pendukung di wilayahku, tetapi memilih dengan hati nurani. Aku memilih karena aku yakin calon ini dapat membawa perubahan untuk bangsa ini. Sebenarnya keterbukaan pandangan ini aku dapatkan ketika pemilihan gubernur Jakarta setahun yang lalu. Era keterbukaan yang menjadkan proses kampanye sebagai sesuatu yang umum untuk disebarluaskan. Meskipun ketika Pilgub Jakarta aku masih terpengaruh untuk tidak memilih karena menurutku tidak ada calon  yang bener-bener pas, semuanya punya kelemahan yang membuatku ragu untuk memilih. Sama halnya ketika aku melihat bursa calon presiden tahun kemarin di salah satu surat kabar.  Bursa calon presiden yang menurutku tidak ada calon yang menarik hati, calon yang bisa dipercaya. 

Tapi semuanya mendadak berubah saat menjelang Pileg April yang lalu, partai-partai yang ada mulai memunculkan tokoh-tokoh yang menonjol di partainya. Meskipun capres yang digusung masing-masing partai tidak berubah jauh dari apa yang aku lihat di koran 1,5 tahun yang lalu, namun ada tokoh yang menjadi buah bibir masyarakat. Tokoh yang saat itu masih menjadi Gubernur di DKI dan serta merta ditunjuk rakyat untuk menjadi Capres. Dan inilah perubahan-perubahan yang terjadi pada Pilpres 2014:

1. Banyak orang yang menolak golput dan melakukan berbagai macam cara demi dapat menggunakan hak suaranya. Seorang nenek yang mengurus C5 untuk anak dan cucunya agar bisa mencoblos di Jakarta. Seorang pemuda yang biasanya selalu golput karena alamat KTP berbeda dengan alamat sekarang akhirnya harus bersusah payah mencari tempat fotokopi demi bisa mencoblos di TPS sesuai KTP-nya. 

2. WNI di luar negeri yang biasanya kurang excited untuk memilih, pada pemilu ini berbondong-bondong memilih. Bahkan di Hong Kong sampai kurang surat suara. Selain itu, di beberapa negara lain pun antrian pemilih mendadak panjang seperti di Sydney. 

3. Quick count menjadi hal yang paling disoroti dari proses pemilu ini. Masyarakat mulai “melek” mengenai quick count. Mulai banyak masyarakat yang kritis menyoroti masalah perbedaan hasil quick count yang muncul di hari Pemilu. 

4. Masyarakat pun jadi tahu bedanya antara Black campaign dengan negative campaign meskipun pada akhirnya tidak semua masyarakat dapat kritis memilah-milah. Tetap ada unsur fanatisme berlebih yang muncul dalam menyaring informasi yang mereka terima.

5. Pada akhirnya masyarakat dapat menilai sendiri mana calon yang patut didukung berdasarkan hal-hal yang muncul selama proses panjang pemilu ini. 

Well, siapapun yang menang, yang menang tetap Rakyat Indonesia karena kami sudah melewati sebuah proses demokrasi yang tidak biasa. Proses demokrasi yang mendewasakan kami, membuat kami melihat banyak pelajaran baru untuk membangun demokrasi yang lebih matang di negeri ini.

Dilema HRD

Dulu ketika aku ujian Profesi Psikolog, penguji aku berpesan bahwa:

“Menjadi Psikolog itu adalah untuk melayani power (perusahaan) dan juga melayani people (karyawan)”

Ketika itu dia menceritakan bahwa di dunia Psikologi Industri organisasi kita akan menemukan banyak sekali praktik-praktik yang melanggar kode etik maupun kewajiban kita sebagai psikolog. Namun demikian, kita perlu lebih mantap lagi dalam menegakkan kode etik agar tetap dapat memegang sumpah kita ketika dilantik. Pada akhirnya aku berada di posisi dimana semua itu terjadi, posisi yang mengharuskan aku berpijak pada dua sisi. Sisi berhadapan dengan manajemen, dan sisi berhadapan dengan karyawan. Ketika semua dikembalikan kepada peraturan, ternyata tidak segampang itu, banyak jeritan suara hati baik dari diri sendiri maupun orang lain. Suara hati yang mengajak untuk melihat dari sisi kemanusiaan. Sesuatu yang kadang membuat aku berpikir untuk tidak terlalu mempedulikan suara itu. Tapi aku tidak bisa, karena aku berusaha untuk menempatkan posisiku dalam posisi orang lain.

Tidak terasa aku sudah menjalani hal ini lebih dari 3 bulan. 3 bulan lebih yang benar-benar mengajarkan aku banyak hal. Aku berusaha untuk tetap memegang teguh peraturan, mencoba menjalani banyak hal yang selama ini aku kira di luar kemampuan aku. Aku mencoba memahami setiap motif dari setiap tindakan karyawan-karyawan itu. Aku mencoba mencari jalan keluar dari segala macam mis-komunikasi antara manajemen dengan karyawan. Aku berusaha menjadi penengah di antara mereka meskipun kadang aku terseret untuk menjadi salah satu dari mereka. Aku bahkan harus menjalani beberapa hal yang sebenarnya tidak sesuai dengan hati nurani aku. Well, kedisiplinan yang sulit ditegakkan yang membuat aku dapat menghalalkan segala cara untuk menumbuhkan kesadaran mereka mengenai disiplin. Disini ada dua kepentingan yang selalu berbenturan, ada dua pihak yang mau tidak mau harus saling mengerti. Entah perusahaan yang harus selalu mengerti karyawan atas ketidak disiplinan mereka atau karyawan yang harus mengerti dampak buruk ketidak disiplinan mereka terhadap perusahaan. Aku pun harus memahami adanya ketimpangan diantara beberapa lokasi perusahaan yang berbeda. Selain itu, aku juga berlatih untuk lebih peka terhadap segala macam kondisi yang mereka alami tanpa menjadikan kondisi itu sebagai excuse atau alasan bagi mereka. 

Kondisi ini mengingatkanku pada ucapan salah satu manager di kantor yang menyatakan betapa tidak enaknya kursi yang ia duduki saat ini. Ada tanggung jawab yang ia emban terhadap manajemen, serta tanggung jawab terhadap para karyawan. Situasi yang juga aku rasakan saat ini, situasi yang membuat aku begitu takut disebut sebagai muka dua. Padahal tujuan aku cuma satu, menjadi jembatan bagi mereka. Tentunya untuk menjadi jembatan aku harus cukup kokoh menopang diriku sendiri maupun menopang orang-orang yang akan aku sebrangkan agar jembatan itu tidak menimbulkan masalah di kemudian hari. 

Aku hanya berdoa agar aku bisa menjalani pekerjaan ini dengan berpegang teguh pada kebijaksanaan tanpa melupakan sisi manusiawi. Aku berharap agar aku tetap berjalan di jalan yang benar, namun aku juga tidak melupakan kodratku sebagai manusia sosial yang juga butuh menjaga persahabatan dengan sesama manusia. 

 

It’s about being a Leader

Aku memulai hari ini dengan penerbangan pagi untuk business trip ke Bali bersama seseorang dengan level yang lebih tinggi daripada aku. Memang bukan hanya level di kantor yang lebih tinggi, tapi dari usia pun dia jauh lebih senior daripada aku. Kejadian pagi sampai siang ini bersama orang ini (sebut saja bapak X) benar-benar menurunkan respek ku padanya. Aku tidak melihat dia sebagai seorang leader yang menjadi contoh yang baik untuk anak-anaknya. Jangankan anak buah di kantor, melihat kelakuannya seharian ini bisa jadi pada anaknya sendiri pun dia tidak memberi contoh yang baik. Meskipun pada kenyataannya dia juga punya dua sisi sebagai manusia. Tetap ada hal baik yang ia miliki, tetap ada yang bisa diteladani dari bagian dirinya yang lain.

Sepanjang siang sampai sore, aku bertemu dengan kisah yang lain, yang juga menarik. Seorang senior dari segi umur yang jadi bahan pembicaraan teman-teman se-timnya karena satu dan lain hal. Leadership memang tidak ditentukan dari segi usia, tapi dari bagaimana dia berhadapan dengan orang-orang di sekitarnya dan memperlakukan orang-orang di sekitarnya. Selain itu, ia juga harus mampu dan tahu bagaimana cara menangani masalah yang ada di hadapannya.

Well, jadi leader memang tidak gampang, perlu latihan dan perlu pengalaman yang mumpuni selain tentunya didukung dengan bakat alami orang yang bersangkutan. Bakat bawaan itulah yang diasah dengan pengalaman dan latihan di lapangan. Ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk melatihnya, namun kita tidak pernah bisa berlatih dengan baik jika tidak ada mentor yang baik pula.

Thanks Bali for another lesson learned.

 

Cerita Mei 1998 #menolaklupa

Pemilu 2014 otomatis menguak kembali banyak luka lama para korban maupun bukan korban kerusuhan Mei 1998. Korban disini bukan hanya mereka yang benar-benar terpapar dengan aksi dan kekejaman para perusuh saat itu, tapi mereka yang secara tidak langsung ikut merasakan dampak dari kerusuhan tersebut. Seperti yang aku alami ketika itu.

“kring!”

Aku baru saja tiba di rumah dari tempat les Inggrisku, dan hari ini adalah hari terakhir aku EBTA (Ujian Akhir dari sekolah). Seisi rumah mendadak duduk diam mematung di depan televisi, aku pun ikut seru menyaksikan berita di TV yang sudah seperti perang. Hanya saja, lokasi dan latar belakang dari perang itu sangat familiar buatku, Citraland, Untar, Trisakti, dan sekitarnya. Radio pun tidak berhenti memutar update berita dari lokasi yang disiarkan di televisi. 

“Buruan angkat telepon!” 

“Kenapa sih musti buru-buru?”

“Kenapa sih musti buru-buru? Mama lu bisa pulang apa enggak aja belom tau, lu masih nanya kenapa buru-buru? “

Setelah jawaban itu pun aku mendadak menjadi diam dan ikut merasakan suasana mencekam yang sedari tadi sudah muncul di rumahku. Sampai akhirnya malam harinya mama pulang dibonceng oleh salah satu petugas keamanan yang dikenal baik oleh keluarga kami, perasaan mencekam itu sedikit hilang. Namun, perasaaan mencekam itu muncul lagi saat akhirnya keluarga kami memikirkan strategi untuk mengamankan seluruh keluarga yang ada di rumah beserta barang-barang berharga kami. Satu hal yang masih aku ingat adalah kami membuat beberapa skenario, dan salah satu diantaranya adalah menitipkan nenekku di tetangga kami yang pribumi. Meskipun akhirnya strategi ini tidak sampai terlaksana. 

Perasaan mencekam yang terus menetap sampai beberapa saat, terlebih lagi ketika esok harinya rumah kami mendadak menjadi pengungsian mereka yang rumahnya terbakar. Ruang tamu keluarga kami yang cukup besar menjadi di penuhi orang-orang yang bahkan tidak aku kenal sama sekali. Mereka pun ikut membantu menjaga keamanan kompleks kami ketika kompleks kami hampir saja dimasuki oleh massa penjarah. 

Keadaan di tanggal 14 Mei semakin parah, langit sudah dipenuhi asap mengingatkanku akan film silat bertema perang. Di satu sisi aku merasa seru dengan keadaan ini karena seperti berada di dalam film, tapi aku juga takut kalau terjadi apa-apa pada kompleks kami. Perasaan yang sampai saat ini pun tidak dapat kudeskripsikan dengan jelas, takut, cemas, bingung, marah, aneh, seru, dan lain sebagainya.

Begitulah ceritaku yang ketika itu masih kelas 6 SD, masih anak kecil yang tidak mengerti apa-apa. Peristiwa itu membuka luka lama kedua orang tuaku terhadap kenangan masa kecil mereka ketika mengalami peristiwa hampir serupa di masa PKI. Luka lama yang mungkin sama yang sekarang di alami oleh beberapa orang yang takut hal ini kembali terulang. Yang jelas Pemilu 2014 ini dengan segala permasalahannya membuat sebagian masyarakat Indonesia mencemaskan kalau-kalau kejadian Mei 1998 ini akan terulang.

Aku buta politik, aku tidak tahu menahu apa yang ada di belakang kerusuhan 1998, tapi yang jelas banyak orang menunjuk satu nama sebagai dalang kerusuhan tersebut. Berulang kali ada banyak pihak yang mencoba mengusut kerusuhan tersebut, mencoba menegakkan HAM, mencari pelaku maupun dalangnya. Namun, menurutku rasanya akan lebih bijaksana jika mereka berhenti mengusut ketika berbagai cara sudah dilakukan untuk dan tidak menemukan hasil apa-apa. Karena  sejarah itu berfungsi sebagai pelajaran, bukan sesuatu yang perlu diusut sampai menjadi benang kusut. Ada baiknya kita menuruti nasehat dari Bapak Pendiri Bangsa ini, “JASMERAH, jangan sekali-kali melupakan sejarah. ” Berhenti mengusut bukan berarti melupakan begitu saja peristiwa ini, karena sejarah bukan untuk dilupakan begitu saja namun untuk dijadikan pelajaran di masa yang akan datang.

#menolaklupa#prayforIndonesia#prayforMay98riot

 

 

Gajian

Satu kata yang membuat semua orang hampir pasti membuka mata lebar-lebar dan berteriak kegirangan. Namun, hari ini aku baru menyadari betapa gajian juga bisa menjadi beban untuk pihak tertentu.

Bulan April ini aku memiliki tanggung jawab atas hak puluhan karyawan beserta keluarganya. Menjadi salah satu pihak yang menerima komplain ketika gaji tidak turun tepat waktu, menerima celotehan sinis, dan lain sebagainya. It’s a company, there’re so many rules to be run. Wajar juga ketika gaji belum turun dan mereka protes karena mereka telat masuk kantor gaji mereka dipotong. Mungkin mereka merasa tidak ada reward dan punishment yang berjalan, hanya punishment yang kerap digaungkan orang-orang. Namun, mungkin mereka tidak tahu kalau perusahaan memberikan reward dengan caranya sendiri.

Mungkin aku yang terlalu sensitif mendengar celotehan mereka, mungkin aku yang terlalu sombong merasa bisa melakukan semuanya seorang diri. Aku mungkin lupa kalau semuanya tidak semudah membalikkan telapak tangan, it needs process to make an improvement.