Live Show Stand Up Comedy

10689566_1546550912223383_5445186523382241963_n

Buat sebagian orang, Stand up comedy mungkin masih menjadi barang asing yang jarang sekali terdengar. Stand up comedy Indonesia berawal dari komunitas-komunitas kecil di cafe yang akhirnya berkembang dan disiarkan oleh beberapa stasiun tv. Singkat kata akhirnya ada beberapa komika (sebutan untuk orang yang menjadi speaker dalam stand up comedy) yang menjadi tokoh penggerak stand up comedy di Indonesia. Meskipun jauh sebelum stand up comedy ini menjadi perbincangan, sebenarnya Indonesia sudah punya tokoh-tokoh yang dianggap sebagai cikal bakal stand up comedy din Indonesia. Siapa saja mereka? Silahkan cek disini.

Setelah beberapa kali melihat stand up comedy off air di youtube, aku akhirnya memutuskan untuk menonton acara ini secara live. Ide ini muncul ketika melihat promosi acara #Gerakan Senyum Massal di timeline facebook&path. Acara ini diadakan oleh Aethra Learning Center, sebuah lembaga pelatihan yang berbasis psikologi dalam rangka memperingati hari kesehatan mental dunia di awal Oktober . Setelah membaca iklan tersebut, aku pun mencoba mengajak beberapa teman, namun akhirnya hanya satu yang mengiyakan.

Salah satu alasan aku tertarik mengikuti acara ini dan tidak keberatan untuk membayar dengan harga yang cukup mahal buatku adalah karena komika yang tampil beserta MC adalah komika yang sangat punya nama di Indonesia. Dari 5 komika yang muncul, hanya ada 1 yang aku tidak pernah liat stand up nya. Hari itu show dibuka oleh Pandji Pragiwaksono sebagai MC dengan beberapa jokes yang menjadi pemanasan. DIlanjutkan dengan Gilang Bhaskara sebagai pembuka. Aku sama sekali belum pernah liat Gilang sebelumnya, tapi Gilang ini disebut-sebut sebagai salah satu Komika terbaik di Indonesia, bahkan ia diajak Pandji untuk ikut World Tour. Topik-topik yang diangkat oleh Gilang sebenarnya cukup lucu dan bisa membuat penonton mengakak, sayang dalam beberapa kesempatan cara delivery-nya terlihat biasa saja. Beberapa topik yang cukup mengena buatku adalah tentang survey kebahagiaan WHO yang menyebutkan bahwa orang Jerman paling bahagia. Dan ternyata salah satu sumber kebahagiaan mereka adalah naik sepeda. Lalu dengan polosnya munculah kata-kata kalau naik sepeda aja bahagia, bearti tukang somai sepeda dan tukang kopi cincau di Indonesia seharusnya juga bahagia karena mereka tiap hari naik sepeda. Bahasan tentang kopi cincau inilah yang membuat penonton ngakak.

Komika kedua hari itu adalah Ernst Prakasa, salah satu penggagas stand up comedy di Indonesia. Jujur, sebelum ini stand up off air yang paling banyak aku tonton adalah stand up nya dia dan menurutku dia sangat bisa membuat orang yang menontonnya tidak berhenti ketawa. Jadi aku punya ekspektasi tinggi ketika menonton dia secara live. Tapi sayangnya Ernst malam itu tidak terlalu menonjol buatku. Mungkin karena topik yang dia bawakan ada yang sudah pernah aku dengar. Namun, pembawaannya yang tenang dan seperti mengobrol membuat penampilannya malam itu masih tetap dapat diberi acungan jempol. Dia bisa ngebawain topik tentang kematian dengan begitu berbedanya sampai membuat orang tertawa dengan ceritanya tentang marketing pemakaman mewah. Hal lain yang juga menarik dari topiknya adalah topik tentang hukuman masa kecil, dan permainan game watch zaman dulu.

Kemudian dilanjutkan oleh Sammy sebagai komika ketiga. Sammy seperti biasanya mengangkat topik nyerempet politik dan Agama dengan gaya khasnya yang terkesan santai namun tajam. Selain itu berkaitan dengan tema kebahagiaan, dia pun mengangkat topik mengajak anak-anak ke taman bermain. Kata-kata pamungkasnya di tema anak-anak ini adalah “istri gua selalu bilang, dia punya 3 anak dan gua adalah si bungsu karena gua suka lupa kalau sedang bicara dengan anak umur 6 tahun. “

Setelah itu show pun ditutup oleh Ryan Adriandhy yang menutupnya dengan spektakuler. Perhatiannya pada hal-hal detail yang mungkin hampir tidak pernah kita perhatikan. Kemampuannya kembali lagi pada topik yang sudah ditinggalkan, setelah dia membahas topik lain namun tetap saja membuat orang terpingkal. Rasanya semua topik yang dia bawakan, sudah dia deliver dalam porsi yang pas, pas untuk membuat orang terpingkal tapi tidak sampai terjungkal. Di akhir acara Ryan memakai flipboard untuk menayangkan beberapa hal mulai dari gambar sampai tulisan. Di sini terlihat jelas Ryan sudah diburu-buru waktu tapi dia tetap berusaha untuk menyelesaikannya dengan baik. Ryan hari itu menjadi berkebalikan dari Ernst. Ryan yang tampak biasa saja di off air, tampil begitu memukau malam itu, bahkan beberapa penonton sampai melakukan standing applause.

Pelajaran yang aku dapat hari itu adalah bahwa setiap orang medefinisikan kebahagiaan dengan caranya sendiri. Setiap orang punya tolak ukur kebahagiaan masing-masing. Buatku sendiri kebahagiaan adalah bisa berkumpul dan menghabiskan waktu dengan orang-orang yang aku sayangi.

5 Tempat Indah yang DImiliki Indonesia

Berlibur adalah hal yang sangat menyenangkan terutama jika kita dapat menikmati liburan di tempat – tempat yang indah . Kebanyakan orang berpikir alangkah indahnya jika kita dapat menghabiskan liburan kita di luar negri , tanpa mereka sadari bahwa sesungguhnya di Indonesia juga memiliki banyak tempat-tempat yang tidak kalah indah dibandingkan tempat wisata di luar negri. Berikut ini 5 tempat indah yang dapat menjadi tempat rekomendasi untuk dihabiskan dalam berlibur :

  1. Gunung Bromo

Lokasi wisata ini memang sangat indah dan memukau . Gunung yang terletak di provinsi Jawa Timur ini sangat mengundang banyak wisatawan dalam negri maupun wisatawan mancanegara . Keindahan tempat wisata ini sudah sangat terkenal dan tidak perlu di ragukan lagi .

  1. Kepulauan Raja Ampat

Tempat wisata yang sedang sangat popular ini berada di provinsi Papua . Di tempat wisata ini anda bisa menikmati berbagai macam keindahan alam yang masih sangat alami , seperti pergunungan , laut , hutan dan pemandangan alam yang begitu indah . Biaya yang dikeluarkan untuk menikmati liburan di tempat ini tidaklah sedikit , namun anda pasti tidak akan menyesal karena biaya yang anda keluarkan sangat pantas dengan keindahan alam yang anda nikmati .

  1. Bali

Semua orang di Indonesia pasti mengetahui keindahan yang dimilik oleh salah satu kota terbaik di Negara kita ini yaitu Bali . Bali merupakan kota yang mempunyai begitu banyak keindahan alam di dalam nya . Temapt ini tidak pernah sepi di unjungi para wisatawan dalam negri dan wisatawan asing .

Bali memiliki keindahan alam yang begitu luar biasa indah nya . Selain itu Bali juga memiliki budaya yang begitu unik dan memukau siapa saja yang menyaksikan nya .

  1. Pulau Komodo

Pulau Komodo adalah tempat wisata indah yang berada di kawasan Nusa Tenggara Timur . Tempat wisata ini memiliki keindahan laut , gunung dan pemandangan alam yang sangat eksotis dan tidak dapat terbantahkan keindahan nya .

Selain itu , Pulau Komodo adalah daerah Marga Satwa bagi para komodo di Indonesia . Jangan heran jika anda berlibur di tempat ini , anda bisa melihat banyak komodo yang berkeliaran di alam bebas.

  1. Taman Laut Bunaken

Jika anda mencintai keindahan laut dan suka menyelam , Taman Laut Bunaken ini adalah tempat yang sangat direkomendasikan untuk dikunjungi .Ketika anda menyelam , anda akan menemukan bebagai macam ikan yang sangat indah dan terumbu karang yang beraneka ragam warna nya . Tempat ini menjadi Taman laut terindah di Indonesia, bahkan di dunia .

Itulah 5 tempat terindah yang bisa saya beritahukan keindahan nya bagi para pembaca , semoga setelah para pembaca membaca nya , anda dapat lebih memilih untuk menghabiskan waktu liburan anda di dalam negri ini untuk lebih mengenali alam yang di miliki oleh negara sendiri yang sangat indah .

Repost from: http://wisata.kompasiana.com/jalan-jalan/2014/10/15/5-tempat-indah-yang-di-miliki-indonesia–695880.html

It’s about Work

Rasanya baru kemarin aku disumpah untuk menjalani profesi sebagai Psikolog. Rasanya baru kemarin aku dapat wejangan dari dosen penguji ujian profesi. Dan rasanya baru kemarin aku melewati perjalanan yang berliku untuk bisa lulus.

Beberapa bulan terakhir, pandanganku seolah dibukakan dengan berbagai kenyataan di lapangan. Kerjaanku sekarang bukan lagi pure recruitment yang hanya menangani recruitment dan assessment. Kerjaanku sekarang bukan lagi hanya sebatas anak magang yang tidak tahu apa-apa di belakang layar. Kerjaanku sekarang bukan lagi hanya mengurusi orderan barang pesanan dari marketing. It’s further dan that. Jauh melebihi apa yang sudah aku jalani sebelumnya. Aku harus berhadapan dengan tangan-tangan besi penguasa sekaligus tangis air mata dari para karyawan yang merasa diperlakukan tidak adil. Well, aku bukan berlebihan kalau aku menggambarkan kerjaanku sekarang dengan seperti ini, karena memang ini yang aku hadapi. Like people always said, change it’s hurt, change it’s not easy. Ketika kita masuk ke dalam sebuah tempat baru, dan kita harus membangunkan mereka dari tidur panjang mereka rasanya pasti sama seperti kita membangunkan macan tidur. Bisa jadi macan itu marah dan langsung menerkam kita, atau macan itu terlalu “batu” yang hanya melek sedikit dan kembali melanjutkan tidur lagi.

Dunia kerja itu bukan hal yang menyenangkan, bukan juga hal yang menyedihkan. Dunia kerja itu tempat kita belajar banyak hal baru, dunia kerja itu bukan untuk sekedar mencari uang (meskipun mungkin hal ini masih menjadi prioritas utama).

bridges

Well, aku tidak tahu seberapa bertahan aku di dunia kerja seperti ini? Dunia kerja yang menempatkanku pada posisi dengan multi peran. Peran sebagai karyawan, peran sebagai manajemen, dan juga peran sebagai penegah keduanya. I’m a bridge but the bridge is must strong enough or else the bridge will be harmful.

Unexpected Trip

Unexpected trip kali ini tujuannya adalah untuk kondangan sodaranya mama di Cirebon. Seperti biasa, kalau kondangan di Cirebon, kami pasti nginep di Tanjung, Brebes rumahnya Ema. Cirebon-Tanjung itu jaraknya sekitar 30 km atau 1 jam perjalanan. Dari Jakarta biasanya kami akan naik mobil pribadi atau kalau tidak biasanya kami akan naik kereta. Untuk keretanya ada dua pilihan, kereta yang turun di Cirebon atau kereta yang langsung turun di Tanjung. Biasanya kalau turun di Cirebon, kami akan di jemput sama Engku (adiknya mama), tapi kali ini karena satu dan lain hal, kami tidak bisa dijemput. Dan disinilah dimulai perjalanan yang tidak terduga ini.

Hari itu kami naik kereta pagi-pagi sekali jam 6.20 dari Jakarta, sampai di Cirebon jam 9 lebih sedikit. Sesampainya di stasiun Cirebon, kami disambut udara pagi yang cukup terik, matahari bersinar cukup kencang meskipun saat itu masih jam 9. Kami memutuskan naik becak dari stasiun kereta menuju pangkalan bis antar kota yang akan membawa kami ke Tanjung. Sebenarnya kami bisa menyewa mobil carteran seperti taxi untuk sampai ke Tanjung, namun harganya relatif cukup mahal sekitar 200rb rupiah untuk sekali jalan. Perjalanan dengan becak yang kami tempuh tergolong jauh ditambah udara terik yang serasa menusuk kulit, membuat perjalanan ini terasa sangat melelahkan. Well, kasihan abang becaknya juga, udah mana panas, jauh lagi. Akhirnya mama kepikiran untuk membelikan abang becaknya minuman dingin di mini market terdekat selain membayar tarif 25rb rupiah untuk dua becak.

Selepas perjalanan dengan becak itu, kami melanjutkan dengan bis antar kota yang tujuan akhirnya adalah Semarang. Abang becak yang kami naiki sempat bertanya apakah kami ingin naik bis AC atau bis biasa. Dia pun menyarankan agar kami naik bis AC. Sempet kepikiran mungkin si tukang becak memang sudah bekerja sama dengan supir bis tersebut. Hal ini semakin kuat ketika beberapa penumpang mulai kasak-kusuk karena tarif bis yang kami naiki ini bisa berbeda-beda. Bahkan untuk yang tujuannya lebih jauh dari kami bisa membayar lebih murah daripada kami. Whew! That’s why aku bilang transport system di Indo masih jauh dari negara-negara laen. Selain masalah tarif yang berebda-beda itu, bis ini juga sering banget ngetem di untuk menaiki penumpang. Satu-satunya “hiburan” yang ada di bis ini adalah TV yang memutarkan video klip lagu-lagu Indonesia dengan tema religi. Aku tida begitu menonton tv itu karena aku sempat tertidur sampai akhirnya sampai di tempat tujuan. Namun, sebelum tidur, aku sempat mendengar ada lagu Fatin dan lagu Indonesia Jaya milik Hanura yang sering diputar ketika masa kampanye kemarin. Yang menarik dari lagu Hanura adalah ternyata lagu yang populer di masa kampanye ketika itu berusaha untuk masuk ke masyarakat kecil di seluruh pelosok Indonesia melalui bis-bis seperti ini. Aku yakin ini tidak hanya diputar di satu bis saja, tapi di bis-bis lain yang serupa.

Kurang lebih satu jam kami akhirnya sampai di Tanjung, dan dengan seketika aku langsung tertidur sampai jam 3 sore. Really a sleepy day!! Hari itu pun aku tutup dengan kondangan di Cirebon lagi. Pesta pernikahan dengan tema orange nuansa Jakarta. Also the Bride and Groom really looks so lovely.

Pagi-paginya Aku harus terbangun pagi sekali untuk mengejar kererta yang lagi-lagi jam setengah 7-an. Menuju stasiun Tanjung yang hanya berjarak beberapa meter dari rumah dengan becak. Semilir angin segar yang bertiup menyentuh muka yang masih setengah mengantuk selama naik becak itu rasanya benar-benar tak bisa terdeskripsikan. Seger.. seger gimana gitu. Sesuatu yang gak mungkin bisa dirasain di Jakarta. Sesuatu yang gak mungkin bisa dibeli pake uang (meskipun naik becak tetap musti bayar).

Really an unexpected trip!

Wishing to have another unexpected trip. ^^

Good Bye to them who touching others’ people life

People come and go as long as life goes on.

Tidak ada pesta yang tidak bubar.

Ada pertemuan, ada perpisahan.

Well, setidaknya quotes2 seperti itu lah yang paling sesuai untuk menenangkan situasi keluarga papaku. Kepergian dua orang yang cukup mengejutkan kami karena penyakit mereka. Seorang sepupu yang selama ini mungkin jarang aku temui namun sering aku dengar ceritanya. Seorang lagi adalah Kuku (cici dari papa) yang paling dituakan, dan paling perhatian pada adik-adiknya.

Sosok mereka yang aku kenal selama ini bukan bearti tanpa cela, ada kalanya mereka berbuat sesuatu yang tidak menyenangkan pihak lain, namun tidak sedikit pula tindakan mereka yang sangat menyentuh pihak lain, terutama keluarga kami.

Kepergian mereka mengajarkan aku banyak hal. Bahwa keajaiban itu ada dimanapun selama kita dapat mempercayainya. Bahwa keajaiban itu kadang kala tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan. Begitu juga dengan bagaimana cara mereka memaknai hidup mereka masing-masing. Bagaimana hal kecil yang mereka lakukan bisa menjadi begitu bermakna untuk orang lain.

Yang pasti hidup itu mungkin singkat, mungkin lama, tugas kita hanyalah berusaha sebaik-baiknya menjalani hidup ini.

21.08.2014

One of hystorical moments for me also for Indonesia.

Setelah kurang lebih dua bulan berkutat pada sebuah perkara yang tidak mudah. “Penjahat” yang menyamar jadi “Pahlawan” setidaknya orang2 ini mempercayai dirinya adalah pahlawan meskipun mungkin orang2 lain tidak memandang begitu.

Hari ini semua kepelikan itu berakhir, sebuah keadilan yang didasari kebijaksanaan pada akhirnya berhasil menang dalam sebuah pengadilan. Hal yang tidak mudah bagiku karena aku menjadi bagian dari proses ini dan menjadi salah satu juru kunci dari proses ini. Bukan hanya sekedar penonton setia ataupun tim pencgembira. Itulah yang terjadi di kantor, hal yang membuatku lupa sesaat dengan situasi politik di luar sana yang sedang memanas.

Terima kasih Tuhan untuk sebuah pelajaran berharga di hari ini. Sebuah pelajaran 

tentang kejujuran, dan sikap berani mengakui kesalahan/kekalahan.

 

 

Mental Health in daily live

Hollywood lagi-lagi kehilangan aktor besar-nya. Robbin Williams, komedian yang dalam setiap filmnya selalu memberi inspirasi bagi para penontonnya. Jujur saja, detik pertama aku mendengar kabar ini, aku hanya mengingat satu filmnya yang berjudul Old Dogs sampai akhirnya aku melihat postingan teman-temanku di media sosial dan find out kalau ada beberapa film dia yang juga aku nonton.

Yah mungkin film ini begitu berkesan buatku, berkesan karena film itu aku tonton di masa keemasan genk midnite. Genk midnite yang masih sering midnite, genk midnite yang masih sering berkeliaran di daerah Gading. Ketika itu kami memutuskan menonton film ini setelah melihat tayangan trailernya di bioskop saat kami menonton film yang lain. Kami tertarik dengan adegan Robbin Williams mengendong Gorila seperti bayi dan memutuskan untuk menonton film ini. Akhirnya kami pun menonton ini di weekend pertama film ini tayang di bioskop. Aku masih ingat, ketika itu bioskop sangat ramai bahkan ada pasangan muda yang membawa bayi mereka. Keramaian ini pun tidak berhenti di dalam ruangan, film ini berhasil mengundang tawa penonton mulai dari awal film dan tidak berhenti sampai akhir film.

Meskipun aku lupa dengan cerita film itu sekarang, meskipun aku hanya ingat adegan Gorila itu dan tawa penonton yang tidak berhenti tetapi buatku saat itu film ini sangat menarik. Menarik karena tidak hanya bisa mengundang tawa tapi juga karena banyak pelajaran-pelajaran hidup yang bisa dipetik. Pelajaran hidup seperti yang juga ada di film lain yang kembali bermunculan di media sosial sesaat setelah berita ia meninggal.

Tapi satu hal yang paling penting dari kejadian ini adalah orang yang sepanjang hidupnya berusaha untuk menghibur orang lain dan bahkan menjadi seorang komedian justru malah mengakhiri hidupnya karena bunuh diri akibat depresi yang dialaminya. Ssebuah kejadian yang menyadarkan banyak orang bahwa kesehatan mental itu juga sama pentingnya dengan kesehatan fisik.

Di Indonesia, berita meninggalnya Robbin WIlliams ini dibarengi dengan berita Marshanda yang mengalami bipolar (gangguan kejiwaan yang berdampak pada mood). Well, 2 Hot Topic ini pun akhirnya membuat para pemerhati kesehatan mental untuk berkampanye bahwa setiap orang rentan terhadap masalah ini, dan setiap orang harus aware terhadap masalah ini dan tidak sungkan untuk meminta pertolongan pada orang lain jika ada yang dianggap tidak beres dari kejiwaan mereka maupun orang di sekitar mereka.

RIP Robbin Williams, You’ll be missed ^^

Kerja itu..

Kerja itu ibadah

Kerja itu bukan untuk cari duit, apalagi cari muka.

Karena dengan kita menganggap kerja sebagai ibadah maka kerja kita akan fokus dan semangat yang pada akhirnya duit itu akan datang dengan sendirinya. Begitu pula dengan muka, setiap orang sudah punya muka, untuk apa lagi cari muka. Muka kita pun akan terlihat dengan jelas ketika hasil kerja kita memuaskan atasan kita.

Akhir-akhir ini ada banyak kejadian yang membukakan mataku bahwa setiap orang memberi arti tersendiri terhadap kerja mereka. Sejak dulu pun aku sudah paham akan hal ini, namun 1-2 bulan terakhir ini semuanya semakin jelas.

Kerja itu bukan untuk cari kesenangan.

Kerja itu bukan untuk saling menjatuhkan.

Kerja itu untuk menghidupi apa yang seharusnya kita hidupi, keluarga, passion, dan lainnya.

Selamat bekerja, selamat mencari hidup.

Lebaran Holiday = Family Day

Libur lebaran kali ini, aku membagi waktuku tidak seperti biasanya.  Biasanya aku berusaha untuk adil antara keluarga dan teman-temanku karena biasanya hanya libur lebaran inilah kami bisa  berkumpul semua.

Beberapa rencana yang aku susun mendadak harus batal karena satu dan lain hal. Lucunya malah ada banyak aktivitas dadakan bersama saudara-saudaraku dari mama. Well, aku memang sangat jarang kumpul dengan saudara mama karena tidak semuanya ada di Jakarta. Jangankan dengan yang di luar Jakarta, sesama yang di Jakarta saja kami jarang ketemu. Makanya kesempatan bertemu di libur kali ini jadi barang langka buatku.  Aku pun rela menukar waktu berkumpul dengan teman-teman untuk bis menghabiskan waktu dengan saudara-saudaraku ini. Aku senang bisa mengenal lagi mereka yang sekarang. Mereka yang bukan lagi anak SD atau anak TK yang selama ini selalu ada dalam bayanganku meskipun aku tau umur mereka bertambah terus sama seperti aku. Mereka pun tentunya sudah masuk ke masa-masa yang pernah aku alami ketika aku seumur mereka.

Pertemuan di liburan kali ini sedikit “menamparku” bahwa yang namanya waktu itu terus bergulir, usia bertambah setahun demi setahun. Kita pun harus bisa mengisinya dengan hal-hal berharga. Hal-hal yang nantinya tidak membuat kita kecewa karena sudah/tidak melakukannya.

The Feeling of Giving

Sehubungan dengan Bulan Ramadhan yang hampir habis ini, ada beberapa hal yang aku sadari tentang memberi. Hampir setiap orang muslim percaya kalau bulan Ramadhan ini adalah bulan yang suci dimana segala perbuatan baik kita dilipatgandakan oleh Yang Di Atas. Untuk itulah mereka juga percaya kalau doa orang-orang yang puasa itu biasanya manjur. Kurang lebih setahun yang lalu, aku dan teman-teman magangku di UT merayakan pencapaian kami masing-masing dengan berbagi bersama teman-teman panti asuhan. Ide ini datang dari teman muslim kami mengingat ketika itu bertepatan dengan bulan Ramadhan. Sayang sekali tahun kemarin aku hanya bisa berpartisipasi dari segi dana karena waktunya berbarengan dengan acara keluargaku yang lain. 

Acara ini pun berlanjut di tahun ini dan aku berkesempatan untuk berpartisipasi datang ke panti. Aku sering mendengar ungkapan yang menyebutkan jika kita berdana tanpa melihat orang yang kita santuni rasanya akan berbeda dibandingkan kita berinteraksi langsung dengan mereka. Hal yang sama juga aku baca di salah satu novel yang menceritakan tentang seorang eksekutif muda yang sedang mencari makna hidupnya. Hal ini pulalah yang aku rasakan, melihat senyum anak-anak panti asuhan tersebut ketika menyambut kedatangan kami dan melihat semangat mereka ketika bermain bersama kami, membuat aku teringat bahwa aku pun harus bisa tetap tersenyum seperti mereka atas setiap berkat yang aku terima. Ada rasa yang berbeda yang aku alami ketika melihat senyum mereka atas pemberian kami. Dan ada pula rasa syukur lain yang aku rasakan, aku bersyukur bisa berbagi dan mellihat senyum mereka. 

Perasaan yang sama yang aku rasakan ketika minggu kemarin aku dan teman-teman memberi hadiah perpisahan untuk salah satu teman kami yang resigned dari kantor. Ia sangat senang dengan pemberian kami karena barang yang kami berikan itu sangat cocok untuknya, intinya ia terharu dengan pemberian kami. “Very cute, very useful” katanya. 

Well, ada dua persamaan dari pemberian di atas, kami memberi tanpa mengharapkan apa-apa. Kami memberi dengan niat berbagi, berbagi rezeki yang sudah kami terima, berbagi kebahagiaan dengan mereka, dan berbagi sebagai wujud terima kasih. Mungkin masih ada berbagai perasaan lain yang dirasakan oleh teman-temanku ketika mereka memiliki kesempatan untuk memberi dan aku yakin perasaan itu membawa kebahagiaan untuk mereka. Karena ketika kita memberi, sebenarnya kita sedang mensyukuri apa yang kita miliki.

 

Terima kasih untuk hari yang panjang ini, terima kasih untuk hari yang membuat aku merasakan lagi kegiatan di panti asuhan. 

Semoga semua niat baik dan ketulusan kami menuntun kami pada keajaiban-keajaiban yang lain. Semoga juga mereka yang menerima pemberian kami hari ini dapat menjalani kehidupannya menjadi lebih bermanfaat tidak hanya untuk mereka sendiri tetapi untuk sekeliling mereka. ^^